Sejarah TuhanJudul Buku: Sejarah Tuhan

Penulis: Karen Armstrong

Penerbit:Mizan

Cetakan: VII, 2004

Tebal: 581Halaman

Harga: 99.500

Tuhan yang satu, tidak terjangkau oleh pikiran manusia namun Dia dipersepsikan secara berbeda-beda oleh kelompok manusia sepanjang sejarah. Tak jarang kita temukan, atas nama Tuhan, sebuah kejahatan dianggap sah untuk dilakukan. Lihatlah apa yang terjadi hari ini. Sekelompok manusia haus darah, dengan beringas membantai manusia lainnya sambil meneriakkan Tuhan.

Karen Armstrong, seorang penulis dan penggagas Charter of Compassion merekam dengan lugas sejarah tentang Tuhan. Dalam buku ini, berawal dari masa Nabi Ibrahim as, sekitar abad keduapuluh SM, ketika monotheisme untuk pertama kali lahir di tengah agama kesukuan kaum pagan. Karen lantas melacak bagaimana ide tentang Tuhan bertumbuh, berubah, dan saling mempengaruhi dalam tradisi Yahudi, Kristen dan Islam, melintasi berbagai fase sejarah hingga akhir abad ke duapuluh.

Berbagai kisah, mulai dari kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan Ur dan akhirnya menetap di Kanaan, kisah Yesus yang masuk ke Yerusalem dan dielu-elukan sebagai anak Daud, hingga kisah munculnya dua golongan besar dalam Islam, yaitu Sunni dan Syiah – yang terjadi pasca wafatnya Nabi, dirangkum dengan sangat apik dalam buku ini. Sebenarnya, apa tujuan Karen, yang merupakan mantan biarawati, begitu tertarik mempelajari sejarah agama-agama di dunia, terutama Islam?

“Terhadap Islam, khususnya, media sering bersikap sangat kasar. Terutama media Barat. Sementara orang-orang Barat bisa menyambut dengan baik agama Hindu dan Budha, mereka masih saja menunjukkan kebenciannya terhadap Islam. Sikap permusuhan ini telah begitu merasuk dalam kehidupan Barat. Ini dirunut kembali ke masa Prang Salib, suatu masa ketika Barat mulai menemukan jati dirinya pada abad ke-11 dan ke-12. Perang Salib telah membantai ribuan orang-orang Yahudi dan Muslim, dan sejak saat itu, Yahudi dan Muslim dipandang sebagai musuh peradaban yang bermoral,” tulisnya.

“Ya, pandangan kita tentang anti-Semitisme memang berubah selama Perang Dunia II, tetapi Islam masih terus dipandang secara stereotip. Barat terus memendam prasangka terhadap Islam. Mereka mengatakan pada hakekatnya Islam adalah agama kekerasan yang disebarluaskan dengan pedang. Itulah mitos dipropagandakan ketika orang-orang Kristen di Barat memaklumkan perang suci yang tidak beralasan, brutal dan kasar terhadap orang-orang Muslim di Timur Dekat. Potret stereotif sering lahir dari kecemasan tersembunyi terhadap perilaku Barat itu sendiri, yang kemudian dialihkan kepada Islam. Pada abad pertengahan, Barat mencela kaum Muslim karena memberi terlalu banyak kemerdekaan kepada kaum perempuan. Kini, orang-orang Barat berusaha membebaskandiri dari kekangan masa lalu Kristen, dan membalik stereotip lama itu,” tambah dia.

“Memang pada kenyataannya Islam memiliki catatan yang lebih baik dalam hal toleransi dibandingkan dengan Kristen Barat. Islam selalu mampu mengakomodasi tradisi agama lain. Al-Qur’an merupakan dokumen yang pluralistik. Nabi Muhammad Saw, tidak pernah mengajak orang Yahudi atau Kristen untuk masuk Islam, kecuali ketika mereka sendiri menghendakinya. Saya, melalui buku ini ingin menunjukkan bahwa egalitarianisme, spritual yang mendalam, dan kepedulian kepada keadilan sosial, merupakan tujuan tertinggi dalam spiritualitas Islam. Al-Qur’an tidak banyak bicara tentang doktrin seperti trinitas atau reinkarnasi. Al-Qur’an tidak mengajak pada spekulasi teologis. Di sisi lain, Anda tidak bisa hanya berhenti menunjukkan minat terhadap Islam. Anda juga berhadapan pada realitas politik dan sejarahnya. Mengkaji hubungan timbal balik antara keyakinan dan praktik keagamaan, yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh keyakinan dan praktik politik…” (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL