mereka memalsukan kitab

Judul Buku: Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik

Penulis: Syaikh Idraham

Penerbit: PT Lkis Printing Cemerlang

Cetakan: XV, 2013

Tebal: 306 Halaman

Harga: Rp. 65.000,-

“Buku ini penting! Itulah kesan pertama saya setelah membaca buku ini. Anda tidak akan merugi jika tidak memiliki buku langka ini. Karena pengetahuan yang ada di dalamnya sangat berharga. Saya merekomendasikan Anda memilki buku ini,” komentar Prof. Dr. KH Hamdani Anwar M.A., Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta.

Mengapa buku ini begitu penting dan wajib dimiliki oleh setiap kaum Muslimin? Tak lain karena penulisnya, Syaikh Idraham, menemukan berbagai kasus penyelewengan yang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi, dalam hal amanah ilmiah.

Mereka melakukan pembakaran dan pemusnahan buku, sengaja meringkas, mentahkik, dan mentakhrij kitab-kitab hadits dalam jumlah besar, untuk menyembunyikan hadits-hadits yang tidak mereka sukai, menghilangkan hadits-hadits tertentu yang tidak sesuai dengan paham mereka, memotong dan mencuplik pendapat para ulama untuk kemudian diselewengkan, mengarang hadis dan pendapat ulama, memerintahkan ulama mereka untuk menulis buku, namun kemudian buku tersebut dinyatakan sebagai karya orang lain, melakukan tindakan intimidasi dan provokasi melalui buku, membeli manuskrip, menyogok penerbit, sampai kepada pencurian buku-buku induk dan manuskrip untuk dihilangkan sebagian isinya, atau dimusnahkan semuanya. Mengerikan !

Ulama-ulama terkemuka di Timur Tengah, seperti Syaikh Ali Jum’ah, Asy Syahid Syaikh al-Buthi, Sayyid Ahmad al-Ghimari, dan ulama-ulama lainnya membenarkan adanya kasus penyelewengan yang dilakukan oleh Salafi Wahabi. Mengapa mereka melakukan ini? (Hal 24-25)

Salah satu contoh pemalsuan yang dilakukan terdapat dalam Kitab Diwan Imam asy-Syafi’i. Salafi Wahabi menghilangkan nasehat Imam Syafi’i yang berbunyi;

“Jadilah ahli fiqih dan sufi sekaligus, jangan hanya salah satunya. Sungguh demi Allah, saya benar-benar ingin memberi nasehat kepadamu…

Orang yang ini (hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tak mau menjalani tasawuf), maka hatinya keras dan tidak dapat merasakan lezatnya taqwa. Sebaliknya orang yang itu (hanya menjalani tasawuf tapi tak mau mempelajari ilmu fiqih, maka ia akan menjadi bodoh, sehingga bagaimana mungkin ia bisa benar?”

Namun wasiat dari Imam Syafi’i diatas, tidak ditemukan dalam E-book yang diterbitkan oleh Salafi Wahabi.

“Jika Anda baca hasil downlooad buku ini di almeshkat.com, maka nasehat Imam Syafi’i tentang sufisme yang terdapat dalam versi cetak, tidak akan ditemukan dalam versi E-book – raib entah kemana bagai ditelan bumi,” tulis Syaikh Idraham. (Hal 86-87)

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU juga turut memberikan kata pengantar dalam buku ini. Ia menyatakan ada tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh setiap orang, yaitu; toleran, moderat, dan akomodatif. Bagi seorang Muslim, keimanan yang hanya dibalut dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang telah beriman harus disempurnakan dengan amal ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji.

Menurutnya, memakai sorban, berjenggot panjang, dan bercelana di atas tumit adalah hal yang bagus. Tapi hal-hal yang simbolik itu tidak cukup untuk mempresentasikan bahwa ia telah mengamalkan ajaran Islam. Agama Islam adalah agama sempurna, bukan agama perusak.

Di bagian akhir, Syaikh Idraham menyinggung tentang keberadaan pengikut Salafi Wahabi di Somalia, yang tergabung dalam Harakah Al- Syabab. Mereka melakukan penyerangan kepada kaum Muslimin yang sedang mengadakan maulid Nabi Muhammad Saw, karena dianggap telah melakukan bid’ah dan kemusryikan. Lihatlah, Salafi Wahabi membunuh, membasmi kelompok lain yang tidak sepaham – dan mengklaim kekejamannya itu untuk menjaga kesucian agama Islam. Nauzubillah…

Karena itulah, mari bersama-sama kita bentengi diri dan keluarga dari paham Salafi Wahabi. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL