COVER-Rezeki-Itu-MisteriJudul Buku: Rezeki Itu Misteri, Mati Itu Pasti

Penulis: Ali Akbar

Penerbit: Mizania

Cetakan: I, 2013

Tebal: 200 Halaman

Berawal dari impian yang kandas akibat maut menjemput sang sahabat, Ali Akbar, penulis yang juga pakar SEO ini, akhirnya menemukan makna baru kehidupan. Ia menyatakan, bahwa saat dirinya lebih mempersiapkan bekal kematian, saat itulah hidupnya justru dalam keberlimpahan.

Dalam pemaparannya yang ringan dan mudah dicerna, penulis mengungkapkan ada lima rumus bahagia dunia akhirat, yaitu; kesiapan, keberuntungan, kemenangan, kedamaian, ketenangan. Penjelasan detailnya, bisa disimak dari halaman 6-16.

Anda penggemar kulliah Twitter (kultwit)? Siap-siap Anda akan dibawa ke dalam dunia kulwit yang ciamik dan menarik. Tidak kurang dari 25 rangkaian kultwit menjadi penghias sekaligus penyegar dalam buku ini, sehingga dijamin, pembaca tidak akan merasakan bosan. Seperti umumnya kulwit, rangkaian kalimat yang dipilih juga sangat singkat padat, namun sarat pesan, sekaligus menohok.

24/40. Kenapa saya susah memafkan? Karena kamu merasa lebih baik daripada orang yang bersalah. Padahal,s ebaik-baik orang adalah yang paling taqwa.

36/40. Saya lebih sering susah ketimbang senang. Karena kamu selalu mengingat dunia saat bangun tidur, coba ingat akhirat, deh.

40/40. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baik bekal di dunia adalah taqwa, sebaik-baik rezeki adalah bersyukur. (Serial kultwit hal 76-82)

Membaca halaman demi halaman, hati pun menjerit. Berbagai persoalan yang disingkap penulis, mungkin sangat sering terjadi dalam keseharian kita. Contoh saja tentang shalat. Sebagai tiang agama, seharusnya shalat yang utama. Tapi apa yang kita buat? Seringkali kita tidak shalat di awal waktu. Seringkali shalat kita terburu-buru. Seusai shalat, langsung berdiri tanpa berdo’a terlebih dahulu.

Berkali-kali penulis menekankan, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. Pasti datangnya, dan semua manusia pasti akan mengalaminya. Sementara rezeki, adalah sesuatu yang masih misteri. Kematian itu pasti datang, kapanpun dan dimanapun kita berada. Ia tak membeda-bedakan siapa yang akan dijemputnya. Saat giliran kita tiba, tak ada tempat untuk berlari. Sedangkan rezeki itu selalu penuh misteri; ia benar adanya dari arah yang tidak kita duga. Hanya Allah Yang Maha Menentukan kadar rezeki kita. Jadi, haruskah kita menghabiskan waktu untuk mengejar sesuatu yang masih misteri, hingga lalai dari menyiapkan bekal menuju yang pasti?

Di bagian akhir, penulis penyinggung tentang jiwa yang tenang. Menurut dia, salah satu ciri dari seseorang yang berjiwa yang tenang adalah ia memiliki sifat memafkan. Tidak ada dendam dalam hatinya. Jiwanya selalu ingin memaafkan, meski untuk kesalahan-kesalahan besar. Dalam perilaku dan perangainya ada kemuliaan dan kelapangan, memafkan bukan memusuhi, mendamaikan bukan mempermasalahkan.

Lebih lanjut penulis menjelaskan, tak ada lagi tujuan dan orientasi hidup bagi seorang Muslim, kecuali hanya untuk menggapai ridho-Nya. Keimanan kita merupakan penegasan bahwa tak ada sesuatu pun yang berhak menjadi tumpuan dan tempat kita bergantung kecuali Allah.

Sekali lagi, mati itu pasti, sedangkan sepasti-pastinya rezeki masih menjadi misteri. Ingatlah kematian agar kita lebih terampil untuk menghiasi diri dengan kemuliaan. Ingatlah kematian agar kita pintar menata hati dengan ketaqwaan. Ingatlah kematian agar kita lebih pandai mengisi jiwa dengan ketawadhuan.

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah:8)

(ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL