LiputanIslam.com — Sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia kerap kali menjadi isu hangat. Pada tahun 2013 lalu, banyak pihak yang kebakaran jenggot ketika Rusia memutuskan untuk memasok S-300 ke Suriah yang tengah berkonflik. Namun saat itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan pasokan senjata tersebut, karena hal itu berdasarkan atas kesepakatan dua negara.

Beberapa tahun sebelumnya, S-300 juga menjadi topik panas ketika Rusia sepakat untuk menjualnya kepada Iran. Seperti diketahui, kontrak untuk memasok sistem S-300 ke Iran telah ditandatangani pada tahun 2007 senilai 800 juta USD, namun pada tahun 2010, kontrak ditunda karena adanya sanksi PBB. Atas penundaan ini, Iran menggugat Rosoboronexport, perusahaan Rusia yang memproduksi S-300 ke pengadilan arbitrase Jenewa. Namun hari ini, larangan itu telah dicabut, sebagaimana laporan Rusia Today, 13 April 2015.

“Presiden Rusia telah mencabut larangan atas pengiriman sistem pertahanan udara S-300 ke Iran, sebagaimana dirilis siaran pers Kremlin. Keputusan ini telah ditandatangani oleh Presiden.”

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengomentari keputusan tersebut, mengatakan bahwa embargo atas sistem S-300 tidak diperlukan lagi, menyusul adanya kemajuan signifikan dalam perundingan nuklir Iran di Lausanne. Dia menambahkan bahwa dalam tinjauan terkini di Timur Tengah, sistem pertahanan udara modern sangat penting untuk Iran.

Setelah bertahun-tahun negosiasi, pada bulan Februari 2015, Rusia menawarkan sistem anti-pesawat Antey-2500 terbaru sebagai ganti atas S-300 yang tertunda. Saat itu, Iran menananggapi bahwa pihaknya akan mempertimbangkan. Namun dengan pencabutan larangan ini, bisa dipastikan bahwa Iran akan segera mendapatkan haknya untuk memiliki S-300 sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat.

Ada apa dengan S-300, sehingga selalu menjadi topik panas?

Rudal ini memiliki jangkauan hingga 200 kilometer (125 mil) dan mempunyai kemampuan untuk melacak dan menyerang beberapa sasaran secara bersamaan dengan presisi yang mematikan. Para pejabat Rusia mengatakan S-300 juga mampu menembak jatuh hulu ledak rudal balistik jarak pendek dan menengah. Rusia bahkan menegaskan bahwa S-300 lebih unggul dibandingkan dengan sistem rudal Patriot buatan Amerika Serikat. Presiden Rusia, Vladimir Putin menggambarkan S-300, “Mungkin senjata tersebut terbaik di dunia.”

Teknologi perang peralatan tempur buatan Rusia yang semakin canggih, bahkan tidak menutup kemungkinan mampu mengungguli peralatan perang buatan Barat. Oleh karena itu kombinasi kepemilikan sistem pertahanan udara, darat, dan laut yang berada di suatu negara, dianggap menjadi ‘pagar’ yang sulit ditembus. Iran, adalah musuh bebuyutan AS dan Israel yang kerap dimata-matai dan diancam akan diserang. Jika Iran memiliki berbagai sistem pertahanan canggih, mau tak mau, musuh-musuh Iran harus berhitung ulang. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL