buku gus durJudul Buku: Mengurai Dunia Spiritual Gus Dur

Penulis: Handri Raharjo

Penerbit: Citra Media

Tahun Terbit: 2010

Tebal: 110 halaman

Sebenarnya buku ini terbitan 2010, sudah lama dan mungkin sulit ditemukan di toko buku. Saya baru beberapa hari yang lalu menemukannya di tumpukan buku obral di Gramedia. Sudah lama saya mendengar cerita-cerita orang tentang kemampuan supranatural Gus Dur, bahkan ada yang menyebut beliau sebagai Wali. Rasa penasaran membuat saya membeli buku ini, hanya seharga Rp10.000. Apalagi ada kutipan perkataan Cak Nur (alm. Nurkholis Madjid) yang tertera di cover, “Hal yang misterius dan hanya Allah yang tahu, selain jodoh, maut, dan rejeki, adalah Gus Dur.”

Buku diawali dengan 24 halaman biografi Gus Dur. Selanjutnya, dibahas tentang pengertian Wali dan Karomah. Penulis buku ini mengutip perkataan KH Hasyim Asy’ari (kakeknya Gus Dur): Seorang yang disebut wali tidak akan memamerkan diri meskipun dipaksa membakar diri mereka… Seseorang yang mengabarkan dirinya itu wali Allah swt, orang tersebut bukanlah wali sesungguhnya… Barangsiapa mengaku dirinya wali, tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW, maka orang tersebut adalah pendusta…

Di buku ini tidak disebutkan apakah Gus Dur memang benar-benar Wali atau bukan (dan Gus Dur pun tentu saja tidak pernah mengaku diri sebagai Wali). Namun, ada beberapa kejadian ‘misterius’ yang disaksikan oleh para sahabat Gus Dur atau orang-orang yang pernah berinteraksi dengan beliau. Antara lain, inilah kisah-kisahnya:

Kisah Bertemu Wali di Madinah

KH Said Agil Siraj saat bersama Gus Dur di Madinah, diajak Gus Dur berjalan-jalan untuk mencari seorang wali. Setelah berjalan jauh dari masjid ke masjid, akhirnya Gus Dur menghentikan langkah di dekat seseorang yang memakai surban kecil biasa, duduk di atas sajadah. Gus Dur berkata, “Ini adalah wali.”

Kiai Agil kemudian memperkenalkan Gus Dur kepada lelaki itu, “Syaikh, ini saya perkenalkan, namanya ustad Abdurrahman Wahid, Ketua Organisasi Islam terbesar di Asia.”

Gus Dur kemudian minta didoakan oleh lelaki tersebut. Dia pun mendoakan Gus Dur. Kemudian, dia pergi sambil menyeret sajadahnya dan berkata, “Ya Rabbi, ma dzanbi hatta tu’arrifuni (Ya Tuhanku, apa dosaku sehingga ada orang yang mengetahui kedudukanku?)”

Konon ada ‘kaidah’ bahwa kewalian hanya diketahui oleh diri sendiri, sesama wali, dan Allah (la ya’riful waliu illal waliy). Nah, silahkan mengambil kesimpulan sendiri.

Kisah Mahfud MD

Mahfud MD, mantan Ketua MK, dan mantan Menteri Pertahanan pada Kabinet Gus Dur, pernah bertutur bahwa ada kejadian misterius yang dialaminya. Suatu saat, dalam sebuah rapat di Yogyakarta, Mahfud menyampaikan bahwa dia akan mundur jadi menteri. Gara-garanya, dia menerima hujatan yang luar biasa padahal baru saja menjalankan tugas sebagai Menhan. Hanya selang beberapa menit setelah Mahfud mengeluarkan kata-kata ‘akan berhenti’ itu, Gus Dur menelpon, “Pak Mahfud jangan mundur.”

Mahfud MD mengaku tercengang, darimana Gus Dur tahu bahwa ia akan mundur?

Kisah Marsillam Simanjuntak

Pada pertengahan 1999, kelompok Forum Demokrasi (Fordem) mengadakan rapat untuk menggeser Gus Dur dari jabatan ketua, karena Gus Dur sudah sibuk dengan PKB. Saat rapat, justru Gus Dur duluan yang menyatakan akan mundur dari Ketua Fordem dan berkata, “Lagipula kemarin saya didatangi mbah Hasyim [KH Hasyim Asy’ari] yang memberi tahu bahwa bulan Oktober ini saya akan jadi Presiden.”

Pernyataan Gus Dur ini sempat dianggap gurauan, karena saat itu nama beliau belum muncul sebagai Capres, bahkan Poros Tengah pun belum lahir. Ternyata, benar saja, pada Oktober 1999, Gus Dur memang diangkat jadi Presiden.

Kisah tentang KPU

Pada tahun 2004, Gus Dur diputuskan tidak boleh mencalonkan diri sebagai presiden oleh KPU. Keputusan ini jelas menimbulkan protes keras dari para pendukung Gus Dur. Acara pengumuman penetapan capres dan cawapres saat itu berlangsung dalam suasana yang agak tegang, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Menurut laporan suaramerdeka.com, di dalam ruangan, ketegangan terlihat dari wajah-wajah anggota KPU, termasuk Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin dan Ketua Pokja Penelitian Anas Urbaningrum. Di luar, wajah-wajah tegang diperlihatkan oleh para pengunjuk rasa dan petugas yang melakukan pengamanan. Pengamanan pun sangat ketat demi menghindari aksi unjuk rasa yang tidak diinginkan.

Selain mengajukan tuntutan sebesar 1 Triliun kepada KPU, Gus Dur dikabarkan juga melontarkan kalimat, “Lihat saja nanti kalau sudah pakai seragam biru.”

Ternyata di kemudian hari, beberapa anggota KPU, termasuk ketuanya, masuk penjara. (Fatma/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL