menampar-propaganda-kembali-kepada-qur-anJudul : Menampar Propaganda ‘Kembali kepada Al Quran’ : Keruntuhan Argumentasi Paham Anti Mazhab dan Anti Taqlid

Penulis : Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi

Penerbit: Pustaka Pesantren

Tahun Terbit: 2013

Tebal: 220 halaman

 

Buku ini merupakan tanggapan ilmiah (namun ditulis dengan gaya bahasa yang populer, sehingga mudah dipahami) atas seruan sebagian orang untuk ‘meninggalkan mazhab’ dan ‘menolak taklid pada salah satu imam’. Buku ini menangkis tuduhan bid’ah dan sesat yang sering dialamatkan kaum Salafi kepada umat Islam yang menganut mazhab. Kaum Salafi menyebarkan jargon, ‘kembalilah kepada Al Quran‘ dan menyeru agar umat melepaskan diri dari mazhab.

Syekh Buthi adalah ulama kelahiran Turki. Pada usia 4 tahun, bersama ayahnya, ia hijrah ke Damaskus. Pendidikan S1, S2, S3-nya diselesaikan di Universitas Al Azhar, Kairo, dan menjadi Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus. Beliau dikenal sebagai pemikir Islam yang mmepertahankan manhaj AhlusSunnah wal Jamaah.  Karena kegigihannya membela pemikiran Ahlussunnah, beliau banyak mendapat penentangan keras dari aliran-aliran Islam lainnya, terutama dari kaum Salafi.  Pada konflik Suriah yang dimulai tahun 2011, beliau menolak mendukung pemberontak Suriah (yang didominasi kaum Salafi-Wahabi) dan menyebut mereka telah mengikuti fatwa yang salah. Akibatnya, beliau gugur syahid akibat ledakan bom bunuh diri yang dilakukan teroris, di saat beliau sedang memberikan ceramah.

Dalam buku ini, pembaca akan tahu bagaimana pola pikir kaum Salafi dalam beradu argumen dengan pihak yang berbeda pendapat dengan mereka, karena buku ini antara lain ‘merekam’ adu argumen antara Syekh Buthi dengan Syekh Nashiruddin Al Albani (tokoh Salafi-Wahabi)

Pada hal 138, Syekh Buthi menulis sub bab “Apa yang Akan Terjadi Kalau Semua Orang Terjerumus ke Dalam Paham Anti-Mazhab?”. Di sini beliau memberi analogi, apa yang akan terjadi bila dalam sebuah proyek bangunan, para pekerja tidak mengikuti arahan dari insinyur? Tentu saja akan terjadi kekacauan, bahkan bangunan pun mungkin akan runtuh karena masing-masing pekerja ‘berijtihad’ sendiri dan tidak mengikuti petunjuk insinyur yang sudah belajar khusus masalah teknik pembangunan gedung.

Syekh Buthi menulis, “Jika kita berpaling dari khazanah fikih yang ada kepada segolongan orang yang sombong dan berpendapat bahwa ijtihad berlaku untuk semua orang, bangunan fikih yang tadinya sudah berdiri akan hancur..” (hal 140)

“Jika seseorang mengharuskan setiap muslim untuk berijtihad, memahami dalil-dalil dan melepaskan diri dari kitab-kitab yang sebenarnya bisa dijadikan rujukan hukum, atau melepaskan diri dari sikap tetap bertaklid kepada salah satu imam, itu berarti orang tersebut secara eksplisit telah berkata: hukum Allah terhadap problem-problem yang ada tidak lain hanyalah hasil dari pemahaman subjektif!” (hal 140)

Selanjutnya, Syekh Buthi memberikan bukti bahwa merobohkan bangunan fikih yang telah dibangun oleh para imam mujtahid dengan ijma di masa-masa lampau, akan berakibat buruk pada masyarakat Muslim. Misalnya, di Mesir, orang-orang yang tidak memahami hukum Islam dengan benar (bahkan tak paham bahasa Arab dengan baik) dan terpesona oleh pemikiran Eropa, dianggap layak berijtihad; dan mereka pun berijtihad yang berujung pada perubahan undang-undang hukum keluarga/perdata. Contohnya, pembatasan poligami dan hak talak, penyamaan hak waris perempuan dan laki-laki, atau penghalalan bunga bank dengan kadar persen tertentu (hlm 146).

Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi juga memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap buku ini. Ia menyatakan bahwa buku ini sangat jitu untuk melawan Wahabi dan kelompok takfiri. Menurut Hasyim, di dalam buku ini Syekh Buthi memaparkan dengan gamblang bahwa saat memahami Islam, orang itu harus mengunakan pola berfikir. Nah, pola berfikir itu dengan metodologi ijtihad yang tidak bisa hanya diserahkan orang-perorang yang tidak memenuhi syarat untuk itu. KH Muzadi menulis, “Menurut Syekh Buthi, bagi mereka yang melakukan itu samalah artinya dia merusak Islam karena dia akan memelencengkan makna yang sesungguhnya dari Islam itu sendiri.”(www.nu.or.id)

Ala kulli hal, dalam kehidupan ini, memang hampir mustahil tidak bertaklid karena keterbatasan ilmu masing-masing kita. Pasien akan taklid pada dokternya; dia menurut saja meminum obat yang diberi dokter karena yakin bahwa dokter lebih tahu daripada dirinya. Para pelajar sains pun akan taklid pada penemuan para pakar; mereka terima bahwa  jarak matahari-bumi adalah 149 juta km (dalam keadaan mereka sendiri tidak melakukan sendiri pengukuran itu). Lalu mengapa pada agama, kita dianggap salah ketika bertaklid pada ulama yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menelaah kitab-kitab terkait Quran, fikih, hadis?(dw/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*