LiputanIslam.com — Khan Asaad Basha, adalah warisan arsitektur  kuno yang mencerminkan sejarah dan peradaban Islam, yang terletak di Damaskus. Asalnya, bangunan ini adalah sebuah penginapan (Khan dalam bahasa Persia berarti Inn) yang dibangun pada tahun 1751-1753, mengingat Damaskus merupakan tempat strategis yang berada di Jalur Sutra.

Menurut laporan Syrian Arab News Agency, penginapan ini dibangun pada masa kekuasaan Ottoman. Bangunan ini difungsikan untuk membantu para pedagang dan mendukung laju perekonomian. Dibangun dengan menggunakan batu-batu yang tersedia di Damaskus, dan digarap oleh para arsitek beragama Kristen yang berasal dari Allepo.

Sepertinya, sebuah bangunan dikerjakan oleh arsitek Kristen, sementara penguasanya sendiri adalah Muslim, hal ini memiliki pesan tersendiri. Bisa jadi, kehidupan Suriah yang pluralis dan moderat sebagaimana kita saksikan hari ini, merupakan warisan sejarah yang sudah berurat akar dari masa lalu. Tidak salah jika Brad Hoff, mantan Marinir AS, memuji Suriah dengan menyatakan bahwa kebebasan tingkat tinggi  bisa diperoleh kaum minoritas di negara itu.

Hoff, secara pribadi telah menyaksikan berbagai ritual kaum beragama dan etnis minoritas Suriah biasa dilakukan dengan nyaman. Salib bisa dilihat dimana-mana di hampir setiap pusat kota, lantunan pelayanan doa yang disuarakan melalui pengeras suara, bisa didengar dari gereja, berlomba dengan panggilan sholat (adzan) bagi Muslimin yang berkumandang dari masjid terdekat.

Tokoh yang pernah menginap di Khan  Asaad Basha adalah penyair Perancis Alphonse de Lamartine, yang mengunjungi Damaskus pada tahun 1833. Dalam bukunya yang berjudul  “Voyage en Orient”, ia memuji kemegahan arsitektur bangunan ini.

Semoga krisis Suriah segera berlalu, begitu pula halnya dengan krisis di Palestina, Irak, Libya, Nigeria, Mesir, dan berbagai tempat lainnya di seluruh dunia. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL