LiputanIslam.com — Meningkatnya permintaan elektronik, berarti, penambangan timah di Pulau Bangka akan semakin meningkat, dan menghancurkan pulau yang dulu, dikenal sebagai surga tropis.

Anda mungkin tidak pernah mendengar tentang Pulau Bangka. Tetapi, mungkin Anda memiliki gadget kecil di saku Anda. Pulau ini, yang berada di pantai lepas Sumatera, merupakan produsen terbesar komponen timah di dunia, yang dibutuhkan untuk membuat smartphone dan elektronik lainnya. Akibat meroketnya jumlah produksi gadget, maka, produksi timah di Pulau Bangka pun harus ditingkatkan…dan sekali lagi, penambangan ini menghancurkan pulau yang merupakan surga tropis.

Musim gugur yang lalu, fotografer asal Italia Matilde Gattoni, dan seorang wartawan, Matteo Fagotto, melakukan perjalanan ke Bangka untuk mendokumentasikan kehancuran tersebut. “Kami memutuskan untuk meninjau melihat dengan mata kita sendiri degradasi lingkungan. Kami ingin memahami lebih bagaimana cara transaksi jual beli timah, dan bagaimana cara timah diekstrak. Kami pikir, hal itu layak untuk diceritakan,” jelas Fagotto. [Kehancuran Pulau Bangka bisa disaksikan dalam foto di atas]

Sebagian besar pertambangan yang terjadi di Pulau Bangka adalah ilegal. Penambang ilegal menebang hutan tropis, lalu menggali tanah dengan alat sederhana seperti sekop dan kapak. Ketika pihak kepolisian menutup satu lubang, hal itu hanya terjadi sebentar saja. Karena tambang-tambang lainnya akan muncul seminggu kemudian, setelah mereka berhasil menyuap (aparat).

Bahkan, pertambangan lepas pantai juga terjadi pada ponton darurat. Mereka menggunakan tiang bambu untuk mengikis dasar laut, lalu menyelam ke dalam air untuk menyedot timah dari permukaan melalui tabung raksasa. Biasanya, perusahaan besar akan menggunakan kapal pengerukan. Proses ini sangat berbahaya. Lubang-lubang itu bisa saja runtuh, dan, mengubur penambang pasir yang berada di bawah.

“Satu penambang meninggal setiap minggu, namun, penambangan timah merupakan salah satu sektor penunjang ekonomi lokal, dan penduduk setempat tetap melanjutkannya.”

“Mereka bersedia mengambil risiko baik kelangsungan kehidupan mereka, maupun dampaknya terhadap lingkungan hidup; pertambangan telah menghancurkan antara 30% sampai 60% dari terumbu karang di daerah itu, juga menghancurkan pencaharian nelayan setempat,” papar Fagotto.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Fagotto di South China Morning Post, ia mengutip seorang pemilik bisnis lokal, yang berujar, “Orang-orang di sini gila dalam melakukan penambangan. Beberapa keluarga bahkan menghancurkan rumah mereka hanya untuk mencari timah di bawahnya. Anda tidak bisa memisahkan timah dari Bangka. Itu bagian dari budaya, dan penduduk setempat memiliki keyakinan bahwa alam, entah dengan cara bagaimana, akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri.”

Selama dekade terakhir, karena permintaan global untuk ponsel, tablet dan komputer terus berkembang, harga timah pun melonjak empat kali lipat. Seorang penambang bisa menghasilkan sekitar 15 dollar dalam sehari, jauh lebih banyak daripada pekerjaan lainnya.

Selain itu, pertambangan ini juga memiliki sejarah panjang. Di masa lalu, timah menjadi bagian dari ratusan industri lokal, ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Tapi sekarang, akibat manufaktur elektronik, penambangan timah pun terjadi lebih cepat.

Setelah adanya tekanan dari kelompok-kelompok pecinta lingkungan, beberapa produsen smartphone terbesar dunia sepakat untuk melihat situasi di Bangka. Hanya saja sejauh ini, tidak ada jawaban yang jelas, dan sulit untuk melacak timah diekstrak secara ilegal.

Dan, bagaimana cara menyiasati perkembangan gadget — yang membutuhkan timah– tanpa merusak lingkungan?

Opsi yang mungkin bisa dilakukan adalah mendaur ulang produk elektornik. Jika proses daur ulang kembali dilakukan untuk semua jenis logam, terlebih jika banyak orang yang bersedia mendaur ulang gadget mereka, maka mungkin tumpukan gadget rusak di laci, atau yang dilempar sembarangan, tidak akan terjadi lagi. Dan kisah di Pulau Bangka ini, harusnya bisa menjadi pengingat atas dampak luas yang terjadi, saat kita berkeinginan untuk membeli tablet atau laptop terbaru.

“Yang kami tekankan dalam penelitian disini adalah, dampak negatif sebuah kebijakan/keputusan kemungkinan akan dirasakan di tempat lain yang jaraknya jauh, begitu pula populasi, lingkungan, dan budayanya. Selain itu, konsumen akan tahu bagaimana pilihan mereka dalam menggunakan gadget, sangat berperan dalam menentukan berbagai dampak — baik positif maupun negatif- terhadap sebuah wilayah yaang memiliki bahan mentah gagdet yang mereka gunakan. (ba)

—-

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Adele Peters, di situs fastcoexist.com yang berjudul You’re Destroying This Tiny Island With Your Insatiable Need For More Gadgets. Penulis yang konsen di bidang pembangunan berkelanjutan dan desain ini, menetap di Oakland, California.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Comments are closed.

Positive SSL