“Lihatlah ! Para Mujahidin berdatangan dari Chechya, Maroko, Mesir, Amerika Serikat,d an dari seluruh dunia menuju Suriah. Mujahidin datang demi Allah.”
“Islam hadir untuk menghinakan orang kafir! Lihatlah Bashar Al-Assad, apakah dia kafir? Dia boleh dibinasakan karena dia kafir!”

Seperti itulah didikan para “Mujahidin” yang berdatangan dari seluruh pelosok dunia untuk “berjihad’ memerangi “orang kafir” di Suriah. Dalam orasinya di depan ratusan anak-anak Suriah, “Sang Mujahid” mengajarkan anak-anak yang polos itu untuk membinasakan “orang kafir”. Apakah ini benar?

Tahukah “Mujahidin” itu bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menulis dekrit dalam sebuah piagam– untuk melindungi biara St. Catherine Monastery dan para biarawan di dalamnya? Dekrit itu pernah ditulis pada tahun 628 M. Pada saat itu, utusan dari Biara St. Catherine mengunjungi Nabi Muhammad untuk meminta perlindungan. Nabi pun memberikan perlindungan dengan menuliskan sebuah piagam yang isinya;

Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian bagi siapapun yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, bahwa kami mendukung mereka.
Sesungguhnya saya, para pelayan, para penolong, dan para pengikut saya membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya; dan karena Allah! Saya bertahan melawan apapun yang tidak menyenangkan mereka.
Tidak ada paksaan yang dapat dikenakan pada mereka.
Sekalipun oleh para hakim-hakim mereka, maka akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka maupun dari para biarawan-biarawan mereka, maka akan dikeluarkan dari biara mereka.
Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau membawa apapun daripadanya ke rumah-rumah umat Islam.
Jika ada yang mengambil hal-hal tersebut,maka ia akan merusak perjanjian Allah dan tidak menaati Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan mendapatkan piagam keamanan melawan apapun yang mereka benci.
Tidak ada yang dapat memaksa mereka untuk bepergian atau mengharuskan mereka untuk berperang.
Umat Islam wajib bertempur untuk mereka.
Jika ada perempuan Kristen menikahi pria Muslim, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan perempuan itu. Dia tidak dapat dilarang untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa.
Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang memperbaikinya dan menjaga perjanjian-perjanjian sakral mereka.
Tidak ada dari antara bangsa (Muslim) yang boleh tidak mematuhi perjanjian ini hingga Hari Akhir (akhir dunia).

Bukan hanya kepada umat Kristen, kepada kaum Yahudi pun Rasulullah terkenal begitu welas asih. Ada sebuah kisah terkenal yang menceritakan bagaimana akhlak beliau ketika menghadapi seorang pengemis Yahudi buta. Kendati pengemis itu setiap hari mencaci dan mencela Nabi Muhammad, tak ada hasrat di benaknya  untuk membinasakan. Dengan penuh kasih sayang, tangannya yang suci menyuapkan makanan ke pengemis itu, setiap hari, hingga ajal menjemut Kanjeng Nabi.

Lantas, siapakah mereka – gerombolan teroris bertakbir yang begitu ringan memisahkan badan dengan kepala musuhnya yang telah tak berdaya? Siapakah mereka yang telah berdatangan untuk membunuhi rakyat Suriah ? Siapakah mereka yang menghancurkan makam, menghancurkan rumah sakit, membunuhi para ulama dan memperkosa gadis-gadis? Apakah mereka pengikut Nabi Muhammad bin Abdullah? (fa/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL