LiputanIslam.com – Pemandangan Istana Negara pasca ditetapkannya Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden, telah berubah drastis. Dari laporan berbagai media, kini tempat itu tidak lagi ‘angker’ yang susah dijangkau oleh rakyat biasa.

Di hari pelantikan, Istana Negara dipadati oleh masyarakat yang antusias bertemu dengan Jokowi. Mulai dari yang berpakaian necis dengan dasi dan jas, hingga berpakaian lusuh dengan sandal jepit, tampak membaur di halaman istana. Dan kini, Jokowi dengan gaya khasnya, membuat kewalahan Paspamres dan Staf Istana. Tidak ada aturan protokler yang ketat, dan wartawan istana pun bebas berlalu lalang.

Hal ini, tentu saja mengingatkan kita pada sosok KH. Abdurrahman Wahid, yang setelah memasuki istana, ia langsung menerima kunjungan puluhan kyai di Wisma Negara. Itulah kali pertama sepanjang sejarah, rombongan tamu bersarung dan bersandal dengan santai memasuki bangunan yang dibuat oleh Bung Karno tersebut yang terasa ‘angker’ di zaman Pak Harto.

Seperti yang dikutip dari keterangan Rijal Mumazziq Z, Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya, sebelumnya di era Gus Dur, istana kepresidenan menjelma rumah rakyat. Seringkali, pada dinihari Gus Dur menerima kunjungan kyai dari Jawa Timur yang membuat Paspampres canggung.

Tamu Gus Dur yang ‘antik juga banyak, seperti pengembara yang minta ‘sangu’, para biksu, orang berpakaian kejawen berambut gondrong, Greg Barton, Indonesianis berbaju batik yang sopan, hingga seorang film maker asal Australia Mr. Curtis, yang diizinkan mendokumentasikan aktivitas Presiden Gus Dur secara bebas, selama 24 jam full, nyaris tanpa batasan dan tanpa sensor. Wartawan juga dibiarkan mengakses setiap sudut istana. Dengan kata lain, sejak awal menjadi presiden, Gus Dur membuka istana bagi siapapun.

Di era Gus Dur pula Open House dilakukan di dalam istana hingga karpet terbaik di Cradential Room [tempat presiden menerima kepala negara dan duta besar asing] yang masih gres harus amburadul diinjak ribuan pasang kaki baik itu kakinya menteri, satpam, pasukan kuning, santri, hingga pengelana. Staf rumah tangga istana sempat menyampaikan keberatan kepada Gus Dur. Dan apa jawaban Gus Dur?

“Ya biarin aja rakyat menikmati karpet istana yang masih baru itu, toh karpet itu dibeli pakai uang rakyat,” tulis Rijal yang menirukan ucapan Gus Dur.

“Jokowi bukan Gus Dur, bukan pula Bung Karno, apalagi Pak Harto. Kepemimpinannya tentu memiliki karakteristik tersendiri. Kita berharap Jokowi bisa melaksanakan amanah dengan baik, karena sebagaimana kata Imam Al-Ghazali, setiap pemimpin adalah gambaran dari rakyatnya,” tutup Rijal. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL