LiputanIslam.com — Suatu hari Khalifah Harun al-Rasyid mendengar bahwa ada seorang alim yang berkunjung ke kerajaannya. Berharap memperoleh nasehat, Sang Khalifah pun mengundang alim tersebut ke istana.

Sang alim bertanya, “Wahai Khalifah, seandainya engkau berada ditengah padang pasir dan merasa haus yang teramat sangat berapakah yang bersedia engkau berikan untuk seteguk air yang bisa ditawarkan oleh orang lain kepadamu?”

Khalifah Harun al-Rasyid menjawab, “Akan aku berikan kepadanya setengah kerajaanku untuk seteguk air yang dia berikan.”

Lalu orang alim ini lanjut bertanya, “Seandainya kemudian air yang engkau minum tersebut menjadi penyakit, engkau tidak dapat mengeluarkannya dari tubuhmu, maka berapakah yang bersedia engkau bayarkan bagi yang mampu mengobatinya, sehingga air tersebut bisa kembali keluar dari tubuhmu?”

Khalifah menjawab, “Aku akan berikan setengah kerajaanku lagi bagi yang sanggup mengobatinya.”

Mendengar jawaban Khalifah, orang alim ini lalu berkata, “Wahai Paduka Khalifah, lalu apakah yang patut Paduka banggakan dengan kerajaan Paduka ini, yang nilainya tidak lebih dari seteguk air yang Paduka minum dan lalu keluarkan lagi?”

 

Oase Eksotis di Padang Pasir Sahara

Khalifah Harun al-Rasyid pun lebih rela melepaskan separuh kerajaannya demi seteguk air di padang pasir. Padahal luas wilayah yang dipimpinnya membentang dari Afrika Utara sampai ke Hindukush, India. Bisa dibayangkan, betapa berharganya tetasan air di lautan pasir.

Alhamdulillah, Allah Yang Maha Penyayang, “menghadiahkan” lebih dari setetes air di Gurun Sahara yang luasnya sekitar 9.000.000 km2. Di jantung Sahara, tersaji sebuah oase nan eksotis bersembunyi di balik jurang.

Guelta d’ Archei, demikian disebut, adalah sebuah oase, atau lebih tepatnya sebuah guelta yaitu daerah basah yang terdapat di padang pasir, membentuk sebuah kolam/ waduk yang permanen. Guelta d’ Archei terletak di Ennedi Plateau, di utara-timur Chad, tersembunyi di balik jurang. Setiap hari, ratusan unta digiring menuju guelta yang dilewati oleh kafilah-kafilah untuk melepas dahaga dan beristirahat. Guelta d’ Archei juga masih “menyimpan” turunan buaya Sungai Nil, yang untuk bertahan hidup, buaya ini memakan ikan-ikan yang terdapat di sana.

Ah, seandainya saja Harun al-Rasyid menemukan Guelta d’ Archei saat mengembara di padang pasir, masihkah ia akan suka rela melepaskan separuh kerajaannya demi seteguk air? (ba/LiputanIslam.com)

Sumber foto: http://www.amusingplanet.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL