LiputanIslam.com — Grand Syeikh Al-Azhar Ahmed el Tayeb , dalam wawancaranya dengan salah satu televisi di Mesir menegaskan bahwa revolusi Arab Spring merupakan plot Barat yang bertujuan untuk memecah belah negara-negara di kawasan, sehingga mudah bagi mereka untuk menancapkan kukunya di kawasan kaya sumber daya alam tersebut.

Beliau lantas mempertanyakan tentang senjata Amerika dan Eropa — dimanakah senjata-senjata itu mereka gunakan? Apakah di negara pembuatnya? Tidak. Senjata-senjata yang diproduksi oleh Barat mereka gunakan di Libya, Suriah, Mesir Afghanistan hingga Yaman. Mencermati berbagai konflik yang berkecamuk di kawasan, Grand Syeikh menyimpulkan, bahwa kini, negara-negara Barat telah menunjukkan “warna sejati” atau niat sesungguhnya mereka terhadap peradaban Islam. Mengapa beliau berkata demikian?

Saya [redaktur] minta maaf kepada pembaca Liputan Islam bila acapkali menemukan pembahasan yang sama dalam artikel yang berbeda. Apa boleh buat, karena hal ini memang masalah yang sangat serius dan sayangnya— tidak banyak kaum Muslimin yang peduli dan bersikap  masa bodoh. Penting bagi saya untuk mengingatkan terus-menerus, agar kita semua waspada dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

Lihatlah Suriah, Yaman, Irak, Yaman, apa saja yang telah hancur sepanjang konflik?

Pasar Aleppo, artikelnya http://liputanislam.com/multimedia/dari-tabriz-hingga-allepo/

Masjid Umayyah, artikelnya http://liputanislam.com/multimedia/dulu-senja-di-allepo/

Makam Hujr bin Adi, artikelnya http://liputanislam.com/opini/takfiri-penegak-tauhid-atau-penegak-the-new-world-order/

Pesantren, artikelnya http://liputanislam.com/tabayun/perang-suriah-jihad-membunuh-santri/

Kota tua Ma’loula, artikelnya http://liputanislam.com/multimedia/masterpiece-mujahidin-kehancuran-maloula/

Makam Uwais Al-Qarni, artikelnya http://liputanislam.com/tabayun/hancurnya-peristirahatan-sang-waliyullah/

Makam Penyair Sufi, artikelnya http://liputanislam.com/tabayun/jihad-mujahidin-arrahmah-menghancurkan-makam/

Dan masih banyak artikel yang telah dipublikasikan di Liputan Islam yang terkait dengan perusakan/ penghancuran situs-situs kuno. Semuanya mengarah pada satu tujuan: menghancurkan peradaban Islam. Mengapa para “Mujahidin” ini menghancurkan makam dan tempat-temapat bersejarah di kawasan?

Mempraktekkan Petuah Sun Tzu

Seorang Muslim manapun, pasti merasakan rindu teramat sangat kepada Rasulullah, sehingga banyak dari mereka yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia ke Madinah agar bisa bertamu kepadanya.

Lalu, sesuai nubuat Rasulullah, telah datang sebuah kaum yang katanya – membaca Al-Qur’an hanya sampai di kerongkongan. Mereka, konsisten hidup dalam paradoks. Mereka, selalu mengaku mencintai para sahabat Rasululah Saw, namun apakah yang mereka lakukan sesuai dengan klaim cinta mereka?

Hujr Ibn Adi al Kindi adalah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad Saw. Beliau ra memimpin pasukan Muslim untuk meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran penting. Makam beliau, terletak di distrik Adra dekat Damaskus, dimuliakan dan banyak diziarahi kaum muslimin. Lalu, datanglah mereka, para “Penegak Tauhid” yang mengaku mencintai sahabat Nabi ke Suriah. Dengan brutal, mereka merusakkan makam, mengambil jenazahnya dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui. Lah, apa salahnya sebuah makam hingga harus dirusak dan dibongkar? Mencintai sahabat Nabi kok sambil merusakkan peristirahatan terakhirnya?

Hal serupa juga terjadi pada makam Ammar bin Yasir ra, seorang sahabat nabi yang mulia. Dalam sebuah video yang diunggah di YouTube, tampak seorang militan dari kelompok ISIS dengan bangganya berujar,

“Dengan menyebut nama Allah, semoga keselamatan tercurah untuk Rasulullah…

Dengan rahmat Allah, kami akan meledakkan shrine ini yang terletak di salah satu desa Suriah, agar [manusia] bertauhid…”

Lantas mereka bertakbir, dan dentuman bom pun meledak dahsyat…

[Saksikan video di sini]

Inilah cinta yang janggal. Mencintai tapi menghancurkan. Tentang cara-cara yang mereka tempuh untuk menegakkan tauhid jika ditinjau dari Al-Qur’an dan hadist, dengan menghancurkan tempat-tempat bersejarah bukanlah hal yang patut. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, berziarah ke makam bukanlah hal yang baru. Berziarah ke makam tidak lantas berarti menyembah makam, tidaklah lantas menduakan Allah. Hal ini pun telah banyak dibahas oleh para alim ulama, dan sebagian besar mempersilahkan kaum muslimin untuk berziarah dan berdo’a di makam.

Justru ketika “Penegak Tauhid” ini dengan begitu ringan menghancurkan warisan bersejarah, mengingatkan saya kepada sebuah wasiat yang disampaikan oleh seorang panglima perang bangsa China tentang strategi menghancurkan sebuah bangsa. Sun Tzu berpesan, “…untuk mengalahkan bangsa yang besar tidak dengan mengirimkan pasukan perang, tetapi dengan cara menghapus pengetahuan mereka atas kejayaan para leluhurnya, maka mereka akan hancur dengan sendirinya…” (The Art of War)

Apakah mereka para jihadis tengah berusaha menghancurkan Suriah? Mari kita telusuri bersama. Pada bulan November 2013, Tentara Elektronik Suriah (Syrian Electronic Army – SEA) dalam sebuah serangannya berhasil meretas email dan akun Facebook Matthew van Dyke, agen lapangan Amerika Serikat yang berpura-pura menjadi jurnalis di Suriah. Percakapan pribadi Matthew van Dyke yang berhasil dihimpun oleh SEA mengungkap beberapa informasi sebagai berikut:

1. Mayoritas warga Suriah menentang pemberontakan dan terorisme.

2. Barat, pemberontak Suriah dan Al-Qaeda berkolaborasi.

3. Oposisi menggunakan senjata kimia.

Penolakan rakyat Suriah terhadap terorisme di negaranya, adalah hal yang sangat rasional. Rakyat manakah yang ridho hidup dalam bayangan ketakutan setiap hari? Rakyat manakah yang tenang melihat begitu mudah kepala terlepas dari badannya? Atau melihat mayat-mayat bergelimpangan setiap harinya – tanpa tahu kapan akan berakhir?

Pun ketika NATO mengadakan survey untuk mengetahui “isi hati” rakyat Suriah, hasilnya mencengangkan. Seperti yang dilansir democraticunderground.com, 70% rakyat Suriah berpihak kepada Bashar al-Assad, bukan kepada pemberontak yang didukung negara-negara asing.

Poin kedua, bahwasanya negara-negara Barat, pemberontak Suriah (yang lebih “moderat”) dan Al-Qaeda berkolaborasi, adalah petunjuk yang terang benderang. Para militan yang tengah bertempur di Suriah, baik dari kelopok yang lebih moderat maupun ektremis [dan faktanya hampir semua kelompok jihadis memiliki style serupa: horor], merupakan tunggangan dari negara-negara Barat untuk menghancurkan Suriah, dan berupaya menghancurkan kejayaan Islam – namun tanpa mengotori tangannya sendiri. Ulama-ulama dibunuhi, masjid-masjid dihancurkan, warisan sejarah dimusnahkan, pada akhirnya, Suriah akan kehilangan identitasnya.

Ya, militan Takfiri yang mengaku “Penegak Tauhid” ini hanyalah perpanjangan tangan, dari musuh-musuh Islam dan kemanusian, untuk mewujudkan rencana besar mereka, The New World Order. (ba/LiputanIslam.com)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL