LiputanIslam.com –Bashar al-Assad, ketika diwawancarai oleh Jonathan Tepperman dari Foreign Affairs pada awal tahun, mengungkapkan bahwa ada propaganda yang amat masif terhadap Suriah selama empat tahun. Penyesatan informasi melalui foto, video dan keterangan-keterangan palsu banyak dijumpai di media-media internasional. (Baca: Krisis Suriah: Direktur Human Right Watch Sebarkan Foto Palsu)

Berikut ini petikan wawancaranya:

Jonathan Tepperman: Hal yang membuat Washington enggan untuk bekerjasama secara legal dengan Anda adalah pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah Suriah. Tuduhan ini tidak hanya berasal dari pemerintah AS, tetapi juga dari Komite Hak Asasi Manusia PBB, dan Komisi Investigasi Khusus PBB.  Anda sudah familiar dengan tuduhan ini, saya yakin. Mereka termasuk menolak akses bagi untuk menyalurkan bantuan ke kamp-kamp pengungsi, melakukan pengeboman sembarangan yang menyasar rakyat sipil, bukti foto disediakan oleh pembelot yang menggunakan nama Caesar. Ia melakukan presentasi kepada Kongres AS yang menunjukkan penyiksaan yang mengerikan dan pelecehan di penjara Suriah. Apakah Anda siap untuk mengambil tindakan terhadap masalah ini agar kerjasama dengan Amerika Serikat lebih mudah?

Bashar al-Assad: Adalah sesuatu yang sangat lucu, dan ini kali pertama dalam sejarah, dimana sebuah keputusan suatu pemerintah berdasarkan atas evaluasi pada media sosial. Kami menyebutnya administrasi media sosial, bukan politik. Tak satu pun dari tuduhan yang Anda sebutkan di atas memang konkret. Ini hanyalah sebuah tuduhan. Anda dapat membawa foto darimana saja, lalu Anda mengatakan bahwa foto ini adalah bukti dari penyiksaan. Lalu, siapa yang mengambil gambar tersebut? Tidak ada yang tahu. Tidak ada verifikasi atas setiap bukti. Maka, itu semua hanyalah tuduhan tanpa bukti.

Jonathan Tepperman: Tapi foto yang ditunjukkan Caesar telah dilihat oleh peneliti Eropa yang independen.

Bshar al-Assad: Tidak. Mereka didanai oleh Qatar. Lalu mereka mengatakan gambar itu dengan sumber anonim. Jadi tidak ada yang jelas atau terbukti. Gambar-gambar itu tidak jelas merujuk kepada siapa. Misalnya hanya ada gambar kepala, dengan beberapa tengkorak. Siapa bilang ini dilakukan oleh pemerintah? Bukankah bisa saja ini justru dilakukan oleh pihak pemberontak? Kata siapa korban penyiksaan ini berada di Suriah, dan bukan di tempat lain? Misalnya, foto yang diterbitkan di awal krisis, ternyata berasal dari Irak dan Yaman.

Kedua, AS pada khususnya dan Barat pada umumnya tidak dalam posisi yang patut untuk berbicara tentang hak asasi manusia. Mereka bertanggung jawab atas sebagian besar pembunuhan di wilayah, terutama AS setelah masuk ke Irak, dan Inggris setelah menyerang Libya. Lalu situasi di Yaman, lalu di Mesir dengan mendukung Ikhwanul Muslimin, dan terorisme di Tunisia. Semua masalah ini terjadi karena AS. Merekalah pihak yang pertama kali menginjak-injak hukum internasional dan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB, bukan kami.

***

Foto yang diserahkan oleh Caesar tersebut kini telah dipajang di sebuah gallery di New York, Amerika Serikat. Pengunjung berdatangan dan memperlihatkan wajah ketakutan ketika menyaksikan foto tersebut. Sekali lagi, inilah bentuk propaganda untuk mendeskreditkan Suriah. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL