LiputanIslam.com — Saat berkunjung ke Republik Islam Iran, Menko bidang Perekonomian Indonesia Kabinet Kerja, Dr. Sofyan Djalil menyempatkan menjambangi kota Qom, dan menemui langsung mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota santri Iran tersebut pada Jum’at, 22 Mei 2015. Bersama rombongan, ia didampingi Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit mengunjungi Universitas Imam Khomeini Qom dan mengadakan pertemuan langsung dengan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas tersebut.

Dari laporan Abna.ir, pertemuan tersebut berlangsung dari pukul 10.30 sampai 11.30 waktu setempat setelah sebelumnya Menteri Sofyan beserta rombongan mengitari areal kampus dan melihat langsung gedung pertemuan, ruang kuliah dan gedung asrama mahasiswa.

Dalam pembukaan pesannya di hadapan sejumlah mahasiswa, Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit berkata, “Pertemuan antara mahasiswa Indonesia di Iran dengan pejabat penting negara sangat langka. Sebab sangat sulit mendatangkan pejabat maupun tokoh penting Indonesia untuk langsung mengunjungi Qom setidaknya dalam 3 tahun terakhir selama saya menjabat sebagai duta besar.”

“Kelangkaan tersebut, timbul karena persepsi negatif yang sering dikaitkan dengan sanksi yang membuat kita seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa, juga khususnya persepsi mengenai perbedaan yang sering diklaim berbeda. Bulan lalu, telah ada pertemuan khusus antara Presiden Jokowi dengan Presiden Rouhani disela-sela sidang Konferensi Asia Afrika, yang menurut saya hasil pertemuan tersebut sangat membesarkan hati. Karena membuka lembaran baru hubungan Indonesia-Iran. Bahwa kedua kepala negara sepakat memperkuat kerjasama diberbagai bidang, khususnya bidang ekonomi yang selama ini disia-siakan. Instruksi Bapak Jokowi saat itu sangat jelas kepada bapak Menteri Sofyan Djalil yaitu dalam satu bulan, harus sudah ada langkah konkrit. Nah, kedatangan Bapak Menteri ke Iran ini adalah untuk memulai langkah konkrit tersebut,” jelasnya.

Berikut ini adalah transkrip lengkap, pesan Menteri Sofyan yang disampaikan di hadapan sejumlah mahasiswa Indonesia di Qom, di ruang pertemuan Rektorat Universitas Imam Khomeini:

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

“Adik-adik sekalian, senang sekali bertemu dengan Anda mahasiswa Indonesia yang sementara belajar di sini, di Universitas Imam Khomeini, ada S1 dan S2.

Saya pikir ini adalah kesempatan yang baik sekali bagi adik-adik untuk belajar. Dan yang paling penting adalah spirit of learning itu jangan sampai hilang. Saya dulu di training dalam sistem sekolah agama. Pendidikan dasar saya, madrasah ibtidaiyahtsanawiyah dan PGA [Pendidikan Guru Agama], jadi saya pernah jadi guru agama di SD. Meskipun pendidikan dasar saya bidang agama, namun itu tidak menghalangi saya kemudian untuk menjadi seorang ekonom, menjadi Menkominfo, menjadi Menteri BUMN dan sekarang Menteri Kordinator bidang Perekonomian. Kuncinya, adalah, kalau ada kemauan pasti ada jalan. Saya belajar matematika umur 31 tahun, tapi tidak menghambat saya untuk menjadi doktor dalam bidang ekonomi. Karena itu adik-adik punya kesempatan yang bagus, dapat sekolah disini, dapat beasiswa, itu sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa.

Tidak mudah untuk mendapatkan sekolah di luar negeri, dengan beasiswa dari universitas yang ada disini. Oleh sebab itu Anda ini akan menjadi aset bangsa di masa yang akan datang. Menjadi orang-orang terdidik di Indonesia. Karena patut diketahui bahwa negeri kita masih banyak memerlukan orang-orang berpendidikan dalam semua bidang. Negeri kita hanya akan maju kalau makin banyak orang yang terdidik. Makin banyak orang yang akan menjadi obor bagi masyarakatnya. Yang mengajarkan masyarakat tentang kebajikan, tentang kebenaran, tentang kemanusiaan dan lain-lain. Karenanya ketika Anda pulang ke Indonesia, Anda harus menjadi bagian dari masyarakat Indonesia yang sangat plural. Kita tahu bahwa Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika-nya, itu membuat perbedaan menjadi sebuah keniscayaan. Saya lahir di Aceh, namun itu tidak menghambat karir saya sampai menjadi Menko. Ayah saya tukang cukur, ibu saya buta huruf, saya berasal dari keluarga yang sederhana tapi itu bukan hambatan. Karena orang tidak akan tanya, siapa kamu, tapi orang mempertanyakan apa kemampuanmu.

Karena itu adik-adik yang belajar di Iran ini, saya tahu, bahwa pasti sesuai dengan tradisi Syiah. Syiah itu tidak ada masalah, sebab salah satu dari mazhab-mazhab yang lain dalam Islam. Yang terpenting bagaimana perbedaan yang ada itu dikelola dengan baik, sehingga bisa menjadi rahmat. Sebagaimana sabda Nabi Saw, perbedaan dikalangan umatku adalah rahmat. Karena itu saya ucapkan selamat belajar disini, dan belajar yang benar-benar. Sehingga ketika pulang ke Indonesia bukan hanya sekedar menjadi sarjana dan meraih gelar, sebab itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang telah dipelajari, sehingga bisa menjadi suluh dan memberi banyak manfaat bagi masyarakat.

Mengenai masalah kekinian Indonesia. Ekonomi kita di Indonesia hari ini tidak terlalu bagus, karena kondisi ekonomi global juga tidak terlalu bagus. Sehingga perkembangan ekonomi kita hanya 4,7 % tahun ini, namun pemerintah tetap berusaha untuk memperbaikinya, sehingga target dalam 5 tahun kedepan, Insya Allah ekonomi kita akan tumbuh 6 sampai 7% rata-rata pertahun, sehingga dalam tempo 15 tahun ditargetkan jumlah pendapatan masyarakat menjadi dua kali lipat.

Yang jadi masalah di Indonesia saat ini adalah rakyat kita makin kurang toleran. Dan ini yang sangat kita sayangkan.  Gerakan intoleran sebenarnya sedang terjadi diseluruh dunia, tapi di Indonesia insya Allah walaupun ada namun mereka adalah kelompok yang minoritas. Kita yakin, mayoritas Muslim Indonesia sangat besar  keinginannya untuk menampakkan Islam yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Jadi inti pesan saya kali ini, hanyalah sekedar membagi inspirasi bagi adik-adik. Bahwa kesuksesan itu bisa diraih jika mengamalkan kuncinya. Kuncinya apa, semangat belajar yang tidak boleh habis. “If there is a will, there is a way,  dimana ada kemauan pasti ada jalan. Orang Arab mengatakan, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh dia yang akan mendapatkannya. Manfaatkan semua apa yang ada disini. Sebab anda dilengkapi dengan fasilitas yang bagus, suasana yang kondusif, literatur yang bagus dan sebagainya.

Saya waktu mengambil master di Amerika, seringkali mengambil mata kuliah di luar yang diwajibkan. Sebab saya waktu itu hendak memanfaatkan semua yang ada. Belajar diluar negeri adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Dengan kesungguhan belajar, maka anda akan menjadi manusia terpelajar. Terpelajar dalam bahasa Inggris, enlightened, yang artinya orang yang tercerahkan, orang yang tersinari. Salah satu ciri orang yang tercerahkan adalah open minded, yaitu pikirannya terbuka.

Tahukah Anda makna luas dari kata kafir itu? Kafir itu dalam bahasa Arab artinya tertutup, sama halnya makna cover dalam bahasa Inggris. Dalam terminologi agama, kafir itu adalah yang menutup diri untuk menerima Islam. Namun dalam pengertian yang lebih luas, kafir adalah siapapun yang menutup pikiran dan hatinya dari kebenaran. Jadi secara etimologi, siapapun orang yang tidak membuka pikirannya, tidak open minded, bisa dikatakan sebagai orang kafir.

Sebab itu, proses pendidikan sebenarnya akan menjadikan seseorang berpikiran terbuka, sehingga perbedaan yang dilihatnya, bukan sebagai masalah dan unsur perpecahan, namun dipandangnya sebagai sebuah keniscayaan yang harus diterimanya. Motto dan keyakinan bangsa kita adalah Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Semangat inilah yang harus dijaga.” (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL