LiputanIslam.com — Akhir-akhir ini Indonesia disibukkan dengan berbagai kelompok anti-NKRI yang terang-terangan menyatakan pemerintah sebagai thagut, menyebut Pancasila sebagai garuda gepeng, berbaiat kepada khalifah ala ISIS, atau berteriak-teriak ingin mengganti ideologi negara dengan sistem khilafah.

Mereka lupa, bahwa Indonesia adalah negara yang merdeka berkat pengorbanan para pejuang dari barat hingga ke timur, dan menjadikan ‘Bhineka Tunggal Ika’ sebagai semboyan. Indonesia adalah negara majemuk, terdiri dari bermacam-macam suku dan agama. Pancasila adalah dasar negara, dan itu harga mati.

Mau main-main melakukan makar di Indonesia?

Ingatlah, Indonesia masih memiliki para pemuda yang siap mati untuk membela tanah air.

Akhirnya, kini ada program ‘Bela Negara’ yang diikuti oleh para santri, pelajar, mahasiswa, tokoh pemuda, dan Komunitas Islam Indonesia. Peserta akan berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Surabaya.

Sebelum berlayar, para santri mengikuti apel di Lapangan Markas Kolinlamil (Komando Lintas Laut Militer).  Pelepasan ribuan santri itu dihadiri oleh Ketua PBNU Said Aqil Siradj dan Panglima Kolinlamil Laksamana Muda Aan Kuniawan.

“Sebagai Warga Negara Indonesia, kita wajib memelihara keutuhan wilayah negara sebagai modal utama untuk mencapai tujuan nasional,” ujar Kuniawan membacakan sambutan dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, seperti dikutip dari Detik.com, (21/11/2015).

Ia mengatakan selama pelayaran peserta harus bekerja sama dengan baik sehingga setelah kegiatan ini berakhir akan mendapatkan pengetahuan tentang NKRI. “Selesai kegiatan pengetahuan dan pengalaman yang dimanifestasikan untuk terwujudnya kader bela negara yang cinta NKRI, patriotisme dan memiliki wawasan maritim yang mendalam sehingga dapat mewujudkan hubungan manunggal santri, pelajar, mahasiswa dan komunitas islam nusantara dalam mempertahankan kedaulatan negara,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengatakan santri hukumnya membela negara. Bahkan, kata dia, mati dalam rangka membela tanah air sama dengan mati syahid. “Bahkan barang siapa yang bekerja sama dengan penjajah boleh dibunuh. Mereka tetap muslim tapi tidak kafir itulah fatwa revolusi yang dikeluarkan zaman dahulu,” ujar Aqil.

Ia mengatakan kegiatan ini adalah program pertama pasca diresmikan hari santri nasional. Setiap tahunnya akan dibuat kegiatan seperti ini. “Setiap tahun untuk memperingati santri nasional akan diadakan pelayaran, diakhir kegiatan akan kita evaluasi sehingga ke depan bisa lebih baik,” kata Said.

Syarif, salah seorang santri mengaku bersemangat mengikuti program ini. “Ini pengalaman pertama ikut bela negara naik kapal perang. Senang rasanya apalagi dapat ilmu dan teman-teman baru,” kata Syarif yang terbalut seragam olah raga warna hijau dan celana panjang warna hitam lengkap dengan peci ini. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL