LiputanIslam.com– Jean Marie Offenbacher, demikian nama wanita Amerika yang memproduksi film dokumenter yang berjudul Tea on the Axis of Evil, sebuah film yang dibuat karena rasa penasarannya terhadap Suriah, negara yang diberi predikat “axis of evil” oleh mantan Presiden Bush.

Dalam wawancaranya dengan The Arab American News, dia mengungkapkan bahwa ide untuk membuat film ini berdasarkan cerita dari temannya yang baru pertama kali mengunjungi Suriah dan berinteraksi langsung dengan rakyat Suriah. Jean berkata:

“Salah satu teman mengatakan kepada saya bahwa ia baru saja mengunjungi Suriah untuk pertama kalinya. Dia mengatakan kepada saya bahwa orang-orang di sana yang sangat baik, dan saya merasa terkejut mendengar dia menuturkan kondisi Suriah seperti yang ditemuinya. Saya pikir alangkah menakjubkannya jika saya membuat sebuah film yang mendokumentasikan kehidupan di Suriah yang berjalan normal. Melihat betapa menyenangkannya orang-orang ini—rasanya informasi yang didapat dari media massa sungguh percuma, apalagi Suriah telah dimasukkan kedalam kelompok ‘Axis of Evil’. Saya telah menetap berbulan-bulan di Suriah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan saya rasa ada streotip yang mendarah daging tentang Timur Tengah.

Ada asumsi bodoh di Amerika Serikat yang berkaitan dengan wanita Arab. Mereka percaya bahwa wanita Arab itu tertindas, tidak berpendidikan, tidak berdaya, yang sayangnya semua itu akan ditepis jika menyaksikan film ini. Asumsi itu tidak benar dan sangat penting bagi saya untuk meluruskan hal ini. Lihatlah Bouthania Shaaban, Ph.D — seorang menteri, penasihat politik dan media, calon penerima Hadiah Nobel Perdamaian. Haaban adalah wanita yang sangat kuat, tapi dia juga cantik dan feminin, dan dia tidak berpura-pura menjadi “bukan Arab” untuk mendapatkan kekuatannya. Juga, pada pada suatu waktu ketika saya sedang syuting film ini, Presiden Bashar Al- Assad mengunjungi China untuk perjalanan bisnis dan mengajak seorang wanita yang bernama Salwa Al Ansari, untuk mewakili Suriah.

Cuplikan film ini, menggambarkan sekumpulan mahasiswa Suriah yang tengah bercanda ria dan bergurau dengan sangat akrab. Mereka tertawa bersama dan saling menggoda. Yang perempuan hanya satu orang yang menggunakan kerudung, yang lainnya tidak. Mereka bercerita tentang mimpi-mimpinya, ingin berkeluarga dan memiliki anak, ada juga yang bercerita hendak berpergian ke luar negeri, dan tak terlihat sedikitpun rasa khawatir ataupun gelisah. Sedikitpun tidak menggambarkan wanita Arab yang kolot dan bodoh. Dan sungguh jauh dari anggapan bahwa Suriah adalah negara “Poros Setan” sumber dari segala bentuk kejahatan sebagaimana klaim Bush.

Sayangnya, keceriaan dalam film itu yang diproduksi pada tahun 2009– yang memenangkan Noor Award for Outstanding Documentary pada Festival Film Arab di San Francisco, dan memenangkan Special Mention Jury Award pada Festival Film Internasional di Salento, kini hanya tinggal kenangan . Kedamaian itu kini telah menguap, berganti menjadi jerit tangis dan tumpahan darah di seluruh wilayah Suriah akibat perang berkepanjangan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Suriah lekas damai seperti sedia kala, Aamiin. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*