hugo chavezJudul: Hugo Chavez : Soekarno Dari Venezuela [Buku Bestseller]
Penulis : Rory Carroll
Penerbit : Change
Tanggal terbit : Oktober – 2013

Dua sisi Hugo Chavez, sebagai pejuang dan sebagai diktator. Pendukungnya yang setia menganggapnya sebagai juru selamat dan representasi, bahkan roh orang miskin di seluruh Venezuela. Namun, pihak oposisi menganggapnya iblis ataupun badut otoriter.

Setidaknya, hal itulah yang berusaha disampaikan penulis Rory Carroll di dalam buku Hugo Chavez: Seokarno dari Indonesia. Seluruh aspek kehidupan masyarakat Venezuela tidak dapat dilepaskan dari sosok yang kontroversial tersebut. Ia layaknya sebuah Colossus yang mencengkeram erat Venezuela di dalam tangan besinya.

Pengaruhnya di Venezuela amatlah besar, dia dapat dipandang bak seorang juru selamat ataupun tiran, tergantung dari mana sudut pandang yang diambil. Meskipun begitu, realitas yang terjadi di dalam tangkup kekuasaan Hugo Chavez sangatlah rumit. Hal itulah yang kurang lebih menarik perhatian seorang Rory Carroll, wartawan Guardian yang pernah bertugas di Afrika, Irak dan Mediterania, untuk kemudian mencari informasi lebih banyak mengenai kehidupan serta sepak terjang Hugo Chavez di panggung politik Venezuela. Dan hasilnya adalah buku berjudul Hugo Chavez: Soekarno dari Venezuela.

Buku biografi ini menceritakan kehidupan Hugo Chavez mulai dari masa dia bersekolah, ketertarikannya ke dalam dunia politik dan militer, hingga saat dia berhasil menjadi presiden Venezuela dan memerintah selama tiga belas tahun. Bahkan, kehidupan pribadinya di dalam tembok Miraflores (istana kepresidenan Venezuela) yang tidak banyak orang tahu, dikupas sangat detil oleh Rory Carroll dalam buku ini.

Rafael Hugo Chavez Frias terlahir pada 28 Juli 1954 dari pasangan Hugo dan Elena, guru sekolah dasar di Desa Sabaneta, Barinas, di pinggiran Venezuela. Terlahir sebagai anak kedua dari keluarga yang paspasan, membuat Hugo dan kakak pertamanya, Adan, dikirim oleh orangtuanya untuk tinggal bersama neneknya. Hugo kecil merupakan sosok yang aktif dan bahagia di masa kecilnya, mengisi waktu luangnya dengan membantu neneknya.

Hal yang cukup unik dari kehidupan Hugo Chavez adalah ketertarikannya kepada dunia politik dan militer yang sebetulnya bisa dibilang tidak sengaja muncul. Hugo Chavez muda pada awalnya sangat tertarik untuk menjadi atlet el juego de pelota, atau yang lebih dikenal dengan nama bisbol. Obsesinya tersebut mengantarkannya masuk ke dalam militer, yang memiliki akademi olahraga yang bagus pada saat itu. Namun, obsesinya untuk menjadi atlet luntur ketika Hugo Chavez kemudian tertarik dengan dunia militer dan menekuni ilmu militer dan politik.

Ketika dalam masa militer, Hugo Chavez sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Sayap Kiri Omar Torrijos, presiden Panama kala itu, serta Jendral Juan Velasco Alvarado, presidenPeru. HugoChavezkemudian membuka matanya terhadap kemungkinan militer untuk menyatukan negara dengan nasionalisme dan politik sayap kiri. Itulah yang membuat Hugo Chavez kemudian menjadi anti- Amerikadanantikapitalismedan mulai merencanakan pemberontakan terhadap Presiden Venezuela Carlos Andres Perez, yang pro–-Amerika dan dikecam banyak publik saat itu.

Namun, upaya kudetanya gagal. Kegagalan kudeta pada tahun 1992 itu membuat Hugo Chavez dipenjara hingga tahun 1994. Lalu pada tahun 1998 ia kembali ke panggung politik, namun bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai calon presiden. Dengan janjinya untuk membantu kelas pekerja dalam mencapai kesejahteraan serta dengan karisma pribadinya yang menarik, Chavez pun keluar sebagai pemenang pada pemilu 1998 dan memerintah sebagai presiden.

Selama menjabat sebagai presiden, berbagai kebijakankebijakan yang berbau sayap kiri dan otoriter mulai digerakkan oleh pemerintahan Hugo Chavez. Salah satunya yang menarik, sebagaimana diceritakan di buku ini, adalah bagaimana media massa, terutama televisi, menjadi bagian penting di dalam kepemimpinannya. Setiap hari Sang Komandan–julukan Hugo Chavez– muncul di layar televisi untuk melanggengkan kekuasaan, melakukan nasionalisasi, serta memperkuat statusnya sebagai seorang yang harus dihormati dan dipuja bagi pendukungnya sekaligus ditakuti oleh lawan-lawannya.

Hal menarik lainnya yang diulas dalam buku setebal 326 halaman ini adalah kisah mengenai kehidupan Hugo Chavez di balik tembok Miraflores. Digambarkan bahwa Hugo Chavez merupakan seorang pekerja keras. Ia hanya tidur dua hingga tiga jam sehari dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurusi pemerintahannya dari dalam Istana Miraflores. Salah satu kegiatan hariannya yang menarik adalah membaca surat-surat yang berisi cerita ataupun permintaan dari penduduk Venezuela.

Permintaan-permintaan yang “diamini” oleh Sang Komandan kemudian akan diproses oleh departemen khusus yang namanya cukup unik, Sala de la Esperanza atau Kantor Harapan. Hugo Chavez mangkat pada 5 Maret 2013 karena kanker, meninggalkan mayoritas penduduk Venezuela yang mendukungnya berkabung dalam kesedihan.

Peninggalannya yang paling berharga adalah pemikirannya yang melawan kapitalisme. Mengajarkan rakyat Venezuela bahwa mereka adalah rakyat yang merdeka, menantang sejarah Eropa-sentris dan menyanjung warisan lokal Amerika Latin.(LiputanIslam.com/ditulis:Reza Akbar Felayati, dimuat di Koran Sindo)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL