buku al hamid

Judul Buku: Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat

Penulis: Al-Hamid Jakfar Al-Qadri

Penerbit: Mizan

Cetakan: I, 2012

Tebal: 116 Halaman

Kepala boleh sama hitam, tetapi pemikiran belum tentu sama. Dalam setandan kelapa saja, tidak pernah ada buah yang besarnya sama semua. Begitu pula halnya manusia. Perbedaan adalah sesuatu yang niscaya, dan berusia setua peradaban manusia itu sendiri.

Lantas apa yang terjadi jika kemudian, perbedaan itu terjadi di dalam menafsirkan teks dan konteks keagamaan? Seperti yang kita lihat hari ini, perbedaan pendapat telah membelah pemeluk agama Yahudi, Nasrani, maupun Islam menjadi berbagai sekte. Kita mengenal Yahudi Ultra Orthodoks, Yahudi Naturei Karta, Yahudi Lev Tahor, dll. Kita mengenal Kristen Katolik, Kristen Protestan, Kristen Orthodoks, dll. Kita juga mengenal Islam yang terbagi menjadi 2  kelompok besar yaitu Sunni dan Syiah, yang keduanya masih terbagi lagi menjadi berbagai mazhab. Namun menurut Amman Message yang ditandatangani oleh sekitar 500 ulama dari 80 negara di seluruh dunia, hanya ada 8 mazhab yang sah diakui dalam Islam.

Buku ini, secara khusus menelaah pemikiran Al-Habib Umar bin Hafizh dalam membina ukhuwah dan membangun dialog.  Seperti diketahui, beliau adalah seorang ulama terkemuka dunia saat ini, yang ajaran-ajarannya kental diwarnai tasawwuf. Pada tahun 1994, ketika baru berumur 32 tahun, ia mendirikan Dar al-Mustafa, sebuah madrasah di kota Tarim yang kini memiliki ribuan pelajar dari berbagai negara, mulai dari Indonesia hingga negara-negara di Eropa, Afrika, dan Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir ini, ia sering melakukan perjalanan dakwah ke banyak negara, terutama ke komunitas Islam maupun universitas ternama di Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Ia juga termasuk salah satu ulama yang menandatangani Amman Message.

Bagaimana cara Al-Habib dalam membina ukhuwah antar mazhab?

Penduduk Kota Tarim, mayoritas beraqidah Ahlussunah wal Jamaah dan bermazhab Syafi’i dalam ilmu fiqih. Namun mereka sangat menghormati kelompok lain di luar mazhab Syafi’i. Al-Habib memiliki murid dari berbagai pejuru dunia dan menganut mazhab yang berbeda-beda.

Dari catatan penulis, ketika Al-Habib mengajar ilmu fiqih, beliau menerangkan dan mensyarah kitab tersebut dengan metode luar biasa. Ia sangat jarang men-tarjih (membandingkan pendapat mana yang lebih kuat) dalil pengikut mazhab, mungkin hal ini beliau lakukan untuk menghormati berbagai mazhab yang ada.

Sejak zaman Nabi Muhammad Saw, ijtihad yang berujung pada perbedaan sudah kerap kali terjadi. Dan banyaknya pendapat yang berkaitan dengan pesan-pesan agama ini, telah melahirkan berbagai  mazhab. Cara menyikapi perbedaan ini hanya ada dua, yaitu; toleran ketika berbeda, dan yang kedua, tidak saling mengkafirkan atau menyesatkan. (hal20-21)

Al-Habib dalam dakwahnya senantiasa menyeru kepada persatuan. Tak cukup hanya dengan lisan dan tulisan, beliau juga mengadakan multaqa ulama atau simposium secara berkala yang dihadiri oleh para ulama yang berskala nasional dan internasional. Poin penting yang direkomendasikan dalam pertemuan ini antara lain adalah dengan seruan kepada ummat untuk menghormati berbagai perbedaan yang ada, juga, mengimbau kepada praktisi pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dalam mendidik generasi penerus. (hal 38-42)

Saat ini kita sering menjumpai adanya sebuah hadits yang dijadikan dasar untuk menyesatkan atau mengkafirkan kelompok lain, yang berbunyi, “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu.” (HR. At-Tirmidzi)

Dengan menggunakan dalil ini, maka, muncullah suatu kelompok yang mengklaim bahwa ia berada di jalan yang benar, sedangkan pihak lain yang berbeda adalah sesat.  Jawaban Al-Habib atas hal ini, bisa disimak pada halaman 65-68.

Rasulullah Saw semasa hidupnya, tidak pernah menutup  dialog dengan orang-orang musyrik, orang Yahudi ataupun Nasrani. Bahkan beliau melakukan dialog dengan kelompok-kelompok ini di tengah-tengah Masjid Nabawi. Disebutkan tatkala utusan Nasrani Najran datang dan tibalah waktu shalat Azhar, mereka melakukan shalat dengan menghadap ke arah timur, dan beliau Saw berkata, ”Biarkan mereka…” (HR Ibnu Katsir).

Tentu, sebagai ummatnya, kita harus meneladani beliau Saw dengan membuka kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan dialog dengan kelompok lain. Pada akhirnya ketika ditelaah lebih lanjut, maka sumber dari perselisihan atau perpecahan, terletak pada fanatisme buta atau ‘ashabiyah. Ini adalah sikap tercela, dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,” Bukan termasuk ummatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud). (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL