berguru-ke-kiai-bule-53b0c3421ba3a

Judul Buku: Berguru ke Kiai Bule

Penulis: Sumanto al-Qurtuby, dkk

Penerbit: Noura Books

Cetakan: I, 2013

Tebal: 275 Halaman

Selama ini, kaum santri identik atau dihubung-hubungkan dengan kaum sarungan, kultur tradisonal, kampungan, udik, kolot, anti-modernitas, tidak ilmiah, dan berbagai peyoratif lain. Namun  kisah-kisah yang termaktub dalam buku yang berjudul ‘Belajar Pada Kiai Bule’ ini meruntuhkan asumsi itu. Ada kaum santri yang berani keluar dari kultur masyarakat tradisional, dan terjun dalam kancah pergaulan internasional, mengembara mencari ilmu di negara-negara modern.

Apa yang sebenarnya menjadi motivasi dan kepentingan kaum santri yang rela meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan kerabt tercinta, dan melakukan perjalanan ribuan kilometer untuk belajar di sekolah ataupun kampus-kampus Barat ini? Mengapa mereka memilih Barat, yang identik dengan ‘sekular’ bukan Timur Tengah yang dicitrakan ‘Islami’?

Lalu, bagaimana mereka menanggapi tuduhan-tuduhan dari kelompok tertentu yang menganggap bahwa dengan menjadi mahasiswa di Barat, maka mereka dianggap telah menjadi kafir murtad, atau menjadi antek orientalis Kristen Yahudi guna menggerogoti Islam dari dalam?

Barangkali, kisah yang disampaikan oleh Nuning Hallet, mahasiswa Ph.D SUNY Buffalo, memberikan kita sudut pandang yang berbeda. Ia, pada suatu ketika, dibimbing oleh seorang Professor yang berdarah Yahudi, lahir dan besar di Israel. Awalnya, Nuning merasa ragu lantaran sebagai seorang Muslim, tentulah ia sangat anti-Israel. Tapi Avital, nama Professor tersebut, jauh berbeda dengan gambaran Israel yang biasa ia baca di media.

Avital membimbingnya dengan baik dan mereka berteman dekat. Dan ternyata, Avital adalah salah satu Yahudi yang membela hak-hak Muslim Palestina sebelum ia pindah ke Amerika Serikat (AS). Ia juga menjadi pengacara bagi para perempuan Palestina yang tersandung masalah. Nuning juga mendapati bahwa di AS, banyak orang-orang Yahudi yang tidak sepakat atas kebijakan Israel, dan mereka mengutuk perlakuan rezim Israel terhadap muslim Palestina. Nuning menemukan komunitas Jewish Voice for Peace yang melakukan kampanye damai di depan Water Tower  dengan berbekal banner, selebaran dan plang yang bertuliskan, “Stelaing land is not my Judaism”, “Demolishing homes is not my Judaism”, atau “Stop Siege in Gaza”.

Ada banyak hikmah yang bisa kita dapat dari kisah Nuning, dan salah satunya adalah jangan menggeneralisasi. Perlakuan rezim Israel terhadap Palestina adalah sebuah kejahatan kemanusiaan, namun ketika kita berbicara tentang Yahudi, maka kita harus melihatnya dengan lebih jernih. Karena, memang ada komunitas Yahudi yang anti Israel dan mendukung Palestina.

Kisah lainnya yang tak kalah menyentuh diceritakan oleh Arief Maftuhin, Dosen UIN Sunan Kalijaga. Pada suatu ketika, ia berjalan-jalan di jatung kota Seattle, dan menunjukkan sebuah bangunan megah, berkubah tapi tidak memiliki menara, dan dijadikan sebagai tempat shalat Jumat.

Apakah bangunan megah itu adalah sebuah masjid? Ternyata tidak. Itu adalah sebuah gereja. Di Seattle, banyak ditemukan orang-orang Islam yang bekerja di kantor-kantor multinasional, dan membangun masjid nyaris tidak mungkin karena mahalnya harga tanah. Maka, mereka pun menyewa sebuah gereja sebagai solusi alternatif.

Pihak gereja mengerti kebutuhan kaum Muslimin. Sebelum digunakan untuk shalat Jumat, salah satu ruangan di gereja tersebut dibersihkan, disulap menjadi sebuah hall yang besar—bisa menampung lebih dari 500 orang. Kursi-kursi disingkirkan, dan salib besar yang berada di  arah kiblat ditutupi kain agar tidak terlihat seperti menyembah Yesus.

“Terlepas dari apakah gereja itu disewakan—karena memang sudah tidak banyak pengunjungnya atau sedang sekarat seperti kebanyakan gereja di Eropa – kelapangan hati teman-teman Kristiani tentu menyentuh hati,” tutur Arief.

“Kalau kaum Kristiani bisa menyediakan gerejanya untuk kita sewa, mengapa di Indonesia kita sering tak mencoba bersikap lebih empatik terhadap saudara minoritas? Mungkin kita tidak perlu sampai menyewakan masjid untuk dijadikan tempat ibadah, tetapi setidaknya kita memberi mereka ruang kebebasan untuk mencintai Tuhan mereka dengan tulus,” tambahnya.

Tentunya sangat ironis jika kita bandingkan dengan beberapa kasus yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Salah satu contohnya adalah sengketa GKI Yasmin yang hingga hari ini masih belum terselesaikan dengan baik, kendati Mahkamah Agung telah memutus perkaranya dengan jelas. Jemaat gereja masih tetap harus berjuang untuk mendapatkan hak-haknya, yaitu beribadah dengan nyaman tanpa gangguan dari kelompok-kelompok intoleran. Haruskah konflik-konflik horizontal ini dipelihara?

Buku ini, benar-benar membuka mata. Bacalah, mungkin setelahnya, Anda akan jatuh cinta pada perdamaian, dan persaudaraan. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL