berani-korupsi-itu-memalukan-5395770886c2e

Judul Buku: Berani Korupsi itu Memalukan

Penulis: Soen’an Hadi Poernomo

Penerbit: Mizan

Cetakan: I, 2013

Tebal: 394 Halaman

“Korupsi adalah penyakit lepra sosial yang dengan cepat bisa merontokkan seluruh sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita. Layak, korupsi disebut sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Tidak ada masyarakat yang bisa bersemi atau negara dapat berjaya ketika korupsi dibiarkan merajalela.” (Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriah PBNU)

Beberap waktu terakhir ini, perhatian Indonesia terpaut pada kisruh yang terjadi antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Polemik ini bermula dari pencalonan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri oleh Persiden Joko Widodo. Hanya saja, sehari sebelum fit and proper test digelar di DPR, Budi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas kasus suap/ gratifikasi. Tak lama berselang, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri terkait sengketa pilkada di kota Waringin Barat pada tahun 2010. Lalu setelahnya, satu per satu pimpinan KPK yang lain juga dilaporkan atas berbagai kasus. Pihak KPK pun menyatakan, bahwa memang ada upaya pelemahan di dalam institusinya.

KPK vs Polri jilid 3 masih dalam proses, namun terlepas dari siapa yang bermain dan berkepentingan dalam kisruh tersebut, tetap harus disadari bahwasanya, budaya korupsi telah menjamur dan mengakar kuat di berbagai instansi pemerintahan. Soen’an Hadi Poernomo, dalam bukunya yang berjudul ‘Berani Korupsi itu Memalukan’ telah mengungkapkan bahwa kondisi hukum Indonesia yang ibarat sarang laba-laba merupakan salah satu pemicu semakin massifnya pratik-praktik penyelewengan terhadap undang-undang. Hukum begitu tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Akibatnya, para konglomerat, bos besar, atau penguasa, kerapkali tak tersentuh hukum. (hal 148-152)

5 Kunci Korupsi

Menurut Hadi Poernomo, korupsi berkaitan dengan lima aspek yang mempengaruhinya, yaitu:

Pertama, sistem politik yang berbiaya tinggi. Aspek ini menjadi penyebab mega korupsi di negeri ini. Bagaimana tidak, seseorang yang ingin memasuki dunia politik, baik di legislatif ataupun eksekutif, harus menyiapkan dana yang sangat besar. Bahkan untuk memegang jabatan struktural di partai saja, diperlukan kontribusi dana yang nyata untuk partai. Tak ayal, praktik korupsi pun akhirnya terjadi di pemerintahan pusat ataupun daerah.

Kedua, aspek penegakan hukum yang belum menimbulkan efek jera. Kendati Indonesia telah memiliki KPK, namun masih ada ketidakpuasan masyarakat terhadap praktik tebang pilih kasus yang ditangani oleh lembaga ini. Beberapa kasus besar seperti BLBI, Century, hingga kini belum ada kejelasan. Selain itu, para koruptor seharusnya diberikan hukum yang berat, bila perlu, hukuman mati.

Ketiga, faktor ekonomi aparat pemerintah. Saat ini, gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih jauh di bawah kebutuhan rumah tangganya. Hal inilah yang akhirnya memicu terjadinya penyalahgunaan wewenang di instansi tempatnya bernaung.

Keempat, budaya hedonisme dan konsumerisme, yang menjadi pemicu munculnya gaya hidup mewah dan boros. Gaya tidak sehat ini telah merasuk ke dalam hampir seluruh lapisan masyarakat, sehingga akhirnya mendorong perbuatan koruptif, dan menjauh dari kesederhanaan dan kejujuran.

Kelima, adalah moral keagamaan. Seseorang menghindari praktik korupsi, karena di dalam hatinya terdapat rasa takut pada Tuhan. Ia khawatir akan hukuman dari Tuhan  yang harus ia tanggung jika mengambil sesuatu yang bukan haknya. Keyakinan kepada Tuhan, membawa ia untuk selalu taat pada perintah agama dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang.

Jadi, upaya apa yang harus dilakukan untuk memberantas korupsi di Indonesia? Jawabannya bisa ditemukan pada halaman 161.

Buku ini, merupakan kumpulan opini, komentar, dan puisi Hadi Poernomo yang telah dipublikasi di media massa. Selain mengulas dengan sangat elegan kondisi Indonesia yang terkena wabah korupsi, ia juga menyelipkan tentang kelautan dari perspektif yang berbeda. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL