Ali-bin-Abi-ThalibJudul Buku: Ali bin Abi Thalib si Super Genius

Penulis: Masykur Arif Rahman

Tahun terbit: 2013

Penerbit: Diva Press

Tebal: 204 halaman

Seperti bukunya yang sebelumnya pernah kami resensi (Tan Malaka), Masykur Arif Rahman menulis buku berjudul Ali bin Abi Thalib si Super Genius ini dengan cara sederhana, mudah dipahami, sekaligus penuh informasi. Dalam buku ini, pembaca bisa membayangkan seberapa jeniusnya Sayyidina Ali ra melalui berbagai riwayat yang diceritakan oleh penulis. Selain itu, penulis menganalisis kehidupan Ali ra, lalu menyusun kesimpulan tentang 20 cara belajar cerdas ala Ali ra dan lima rahasia penunjang kecerdasan Ali ra. Ada pula tips mendidik anak cerdas ala Sayyidina Ali. Tak heran bila buku ini dalam setahun (2013) bisa cetak ulang hingga tiga kali.

Dalam buku ini disebutkan, kecerdasan Ali ra meliputi berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari ilmu bahasa, pidato, hukum, tafsir, akidah, sastra, sufisme, ilmu perang, bahkan sains. Sangat wajar bila banyak ilmuwan muslim yang merujuk kepada beliau. Kecerdasan dan ketinggian ilmu Sayyidina Ali bersumber dari Rasulullah, karena beliau sejak kecil diasuh oleh Rasulullah, dan dialah yang menyaksikan transformasi ruhani Muhammad SAW, dari manusia biasa hingga menjadi Nabi dan Rasul-Nya. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, serta hasil berguru langsung kepada Rasulullah, ia mampu memikirkan, memahami, menggali, dan menafsirkan hikmah yang terkandung dalam hadits Rasulullah dan Al Quranul Karim.

Di antara ilmu yang berhutang budi pada pemikiran Sayyidina Ali adalah ilmu tata bahasa Arab. Abul Aswad Ad-Duali, orang yang terkenal sebagai tokoh pertama dalam ilmu Nahwu (gramatika bahasa Arab), berguru kepada Ali ra. Ali-lah yang menjelaskan kepadanya jenis kata-kata dalam tiga kategori secara sistematis, yaitu ism, fi’il, dan harf. Dia juga membagi kata benda dalam dua sifat, nakirah dan ma’rifat. Dan seterusnya. Berkat sistemisasi ini, orang-orang non Arab bisa lebih mudah mempelajari bahasa Arab.

Ilmu tauhid atau ilmu kalam (teologi) Islam, jika ditelusuri lebih jauh, para tokoh pendiri aliran-aliran kalam tersebut (Mu’tazilah, Asy’ariah, Syiah, dan banyak lagi yang lain), merupakan murid dari Sayyidina Ali. Ilmu fiqih pun bersumber dari Imam Ali. Misalnya, fiqih mazhab Syafi’i, didirikan oleh Imam Syafii; Imam Syafii adalah murid dari Muhammad al Hasan. Muhammad Al Hasan belajar dari Imam Hanafi (pendiri mazhab Hanafi). Imam Hanafi belajar dari Ja’far bin Muhammad Al Hanafiah. Dan Muhammad Al Hanafiah belajar dari ayahnya sendiri, yaitu Sayyidina Ali ra.(halaman 16-17)

Lalu dimana rahasia kecerdasan Ali ra?

Penulis buku ini menyimpulkan, minimalnya ada 20 rahasia kecerdasan Ali ra, antara lain: belajar langsung dari Rasulullah SAW, belajar pada Al Quran dan Hadits, belajar pada orang salih terdahulu, belajar pada alam, belajar pada binatang, belajar dengan sungguh-sungguh, berguru pada ahlinya, belajar sambil berdoa, mengikat ilmu dengan menuliskannya, menghormati guru, dan lain-lain.

Contoh menarik tentang belajar pada binatang, diungkap di buku ini halaman 52-53. Setelah mengamati burung dengan cermat, Ali ra menyusun deskripsi yang indah mengenai burung:

Mereka (burung-burung itu) mempunyai berbagai sayap, dan ciri merek adikuasai oleh kendali wewenang (Allah). Mereka mengepakkan sayap-sayap mereka dalam keluasan angkasa yang besar, dan atmosfer yang terbuka.  Allah menciptakan mereka dari tak ada dalam bentuk-bentuk lahir yang aneh dan menciptakan mereka dengan persendian dan tulang-tulang yang diliputi daging. Dia mencegah sebagian dari mereka untuk terbang dengan mudah di udara, karena badannya yang berat dan hanya memperkenankan mereka menggunakan sayapnya di dekat bumi. Allah menetapkan mereka dalam warna yang berbeda-beda dengan kekuasaan-Nya yang halus dan daya cipta yang amat hebat.

Di bagian tips mendidik anak cerdas ala Sayyidina Ali, penulis buku mengutip berbagai hadis (perkataan) Ali ra terkait pendidikan anak, misalnya:

-Jika engkau menasehati seorang anak maka jangan kau sebutkan bagian dari dosanya, agar rasa malunya tidak menjadikannya keras kepala.

-Wajib atasmu menyayangi anakmu, melebihi kasih sayangnya terhadapmu.

Dari kisah-kisah para tokoh-tokoh Islam, memang sangat banyak yang bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya. Namun, sebagaimana sabda Sayyidina Ali “Alangkah banyaknya pelajaran, namun sangat sedikit orang yang mengambil pelajaran.” (dw/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL