LiputanIslam.com — Pada masa kepemimpinan Sayyidina Umar ra, daerah kekuaasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam berjaya di Mesopotamia dan sebagian Persia. Menaklukkan Mesir, Palestina, Suriah, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Keberhasilan Sayyidina Umar bin Khattab dalam menaklukan imperium besar (Persia dan Romawi) tidak lepas dari sosoknya yang tegas, dan sangat bersahaja. Kebersahajaan beliau ra merupakan hal yang patut diteladani oleh kaum muslimin.

Sebuah kisah tentang Sayyidina Umar ra, suatu ketika dengan ditemani Sayyidina Anas Bin Malik ra, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya. Sementara itu sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung disabuknya. Ia bertanya-tanya dimana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar keseluruh dunia pasti tinggal di Istana yang sangat megah.

Sampai di Madinah mereka langsung menuju tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga bertemu Umar.

Melihat rombongan itu, anak-anak di Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan masjid dengan menggunakan mantelnya sebagai bantal seorang diri. Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukan bahwa Umar adalah lelaki yang berpakaian seadanya yang tidur di Masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya, tetapi memang itulah kenyataannya.

Sambil berdecak kagum Hurmuzan mengatakan, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman.”

Sayangnya, kisah kesederhanaan beliau ra sangat jarang kita jumpai di kalangan pemimpin kita pada hari ini. Setiap pemimpin/ pejabat saling berlomba lomba untuk memperkaya dirinya sendiri. Tidak jarang demi menjaga gaya hidup mewahnya, mereka tak segan-segan untuk mengambil yang bukan menjadi haknya. Sehingga tak heran, jika kemudian kita menemukan peristiwa yang sangat memalukan, seorang tokoh dari partai berbasis Islam yang selama ini terkenal bersih, ternyata terlibat dalam tindak korupsi daging sapi.

Namun jauh di sana, di sebuah negara yang belum pernah disinggahi oleh Sayyidina Umar ra, hidup seorang pemimpin yang sangat sederhana dan bersahaja. Jose Mujica namanya. Berbadan tambun, sinar matanya sangat ramah dan senyumnya juga hangat. Mengenakan baju yang sangat sederhana yang tak ubahnya seperti baju yang dikenakan seorang petani ataupun buruh kasar, siapa yang menyangka jika beliau adalah Presiden Uruguay.

Jose Mujica memimpin Uruguay sejak tahun 2010, dan sebelumnya beliau menjabat sebagai Menteri Pertanian Peternakan dan Perikanan (2005-2008) dan kemudian menjadi senator. Meski demikian, gaya hidupnya tetap sederhana.

Pria bernama lengkap José Alberto Mujica Cordano ini mendonasikan 90 persen gajinya setiap bulan, yaitu 12.000 dollar AS atau hampir Rp 120 juta, untuk berbagai kegiatan amal. Tak hanya itu, pria yang oleh kawan-kawannya dipanggil Pepe ini juga menolak tinggal di kediaman resmi kepresidenan di ibu kota, Montevideo. Mujica lebih memilih tinggal di tanah pertanian di luar ibu kota. Bahkan, jalan menuju kediaman Mujica belum dilapisi aspal.

Tak ada penjagaan ketat pasukan elite kepresidenan. Hanya dua polisi dan anjingnya yang hanya memiliki tiga kaki, Manuela, yang terlihat mengawasi di pintu masuk pertaniannya. Di pertaniannya, Mujica dan istrinya bahkan menanam sendiri bunga-bunga yang menjadi pemasukan baginya. Apa alasan Mujica memilih hidup sederhana meski jabatannya adalah seorang presiden?

“Hampir seluruh hidup saya habiskan dengan cara seperti ini. Saya bisa hidup baik dengan apa yang saya miliki saat ini,” kata Mujica sambil duduk di sebuah kursi tua di kebunnya.

Pada 2010, ketika kekayaan pribadinya diumumkan—yang merupakan kewajiban pejabat publik Uruguay, saat itu total kekayaan Mujica hanya 1.000 dollar (kurang lebih 11 juta). Uang sebanyak itu hanya bisa digunakan untuk membeli sebuah mobil VW Beetle keluaran 1987.

Apa penyebab Mujica begitu miskin? Ternyata, selama 1960-an sampai 1970-an, dia adalah anggota pemberontak Tupamaros, kelompok bersenjata berhaluan kiri yang terinspirasi revolusi Kuba. Dia pernah enam kali tertembak dan mendekam 14 tahun di  penjara. Sebagian besar masa penahanannya dilalui dalam kondisi yang sangat buruk dan dalam sel isolasi.

Namun, masa-masa dia dalam penjara itulah yang menurut Mujica membentuk kepribadian dan pandangan hidupnya. “Saya disebut presiden termiskin di dunia, tetapi saya tak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih,” ujarnya berfilosofi.

“Ini adalah masalah kebebasan. Jika Anda tak memiliki banyak barang maka Anda tak perlu bekerja keras untuk mempertahankannya dan bekerja seumur hidup layaknya budak. Dengan cara seperti ini, Anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri,” tambah dia.

“Banyak yang mengatakan saya orang tua gila atau eksentrik, tapi ini adalah masalah pilihan,” lanjutnya.

Tahun ini, Jose Mujica menjadi nominasi peraih Nobel Perdamaian. (fa/LiputanIslam.com)

Referensi:

Ikatan Para Pecinta Rasulullah Saw: Kesederhanaan Sayyidina Umar bin Khattab ra

Kompas: Jose Mujica, Presiden Termiskin di Dunia

Russia Today: Urugay’s President Nominated for Nobel Peace Prize

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*