foto: Liputanislam.com

foto: Liputanislam.com

LiputanIslam.com — Sekolah Islam Darul Hikam Bandung, siapa yang tidak mengenalnya? Berada di bawah naungan Yayasan Darul Hikam, sekolah yang memiliki ribuan siswa ini, merupakan salah satu sekolah favorit di Jawa Barat.

Dan apa jadinya, jika Yayasan Darul Hikam, memfasilitasi penyebaran kebencian terhadap pihak lain? Sayangnya, itulah yang terjadi pada Sabtu, 6 Desember 2014. Bertempat di Masjid Al-Ihsan Bandung, digelar acara Tabligh Akbar Sunni-Syiah, tak kurang dari 300 peserta hadir dalam acara tersebut.

Sekitar pukul 10.00 WIB, Dr Sodik Mudjahid selaku Ketua Yayasan Darul Hikam memberikan sambutannya. Ia mengajak kepada ummat Islam agar tidak alergi terhadap politik, karena menurutnya, hal ini akan dimanfaatkan oleh kaum liberal, PKI, dan Syiah untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.

“Saya memang berasal dari Partai Gerindra, dianggap sekuler. Tapi jangan salah, saya memperjuangkan ummat Islam. Misalnya, dalam menyikapi UU Perkawinan. Saya juga akan berjuang agar anggaran untuk perguruan tinggi agama Islam bisa ditingkatkan,” tuturnya.

Dr Sodik menceritakan alasan yang menyebabkan ia berada di Komisi VIII, dan bahkan, ia berhasil menjadi Wakil Ketua di komisi yang khusus mengatur tentang agama, budaya, dan perempuan.

“Awalnya saya hendak ditempatkan di Komisi V, yang mengatur tentang infrastruktur. Tapi kemudian saya melihat ada Jalaludin Rakhmat, tokoh Syiah, dia ada di Komisi VIII. Akhirnya saya meminta supaya pindah ke Komisi VIII. Di sini saya akan bertempur melawan tokoh Syiah,” ujarnya.

Sodik Mudjahid, Wakil Ketua Komisi VIII, Ketua Yayasan Darul Hikam

Sodik Mudjahid, Wakil Ketua Komisi VIII, Ketua Yayasan Darul Hikam

Buku Merah MUI Habis, Buku Saku Baru Terbit

Sebelum acara dimulai, panitia membagi-bagikan sebuah buku saku yang ditulis oleh KH Prof. Dr. M. Abdurrahman, M.A., Dosen Pascasarjana Universitas Islam Bandung. Tokoh Persis ini didapuk menjadi narasumber acara.

“Saya sudah meminta buku dari MUI, namun ternyata sudah habis. Buku saku ini saya susun agar menjadi pegangan Bapak dan Ibu,” ucapnya.

Ia pun lantas mengulang-ulang tuduhan-tuduhan penyimpangan Syiah, sebagaimana umum dibahas dalam seminar anti-Syiah yang lain (dan sebenarnya telah berkali-kali dibantah oleh umat Syiah dan ulama NU, antara lain KH Al Bantani). Tak luput, Prof Abdurrahman juga bercerita tentang kondisi Timur Tengah yang dilanda konflik.

“Lihatlah saudara kita di Irak. Dulu Irak dipimpin oleh Saddam Hussain. Sepeninggal Saddam, negeri itu sekarang dipimpin oleh Syiah, apa yang terjadi?”

“Kalian tahu ISIS kan? Itu adalah Islamic State of Iraq and Syria. ISIS adalah pemuda-pemuda Ahlussunah yang dizalimi oleh rezim Syiah. Makanya mereka memberontak. Tapi kalau di Indonesia, kita tidak perlu ISIS, karena kita telah memiliki NKRI,” jelasnya.

Risalah Amman Diperdagangkan?

Prof Maman mengakui, memang benar telah terjadi perundingan untuk merajut persatuan Islam di Amman, Yordania, yang kemudian dikenal sebagai Risallah Amman. Namun ia menuduh, hal ini hanya menguntungkan Syiah.

“Syiah menjadikan Risalah Amman sebagai alat untuk mengekspor ajarannya lebih luas. Syeikh Yusuf Qardhawi dan ulama Al-Azhar lainnya banyak menyesalkan hal ini,” ucapnya.

Prof Maman Abdurrahman

Prof Maman Abdurrahman

“Lihatlah Suriah, pemimpinnya adalah Syiah Nushairiyah. Sudah 200.000 korban jiwa jatuh. Mereka membantai orang-orang yang tidak berdosa baik pria, wanita maupun anak-anak. Mengapa mereka tega melakukan itu?” tanya dia.

Seorang peserta bertanya,”Ustadz, apakah perang di Suriah merupakan pertikaian karena masalah aqidah atau politik?”

“Begini, perang Suriah memang tidak bisa dilepaskan dari faktor politik. Tapi yang menjadi korban paling banyak adalah kaum Ahulussunah. Bashar Al-Assad ini sudah terlalu lama berkuasa, dan seharusnya ia bersedia diajak berdialog. Lihatlah, mereka menggunakan Risalah Amman sebagai ‘barang dagangan’, namun saat mereka berkuasa, maka Ahlussunah akan dibantai,” tudingnya.

Tentang Konflik Suriah

Yang disampaikan Prof Maman sepertinya tidak sesuai dengan pengetahuan banyak orang tentang geopolitik internasional. Sepeti diketahui, konflik Suriah yang telah berlangsung hampir empat tahun merupakan proxy war dengan berbagai agenda, yaitu mengamankan eksistensi Israel dari ancaman poros perlawanan (Iran-Suriah-Hizbullah-Hamas), menggambar ulang peta Timur Tengah dengan memecah belah kaum Muslimin dengan isu sekterian, dan mengeruk sumber daya alam Suriah yang melimpah. Tak heran bila para pemberontak Suriah pun saat terluka justru dirawat di rumah sakit Israel

Netanyahu-dan-AssadSayangnya, banyak ulama yang tertipu oleh agenda Israel ini. Misalnya Syeikh Yusuf Qardhawi (SYQ). Beliau pada awalnya adalah ulama yang turut menandatangani Risalah Amman. Bahkan ketika ia mengunjungi Suriah pada tahun 2004, SYQ memuji Bashar Al-Assad dengan sebutan aqluh yafuq umrah yang maksudnya adalah, menurut SYQ, nalar Presiden Assad melampaui usianya. Beliau mengungkapkan hal tersebut saat kunjungan resmi pertama kalinya ke Suriah untuk mengadiri Muktamar Internasional di Syeikh Ahmad Kuftaroo Islamic Foundation, Damaskus. Sebelumnya, SYQ masuk dalam daftar cekal (tidak diizinkan ke Suriah) karena ideologi IM yang diusungnya. Atas syafaat dari beberapa ulama – termasuk Syeikh Buthi, SYQ akhirnya diizinkan memasuki Suriah.

Buku Saku karya Prof Abdurrahman. foto: LI

Buku Saku karya Prof Abdurrahman. foto: LI

“Salam kami kepada orang-orang Suriah, dan salam kepada pemimpin Bashar al-Assad, dan salam kepada pemerintah dan semuanya,” ucap SYQ, bisa disaksikan di video ini.

Tapi kemudian, SYQ memilih mendukung pemberontakan di Suriah, dan mengeluarkan fatwa horor, yaitu halal untuk membunuh siapapun yang mendukung pemerintahan Bashar al-Assad, baik itu tentara, ulama, tenaga kesehatan hingga rakyat sipil. SYQ juga mengutuk Hizbullah dan Iran, dan menyebut Hizbullah dengan Hizbuzyaiton.

Syeikh Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunah yang begitu disegani di seluruh dunia pun menjadi korban atas fatwa tersebut. Ia dibunuh di sebuah masjid ketika tengah mengajar. Nasib serupa menimpa  Sheikh Hassan Saifuddin seorang ulama yang menentang pemberontakan di Suriah, secara brutal dipenggal kepalanya di bagian utara Kota Aleppo. Tubuhnya diseret ke jalanan dan kepalanya ditancapkan di menara masjid yang biasa digunakannya untuk berkhotbah. Ulama yang terbunuh, adalah ulama Ahlussunah. Tentara Suriah dan rakyat Suriah yang tewas juga mayoritas Ahlussunah.

Tentang ISIS

ISIS merupakan organisasi teroris transnasional yang menurut beberapa ulama terkemuka, sama sekali tidak mewakili Islam. Berikut ini, adalah pernyataan-pernyataan yang berhasil dihimpun oleh Liputan Islam;

Lembaga Dakwah Mesir, “Tindakan gerakan ISIS di Irak berupa penumpahan darah dan pembantaian rakyat Irak sama sekali bukan bagian dari Islam,” ujar Dr. Adel Nasr, ketua Lembaga Dakwah Salafi Mesir Rabu (16/7), sebagaimana dilansir al-Youm al-Sabea. 

Syekh Alawi Amin, salah satu ulama dan guru besar Universitas al-Azhar menilai aksi ISIS di Irak tidak lepas dari agenda Amerika Serikat (AS) dan Zionisme internasional. “AS berada di balik barisan ini, sedangkan Zionisme internasional menggerakkan mereka yang menamakan dirinya ISIS dan mengaku Islam, padahal Islam berlepas diri dari mereka sebagaimana serigala berlepas diri dari dosa anak-anak Nabi Ya’kub as,” ujar Syekh Alawi.

Situasi masjid usai tabligh akbar

Situasi masjid usai tabligh akbar

Ketua Majelis Ulama (Ahlussunnah) Irak, Syekh Harist al-Dhari, mengecam deklarasi kekhalifan ISIS dan menyebutnya sebagai tindakan yang menjurus pada pemecah belahan Irak. ““Baiat kepada kekhalifahan ini bukanlah kewajiban syariat bagi siapapun. Tindakan (deklarasi kekhalifahan) itu adalah dalih untuk memecah belah Irak serta mendatangkan kerugian dan petaka bagi rakyat negara ini.”

Majelis Ulama Indonesia (MUI). Secara tegas MUI melarang tumbuh dan berkembangnya gerakan kelompok ISIS. Bahkan, gerakan radikal ini juga disebut sebagai salah satu perbuatan yang dilarang bagi umat Islam atau dinyatakan sebagai gerakan haram. Menurut Wakil Ketua MUI KH Ma’aruf Amin, ISIS menjadi haram lantaran apa yang dilakukan kelompok tersebut seperti melakukan tindakan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan sudah keluar dari ajaran Islam.

Nahdlatul Ulama (NU). Wakil Ketua Asosiasi Pondok Pesantren NU Indonesia KH Ahmad Fahrurozzi menyatakan umat Islam di lingkungan pesantren telah diajarkan paham Islam yang cinta damai dan penuh dengan toleransi. Dan menurutnya, ideologi ISIS yang penuh dengan kekerasan tidak cocok dengan kultur Indonesia. Lingkungan  NU menjunjung nilai Pancasila yang dianggap sejalan dengan ajaran Islam sebagai agama pembawa rahmat.

Muhammadiyah. Menurut beberapa organisasi yang tergabung di bawah naungan Muhammadiyah, ISIS bukanlah gerakan Islam tetapi gerakan politik yang mengatasnamakan Islam untuk merebut kekuasaan politik di Irak dan Suriah. Selain itu, ISIS tidak ada hubungannya dengan persoalan politik di negara-negara lainnya, termasuk Indonesia.Menurut Syamsul Arifin, Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Muhammadiyah Malang, organisasi ISIS bisa masuk ke Indonesia karena ada potensi bahwa kelompok Islam radikal bisa berkembang di Indonesia. (Rizky A/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL