stba yapariGaung Takfiri kembali bergema di Bandung. Setelah sebelumnya dilangsungkan acara Deklarasi Aliansi Nasional Anti-Syiah pada tanggal 20 April di Masjid Al Fajr, Cijagra, kini Kampus STBA Yapari Cihampelas, sebuah Sekolah Tinggi Bahasa – menjadi ajang penyebar kebencian. Acara yang dipenuhi takfirisme tersebut dikemas dengan isu kemanusiaan, yang bertajuk Tabligh Akbar Peduli Suriah.

Tertunda selama satu jam, akhirnya acara dimulai pada pukul 9.30 WIB tanpa ada sambutan dari pihak pejabat kampus. Peserta yang hadir sekitar 70 orang, sebagian dari mereka terlihat sudah berumur dan mengenakan kaffiyeh (syal khas Palestina).

Kang Ucay yang memiliki nama asli Noor Al Kautsar tampil menceritakan kisah hidupnya. Dia dulunya adalah seorang rocker, pengikut pemikiran JIL, lalu kemudian bertobat dan hijrah hidup Islami. Dalam kesempatan tersebut dia sama sekali tidak bicara soal Suriah. Sepertinya Kang Ucay hanya diundang untuk menarik minat kaum muda supaya menghadiri acara tersebut.

Belajarlah Syiah dari Google?

Pembicara kedua adalahUstadz Rizal Dzulqornain, yang konon adalah seorang motivator dan pemerhati Syiah. Dia menuturkan sudah sejak lama melakukan penelitian terhadap Syiah. Menurutnya, dengan membuka google, kita bisa mendapatkan informasi lengkap soal Syiah. Dia juga melarang para hadirin untuk memikirkan/mempelajari Syiah karena dikhawatirkan akan menjadi pengikut Syiah.

Materi yang disampaikan selanjutnya tidak jauh berbeda dari acara serupa yang digalang kaum takfiri (baca liputan kami sebelumnya di sini, sini, sini).

suriah salat jumat di masjid khaled al waled, homs (16/5/2014)

suriah salat jumat di masjid khaled al waled, homs (16/5/2014)

Ustadz Rizal mengemas isu-isu negatif seputaran Syiah yang sudah sering diklarifikasi para ulama dan pemerhati Syiah. Yang terasa baru dari isi materinya, Ustadz Rizal mengungkapkan adanya Syiah Batiniah di Suriah, yaitu sekte Syiah garis keras yang dianut oleh penduduk setempat. Syiah Batiniah berpendapat bahwa membunuh Muslim Sunni akan mendapatkan pahala yang besar. “Karena itulah Suriah adalah basis Syiah radikal,” ungkap Rizal.

Pernyataan Rizal kontradiktif dengan fakta bahwa Mufti Suriah, Syeikh Ahmad Hassoun adalah seorang Sunni Syafii, begitupun dengan mufti-mufti Suriah sebelumya yang berasal dari kalangan Muslim Sunni. Bahkan, menurut Ustadz MM, mahasiswa NU yang telah 10 tahun belajar di Suriah, dalam penjelasannya kepada LI,  saat ini sekitar 150 pelajar Indonesia memperdalam ilmunya di Suriah. Mereka belajar di universitas-universitas Islam moderat yang kebanyakan berdasarkan pada fiqih Syafii dan Hanafi, seperti Universitas Syeikh Ahmad Kuftaroo.

Menurut Ustadz MM, para pelajar asing ini, walau harus menempuh proses administrasi yang rumit – berhak mendapatkan kartu iqomah, yaitu sebuah fasilitas yang memungkinkan bagi keluarga pelajar asing untuk mendapatkan visa masuk ke Suriah dengan mudah. Dengan kartu tersebut, warga asing yang ingin kembali ke Suriah juga tidak perlu lagi menggunakan visa masuk. Pelayanan kesehatan gratis di Rumah Sakit, dan berbagai kemudahan lainnya juga bisa didapat dengan menunjukkan kartu iqomah. (simak wawancara kami dengan Ustadz MM: Media Melakuan Pembodohan Sistematis)

Kemudian, Ustadz Rizal membebarkan berbagai kesesatan Syiah, antara lain memiliki Al-Quran yang berbeda. Dengan berbagai penyimpangan tersebut, Rizal menyimpulkan bahwa Syiah bukanlah mazhab melainkan agama di luar Islam. Namun, hal ini juga berbeda dengan kesaksian K.H Luthfi Hakim, MA pengasuh Pondok Pesantren Ziyadatul Mubtadi-ien Jakarta mengecek langsung Al-Qur’an cetakan Qom Iran, di pabrik percetakan Al-Qur’an terbesar di Qom. Diakhir pengecekan, beliau sembari tersenyum berkata, “Iya, tidak ada bedanya.” (baca liputan LI di sini)

Jum’at Dijadikan Hari Pembantaian?

Pembicara selanjutnya adalah Angga Dimas, relawan HASI yang pernah membantu para mujahidin di Suriah. Dia memulai presentasinya dengan menayangkan video yang diklaimnya sebagai video Suriah, meskipun tidak terlihat indikasi lokasi rekaman video itu. Terlihat bom, asap, terdengar teriakan Allahu Akbar. Tidak terlihat dalam video ada tentara Suriah. Namun bersamaan dengan penayangan video, Angga Dimas memberikan penjelasan. Menurutnya, “Hari Jumat menjadi hari favorit Bashar Assad memborbardir masjid-masjid ketika sedang menunaikan shalat Jum’at.”

Apa yang disampaikan Angga Dimas bertolak belakang dengan pengakuan dari Shotussalam, sebuah media pendukung kelompok ISIS. Belum lama berselang dengan bangga mereka mengungkapkan ‘mujahidin’ berhasil menghancurkan Masjid sekaligus makam sahabat Nabi Saw yaitu Uwais Al Qarni ra dan Ammar bin Yassir ra. Sebelumnya, Masjid Umayyah di Allepo dihancurkan, masjid Sayyidah Zainab juga diserang, begitupula halnya dengan makam sahabat Hujr bin Adi ra yang dihancurkan dan digali. Jadi, siapa sesungguhnya yang menghancurkan masjid-masjid di Suriah?

Berita terbaru dari Homs pun menyebutkan bahwa setelah para teroris diusir dari kota itu, sholat Jumat bisa dilaksanakan kembali dengan aman. Terlihat kaum Sunni dan Syiah berdampingan sholat Jumat di masjid Khaled al Waled (salah seorang sahabat yang sangat dihormati kaum Ahlus-Sunnah).

Bertamu ke Iran, Tak Ada Masjid?

anggaAngga Dimas mengaku pernah bertandang ke Iran selama delapan hari, dan bertemu dengan Ahmadibejad [yang dimaksudnya: Ahmadinejad]. “Ketemu betul saya dengan Ahmadibejad, cuma saya nggak mau foto aja!” kata Angga.

Menurutnya, di Iran tidak ada satupun masjid kaum muslimin, yang ada hanya husainiyah, masjidnya orang Syiah, bahkan yang banyak adalah sinagog. “Sinagog itu adalah tempat ibadahnya orang Yahudi. Ada di Teheran! Jadi kalau Iran teriak-teriak anti Yahudi-anti Israel itu omong kosong! Saya berani bersumpah!”

Nah, beberapa hari yang lalu dr Atma Gunawan SpPd. KGH (Spesialis Penyakit Ginjal & Hipertensi Nephrologist) dari Universitas Brawijaya yang melakukan kunjungan ke Iran pada 11-14 Mei 2014 untuk menghadiri National Kidney Transplant Meeting di Tehran, memberikan kesaksian yang berbeda. Sang dokter mengungkapkan bahwa Iran memiliki komitmen yang kuat untuk membebaskan masjidil Aqsa dari cengkeraman Yahudi. Selain konsisten membantu pejuang Hizbullah dan Paletina, hampir tiap kota ditemui masjid besar bentuknya replika dari masjidil Aqsa. Ini untuk menanamkan kesadaran bangsa Iran bahwa perjuangan mereka belum selesai sampai masjidil Aqsa dibebaskan dari Israel.

Sesi Tanya Jawab

diskusi takfirisme STBA

diskusi takfirisme di STBA Yapari (foto:LiputanIslam.com)

Adzan Dhuhur pun terdengar, namun acara tetap berlanjut. Mereka tetap berbicara, tidak berhenti sejenak untuk menghormati adzan, apalagi untuk melakukan shalat Dhuhur. Salah satu ustadz tersebut berkata,”Teruskan saja dulu [acaranya] …”

Dalam sesi tanya jawab, hanya satu pertanyaan dari peserta, “Tolong jelaskan apa akidah Syiah, mengapa Bapak bisa mengklaim bahwa Syiah itu bukan mazhab tapi agama yang di luar Islam?”

Dijawab oleh Rizal, “Al-Qurannya kan beda, apakah kita sebagai muslim mau disamakan dengan Syiah padahal akidah kita berbeda? Mereka mengikuti fatwa dari Ayatullah yang berubah-ubah terus!” Tetapi, Rizal tidak memberikan contoh, apa fatwa yang berubah-ubah itu.

Akhirnya acara ditutup dengan pembagian buku MMPSI, dan penggalangan dana – yang juga tidak disebutkan berapa dana yang terkumpul dalam acara tersebut. Pukul 12.45, acara pun usai.(mn/ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL