Habib R 3

Para peserta Tabligh Akbar membludak memenuhi lokasi acara

LiputanIslam.com– Sejak pagi (30/3), suasana Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ) IX sudah terlihat ramai. Masjid itu menjadi tempat dilangsungkannya acara Tabligh Akbar yang diprakarsai oleh Radio Silahturahiim (Rasil), yang bekerja sama dengan Front Pembela Islam (FPI). Laskar FPI dari berbagai daerah dan para pendengar setia Rasil terlihat memadati lokasi acara. Turut juga hadir massa yang berasal dari sejumlah organisasi Islam seperti Forum Silahturahiim Masjid Se-Bintaro (FORSIL) yang menaungi sekitar 35 masjid dan mushalla, serta Gerakan Muslimin Pembela Rasulullah (GEMPUR). Kehadiran mereka menjadikan area masjid tersemakin terasa penuh sesak. Warga asli Bintaro pun terlihat antusias berduyun-duyun menghadiri Tabligh Akbar.

Menurut pengamatan Liputan Islam, jumlah keseluruhan peserta acara ini tidak kurang dari 5.000 orang. Panitia menyediakan ruangan di lantai atas untuk peserta pria, dan peserta wanita ditempatkan di lantai bawah.  Acara yang disiarkan langsung oleh Rasil 720 AM ini dipandu oleh Mas Krisna.

Ustadz Husein: Bersatulah Jangan Berpecah

Tepat pukul 09.30 WIB, Ustadz Husein bin Hamid bin Alwi bin Hud Alatas selaku penceramah pertama mulai menyampaikan materinya. Isi ceramah Ustadz Husein berkaitan dengan pentingnya persatuan Islam. Menurutnya, para nabi yang diutus kepada umat manusia, senantiasa menyerukan persatuan dan melarang umatnya berpecah belah. Umat seharusnya menjadi seperti sapu lidi yang terdiri dari ratusan batang lidi yang terikat kuat. Kekuatan bersama inilah yang akan sanggup untuk membersihkan sampah dan debu yang bertebaran. Sebaliknya, jika kita saling menjatuhkan satu sama lain, ummat Islam tidak akan mungkin bisa menjalankan perintah agama.

Habib R 2

Habib Rizieq dan rekan-rekannya di lokasi acara

Ustadz Husein juga memaparkan, bagaimana seluruh imam mazhab menyeru pengikutnya agar kembali kepada Islam dan menjauhi perpecahan. Perbedaan dalam setiap mazhab, menurutnya, adalah sebuah keniscayaan yang tidak perlu diperuncing. Seruan terhadap persatuan ummat adalah perintah agama. Sayangnya, menurut Ustadz Husein, kecintaan kepada dunia seringkali menjadikan manusia menjadi tuli dan lalai dari perintah Allah. Beliau mengambil contoh saat Perang Badar dan Perang Uhud berlangsung. Kedua perang ini merupakan saksi sejarah. Ketika pada Perang Badar, para sahabat patuh pada perintah Rasulullah SAW. Saat itu Islam mencapai kemenangan. Namun, saat para sahabat tidak patuh pada komando di Perang Uhud, karena mereka mengejar ghanimah, perang itu berujung pada kekalahan kaum Muslimin.

Lebih lanjut, Ustadz Husein menyampaikan bahwa Allah menjanjikan kemenangan bagi mereka yang beriman dan di bawah naungan Allah. Namun untuk meraih kemenangan, kaum Muslimin harus saling melindungi dan membela di antara sesama, bukannya malah saling bermusuhan dan meniadakan.

Ada Upaya Sabotase

Setelah Ustadz Husein Alatas, giliran perwakilan dari  DKM MRBJ IX, yaitu  Rahman Noto Wibowo, yang memberikan sambutannya. Menurutnya, acara Tabligh Akbar banyak menghadapi rintangan. Sambil berterimakasih kepada Polres dan anggota TNI yang sudah bersedia mengawal acara ini, Rahman menyatakan bahwa ada upaya penolakan dan pembubaran paksa atas terselenggaranya acara ini. Mereka yang berupaya melakukan sabotase itu menamakan dirinya “Penegak Sunah.”

Penolakan atas Tabligh Akbar ini disebarluaskan melalui jejaring sosial dan surat. Alasan mereka, Ustadz Husein Alatas (konon) terindikasi sebagai orang Syiah. Namun upaya sabotase ini tidak berhasil membuat surutnya langkah masyarakat pencinta persatuan dan perdamaian, terbukti dari ramainya hadirin pada acara ini.

Habib Rizieq: Takfiri Sudah Ada Sejak Dulu

Habib R

Habib rizieq saat memberikan ceramah

Pada acara puncak, Habib Rizieq Shihab menyampaikan ceramahnya. Beliau menyampaikan pentingnya diselenggarakan dialog antar mazhab untuk menemukan solusi dari berbagai gesekan yang timbul akhir-akhir ini.  Hal ini tentunya dimaksudkan untuk mencegah kaum muslimin dari sikap takfiri, yaitu gemar mengkafirkan kepada kelompok lain; padahal kelompok yang dikafirkan memiliki tanda-tanda keislaman dan keimanan.

Habib Rizieq kemudian mengutip hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sepeninggal beliau, akan ada sekelompok kaum yang mengaku sebagai orang Islam. Ibadah mereka sangat hebat, rajin shalat dan puasanya. Mereka juga mampu melantunkan ayat- ayat al-Qur’an dengan sangat indah. Sayangnya, kelompok itu gemar mengkafirkan kelompok lain yang berbeda pemahaman dengannya. Dengan sikap takfiri tersebut, mereka telah dikatakan akan menjadi kelompok yang suka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala.

Habib Rizieq menuturkan bahwa kelompok ini benar-benar muncul pada masa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.  Mereka awalnya adalah pengikut Imam ‘Ali. Namun, lantaran perbedaan sikap, mereka pun kemudian membangkang, dan mengkafirkan, dan akhirnya memerangi Imam.

ammanmessage.com

Kunjungi www.ammanmessage.com

Habib Rizieq kemudian mengutip dialog yang terjadi antara Imam Ali dan para pengikut beliau, terkait dengan posisi kelompok baru yang gemar mengkafirkan orang lain itu. Sebagian mengusulkan agar mereka diposisikan sebagai orang kafir atau munafik. Imam Ali menolak pendapat tersebut. Menurut Imam Ali, meskipun kelompok itu mengkafirkan dirinya, mereka tetap saja saudara seiman. Hanya saja, mereka punya pendapat yang berbeda.

Jadi, menurut Habib Rizieq, kalau kita mau mencontoh Imam Ali yang merupakan didikan Rasul, kita tidak boleh sembarangan menjatuhkan vonis kafir kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita dalam urusan agama. Sikap mencontoh Imam Ali inilah yang ditunjukkan para ulama terdahulu  dan ulama kontemporer yang lurus. Mereka semuanya mengajak kepada persatuan. Syeikh Mahmud Saltut, Syeikh Ramadhan al-Buthi, dan Syeikh Ali Jum’ah, adalah di antara contoh para ulama tersebut.

Risalah Amman dan Undang-Undang Iran

Risalah Amman pun menjadi salah satu yang dibahas oleh Habib Rizieq. Beliau mengingatkan bahwa dalam kesepakatan yang telah ditandatangani oleh 552 ulama dan tokoh dari 80 negara di dunia, dinyatakan sejelas-jelasnya bahwa ada delapan mazhab yang diakui dalam Islam, termasuk Syiah Imamiyah dan Zaidiyah. Begitu juga halnya dengan para penganut Asy’ari, Maturidi, Tasawuf, dan Salafi yang lurus, mereka adalah muslim yang harus dijaga kehormatan dan darahnya.

ukhuwah-islamiyah

Habib Rizieq bersama ulama Iran yang berkunjung ke Indonesia. Sumber foto: Satu Islam

Habib Rizieq lalu menyindir kelompok yang suka mengafirkan ini sebagai ‘orang-orang baru’ yang mengikuti seorang “Imam Baru”. Yang jelas, menurutnya, para ulama besar Islam tidak pernah punya penyakit ini.

Di akhir ceramahnya, Habib Rizieq yang beberapa tahun yang lalu pernah berkunjung ke Iran, secara tersirat membantah tuduhan kelompok takfiri bahwa di Iran, Ahlussunah dilarang untuk berdakwah, bahkan dianiaya, dizalimi, hingga dibantai.  Habib Rizieq menyatakan bahwa jika di Iran ada undang-undang yang melegalkan penindasan terhadap Ahlussunnah, dirinya akan berjuang agar di Indonesia dibuatkan undang-undang serupa, yaitu undang-undang yang melarang orang Syiah Indonesia untuk berdakwah. Fakta bahwa sampai kini tidak ada ‘perjuangan’ itu dari Habib Rizieq, menunjukkan bahwa memang di Iran tidak ada undang-undang semacam itu.

Adzan Zhuhur sayup-sayup terdengar. Habib Rizieq pun menyudahi kajiannya dengan berdo’a bersama dan bersiap untuk melakukan shalat berjama’ah. Tampak matahari bersinar begitu cerah, secerah nasehat-nasehat bijak dari Ustadz Husein dan Habib Rizieq, dua cicit dari Rasulullah SAW yang tak putus-putusnya menyeru kepada persatuan umat dan melarang perpecahan. (ah/ba/by/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL