zarb avaJakarta, LiputanIslam.com–Di tengah memanasnya atmosfer gesekan antarmazhab (baca: Sunni-Syiah) di Indonesia, yang dihembuskan oleh kelompok-kelompok anti-ukhuwah, Forum Jum’at (an) Jaringan GUSDURian menggelar dialog “Titik Temu Sunni-Syiah”. Acara itu diselenggarakan pada Jumat malam (7/2) di kantor The Wahid Institute Jakarta, Jalan Taman Amir Hamzah No. 8.

Dialog ini ibarat oase di padang pasir yang memuaskan dahaga umat Islam yang haus persatuan. Ini tercermin dari antusiasme peserta yang memadati lokasi sejak maghrib. Acara tersebut dimulai pada jam 19.00 WIB, dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan. Kegiatan berlangsung lancar, diselingi gelak tawa peserta dan pembicara, seakan mencairkan suasana kehidupan di Tanah Air yang agak membeku akhir-akhir ini akibat ulah para propagandis anti persatuan.

Acara Forum Jum’at (an) Jaringan GUSDURian kali ini diakui Annisa Wahid, puteri Gus Dur, sungguh berbeda. “Biasanya kegiatan kami dihadiri puluhan orang yang mayoritas generasi muda. Tapi malam ini benar-benar di luar dugaan; ternyata banyak yang tertarik dengan temanya. Mungkin masyarakat sulit menemukan perbincangan seperti ini di tempat lain,” demikian Annisa dalam kata sambutannya.

Acara dibuka dengan musik tradisional Iran yang dibawakan oleh Zarb Ava. Grup musik ini membawakan lagu-lagu sufistik yang menyentuh hati. Hadirin menikmati keindahan alunan dan iramanya dengan takjub, yang sesekali diiringi tepuk tangan dan ucapan: “Subhanallah!”

Pada kesempatan itu, Annisa selaku Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian, mengharapkan umat bisa menyikapi heterogenitas. “Persoalan esensial yang dihadapi rakyat Indonesia, terutama Muslim, adalah ketidaksiapan menghadapi perbedaan,” ungkapnya.

Dalam menyikapi hal ini, Gus Dur semasa hidupnya senantiasa menyerukan agar masyarakat menjalin dialog dan silaturahim. “Gus Dur menekankan agar yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan. Inilah fondasi dialog antara umat yang mengantarkan kepada toleransi,” ujar Annisa dengan bersemangat.

Ia mengajak para pecinta ayahnya untuk memerhatikan 9 Nilai Dasar Gus Dur. “Silahkan mengakses www.gusdurian.net untuk mempelajari Nilai-nilai Dasar yang menjadi asas pandangan Gusdur yang dirumuskan oleh pelanjut pemikiran beliau,” ungkap Annisa yang kini menjabat Ketua The Wahid Institute.

gusdurian3Dialog pada malam itu juga dihadiri Mr. Ibrahimian, Atase Kebudayaan Iran pada Kedubes Republik Islam Iran untuk Indonesia. Ia menyatakan bahwa setiap awal Februari, rakyat Iran bersuka cita merayakan kemenangan Revolusi Islam (1979). Imam Khomeini adalah tokoh revolusi yang memiliki pengaruh besar terhadap rakyat dan umat Islam, terutama generasi muda. Gus Dur juga memiliki pemikiran besar dan banyak pengikut.

“Saya mendapat penjelasan dari Mr. Jalal (Jalaluddin Rakhmat) dan Mr. Zuhairi (Zuhairi Misrawi) bahwa peserta yang berkumpul di sini adalah GUSDURian. Nah, kalian pasti memiliki alasan mengapa menggali pemikiran Gus Dur. Menurut kami, beliau adalah tokoh besar yang mendunia,” ujarnya.

Adapun hal penting yang ditekankan Ibrahimian adalah problematika yang dihadapi umat Islam. “Musuh-musuh Islam sangat gencar memporak-porandakan umat, terutama di Indonesia sebagai Muslim terbesar di dunia, dengan bantuan kaum Salafi-Takfiri,” ungkapnya lantang.

Ibrahimian menegaskan bahwa sasaran Salafi-Takfiri kali ini adalah Syiah dengan menggulirkan tuduhan “sesat”. Setelah itu, mereka akan mencari sasaran baru untuk dikafirkan. Tentu saja hal tersebut akan mengancam kedamaian bahkan kesejahteraan masyarakat. Maka, kita harus menjunjung persatuan dan kesatuan yang diajarkan dalam al-Qur’an bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan balutan kasih-sayang.

Bersatu Demi Kemajuan Bangsa
Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU, menjadi moderator dalam acara ini. Ia membuka dialog dengan mengutip pernyataan Gus Dur bahwa NU adalah Syiah minus Imamah.

Lebih lanjut, Zuhairi mengungkapkan pernyataan resmi Syekh Mahmud Saltut, mufti Universitas Al-Azhar Mesir, bahwa Syiah merupakan salah satu mazhab dalam Islam sebagaimana Sunni. Ia menegaskan titik temu keduanya harus terwujud untuk melawan propaganda kaum Salafi-Takfiri (Wahabi).

“Sunni dan Syiah terbukti memiliki titik temu dengan terselenggaranya dialog ini. Semoga 2000 persen kita bersatu demi melawan takfiri, serta demi kemajuan bangsa,” ucap jebolan Universitas Al-Azhar (Mesir) ini bersemangat.

Di Mana Titik Temu Sunni-Syiah?
gusdurian1Acara yang berlangsung di malam yang cerah itu dihadiri dua pembicara Sunni-Syiah. Dari kalangan Syiah diwakili oleh KH Dr. Jalaluddin Rakhmat (Ketua Dewan Syura IJABI – Ikatan Jama’ah Ahlulbait Indonesia), sedangkan dari Sunni adalah KH Masdar Mas’udi, yang juga adalah pimpinan pada Dewan Pembina NU (Nahdlatul Ulama).

Kang Jalal mengawali pembicaraan dengan membaca Iftitah. Ia mengaku pernah diajak Gus Dur berkeliling daerah untuk bertemu dengan para kader/jamaah NU (Nahdliyin). “Saya sangat dekat dengan Gus Dur, makanya saya bersedia menjadi ABG (Anak Buah Gus Dur),” katanya sambil tertawa.

Kang Jalal kemudian mengutip syair Imam Syafi’i, “Jika mencintai keluarga Nabi (Ahlul Bait) disebut Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa aku adalah seorang Rafidhi.”

Menurutnya, titik temu Sunni dan Syiah sudah terjadi karena sama-sama dikafirkan segelintir orang yang mengaku (mengklaim diri) Ahlussunnah. “Setiap ada persamaan Sunni-Syiah, kaum Wahabi menuduh bahwa Syiah bertentangan dengan Sunni yang disertai pemutarbalikkan fakta,” ungkapnya.

Ia teringat dengan pesan salah satu teman di Amerika pada kartu ucapan: Jangan bangun tembok, bangunlah jembatan! “Jembatan antara kita bisa terwujud karena kita sama-sama memiliki kecintaan kepada Ahlul Bait,” ucap Kang Jalal lagi.

Menurutnya, titik pisah Sunni-Syiah hanya satu, yaitu pandangan mengenai wasiat (yakni wasiat keimamahan/kepemimpinan sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW). Namun, persoalan ini bisa dibicarakan dengan pikiran jernih.

Sementara itu, Kiai Masdar menyatakan bahwa titik temu Sunni-Syi’ah adalah pada kalimah Laa ilaha ilallah, Muhammad ar-Rasulullah. Kiai Masdar juga menyindir salah satu “aliran” yang mengaku Ahlussunnah, tetapi tidak sesuai dengan ajarannya. Menurut Masdar, umat Islam harus belajar dari sejarah, dan bahwa perselisihan yang berlangsung selama berabad-abad harus dihentikan.

“Kita harus berkaca pada sejarah, seperti terjadinya konflik berdarah antarumat Kristen. Kita bisa meminimalisir konflik intern umat Islam yang diakibatkan hal sepele. Masih banyak urusan umat yang lebih penting untuk dicarikan solusinya,” tandasnya.

Selanjutnya, ia mengutarakan bahwa keimanan Muslim itu paranoid terhadap orang lain. “Kita takut melihat orang lain yang berbeda. Padahal, dalam al-Qur’an, 70 persen membicarakan tentang the others. Lagipula, terdapat hadits Nabi tentang firqah dimana Yahudi terbagi menjadi 71, Nasrani menjadi 72, sedangkan Islam 73 firqah. Jadi tafarruq itu inherent,” ujar Masdar dengan serius.

Ukhuwah, Bukan Melebur
Namun, Kiai Masdar juga meminta kaum Syiah agar menahan diri, tidak melakukan self-definition, serta kesediaan untuk tidak menggunakan diksi yang menohok agar tidak tercipta konflik.

“Ketika keyakinan menjadi wacana yang dipublikasikan, pasti memicu konflik. Syiah seharusnya belajar dari NU yang tasammuh dan tawazun. Ini merupakan kedewasaan dalam berkeyakinan atau berideologi karena terkait dengan wisdom (hikmah), bukan benar atau salah,” kata Masdar.

Kemudian, ia berpendapat bahwa Sunni dan Syiah lebih baik berkawan, bukan melebur menjadi satu. Masdar mengungkapkan bahwa keduanya memiliki persamaan tradisi, seperti tahlilan, maulid, ziarah kubur, shalawatan, tawassul, dan lainnya.

gusdurian2Bagi Masdar, perbedaan tafsir dan aturan fikih adalah lazim bagi kalangan NU. “Itu merupakan bagian dari kekayaan khazanah Islam yang diwarisi. Tugas kita adalah menjaga dan mengembangkan melalui dialog yang merujuk pada Gus Dur sebagai teladan par excellence,” ungkapnya lantang.

Masdar mengafirmasi pernyataan Gus Dur bahwa NU adalah Syiah minus Imamah. Namun, Jalal kurang setuju dengan kata “minus”. “Kata ‘minus’ itu tidak enak didengar. Saya lebih setuju kalau menggunakan kata ‘plus’. Makanya saya lebih suka bilang bahwa Syiah adalah Sunni plus Imamah,” katanya seraya tertawa.

Pada akhir acara, panitia membagikan 100 buku secara gratis berjudul “Titik Temu Sunni-Syiah” dan sejumlah al-Qur’an terbitan Iran. Dari Taman Amir Hamzah, semangat untuk bersatu terasa demikian hangat. (Zainab Zilullah/LiputanIslam.com).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL