Pemateri, foto: LiputanIslam

Pemateri, foto: LiputanIslam

Jakarta, LiputanIslam.com — Hari itu cuaca terasa panas, sepanas tema seminar sehari yang dilangsungkan oleh Koepas atau Komite Pembela Ahlul Bait dan Sahabat pada hari Rabu, 24 Juni 2014. Bertempat di masjid Istiqlal, topik yang diangkat adalah “Syiah, Antara Gerakan Politik dan Agama.” Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu panitia membagikan dua buah buku, yaitu buku  merah terbitan MUI dan terbitan DII kepada sekitar 150 orang peserta seminar.

Acara dimulai dengan sambutan admin dari situs koepas.org yaitu Ustadz Dzulkarnaen al-Maduri, yang menyampaikan tujuan seminar, yaitu untuk mengenalkan sejauh mana gerakan politik Syiah dalam rangka merebut kekuasaan dari dunia Islam. Dzulkarnaen menegaskan bahwa Syiah bukanlah Islam dan wajib untuk diwaspadai. Tak ketinggalan, ia juga mengucapkan laknat saat menyebut Syiah.

Lagi, Jangan Sampai Jokowi Presiden

Sambutan selajutnya datang dari Ketua Koepas yakni Ustadz Amrullah Jamil. Ia mengungkapkan bahwa seminar ini akan diadakan tiap bulan oleh Koepas, guna menghadang laju Syiah. Menurutnya, saat ini banyak pengajian-pengajian yang diisi oleh ustadz-ustadz Syiah.

Pemateri pertama, Buya Risman Muchtar, saat ini ia menjabat sebagai Ketua Harian PW Muhammadiyah DKI Jakarta. Ia menuturkan bahwa ada anggota di dalam ormas Muhammadiyah yang dipecat, yaitu Zuhdi Zaini lantaran ia masuk Syiah.

Buku yang dibagikan

Buku yang dibagikan

Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan isu-isu serupa sebagaimana seminar di STBA Yapari Bandung, seminar diam-diam di Bogor, di Banjarmasin, ataupun Deklarasi Anti-Syiah yang hanya mendaur ulang isu yang sudah diklarifikasi berkali-kali.

Tak ketinggalan ia juga mewanti-wanti agar jangan sampai Jokowi menjadi Presiden Indonesia, karena jika itu terjadi, maka menteri agama yang ditunjuk adalah Jalaludin Rakhmat, yang dianggap akan memicu pertumpahan darah.

Pernyataan Buya ini kontradiktif dengan pernyataan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, atau pernyataan cawapres Jusuf Kalla bahwa jika pasangan nomor dua ini menang, maka menteri agama dari kalangan NU.

Buya menyebutkan bahwa sikap resmi Muhammadiyah adalah: Syiah itu bertentangan dengan Islam dan harus ada sikap yang jelas bahwa Syiah itu kafir.

Pernyataan ini berbeda dengan pernyataan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin yang pernah menyerukan untuk menghentikan provokasi Sunni-Syiah. Din lebih lanjut menegaskan agar jangan mudah mengkafirkan kelompok lain yang masih mengucapkan syahadat. Din juga mengakui bahwa banyak pemikir, filsuf, ilmuwan muslim di masa lalu berasal dari kalangan Syiah.

Ustadz Abu Qotadah: Syiah Tidak Pernah Berjihad

irak korban massacre04

Pembantaian ISIS di Irak

Pembicara kedua, Ustadz Abu Qotadah, pengasuh Pondok Pesantren Ihya As-Sunnah Tasikmalaya, seorang “pakar” sejarah Syiah. Pengakuannya, ia adalah murid dari ulama terkenal Yaman yaitu Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i.

Dalam ceramahnya, ia mengungkapkan keterkaitan antara Syiah dengan Yahudi,  juga tentang ajaran Syiah yang menyuntikkan perasaan dendam yang melatih membunuh dan menumpahkan darah diantara kaum muslimin. Ia menyebutkan bahwa bagi Syiah, darah dan harta kaum Ahlussunah halal hukumnya. Bahkan disebutkan, bahwa membunuh satu orang Ahlussunah lebih utama daripada membunuh Yahudi. Ia juga menyinggung bahwa Syiah tidak pernah turun untuk berjihad, baik di Afghanistan, Serbia dll.

Sayang, Abu Qotadah luput untuk menyampaikan bahwa para jihadis dari kelompok Takfiri yang mendestabilisasi negara-negara Timur Tengah sesungguhnya adalah kaki tangan dari plot Zionisme Internasional, yang bertujuan untuk memecah belah Islam.  Justru Al-Qaeda, Al-Nusra, ISIS, Boko Haram, AQIM, Anshar al-Sharia, dan berbagai kelompok jihadis lainnya- lah yang menebar kebencian, menebar teror kepada masyarakat, mudah mengkafirkan dan membunuh pihak yang berseberangan dengannya . Mereka juga menggorok dan memamerkan kepala tanpa badan, menjadikannya sebagai mainan sepak bola, dan bahkan merebusnya. 

Hingga Syeikh Alawi Amin, ulama dan guru besar Universitas al-Azhar menyatakan bahwa kelompok teroris ISIS yang mengaku dirinya Islam ini, sesungguhnya tidak demikian.  Islam berlepas diri dari mereka sebagaimana serigala berlepas diri dari dosa anak-anak Nabi Ya’kub as. 

Acara terhenti sejenak untuk shalat dan makan siang, lalu dilanjutkan pada  jam 13.30 oleh pemateri yang sama yaitu Abu Qotadah. Kali ini ia menjelaskan Syiah dari perspektif sejarah muncul dan berkembangnya dari zaman Nabi sampai revolusi Iran dengan wilayatul faqihnya. Menurutnya, Syiah itu kecil.

Makam Imam Ghazali Jadi Tempat Beternak Kambing?

Makam Imam Ghazali, foto: www.onreligion.co.uk

Makam Imam Ghazali, foto: www.onreligion.co.uk

Pemateri terakhir Ustadz Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen MIUMI (Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia) dan Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat.

Ia menyampaikan beberapa hal seperti: makam Imam Ghazali dijadikan tempat pembuangan sampah dan beternak kambing di Iran, memberi gelar Hujatul Islam untuk mahasiswa S1, hingga perlunya ekspansi militer untuk Syiah. Benarkah demikian adanya? Untuk tabayun, Liputan Islam mewawancarai Afifah Ahmad, seorang traveller writer,  salah satu karyanya adalah buku The Road To Persia, dan saat ini ia menetap di Iran.

Liputan Islam (LI) : Ibu kan sering jalan-jalan, bagaimana kondisi makam Imam Ghazali di Iran? Benarkah pernah dijadikan tempat beternak kambing dan tempat pembuangan sampah?

Afifah Ahmad (AA) : Makam Imam Ghazali  letaknya tidak jauh dari makam Ferdowsi (penyair Iran). Memang makam Imam Ghazali tidak mentereng, tapi keterlaluan kalau menyebut dijadikan kandang atau tempat sampah. Orang-orang Tusi sendiri bangga dengan Imam Ghazali. Beliau dianggap sebagai salah satu tokoh besar Tusi.

Peserta seminar, foto: Liputan Islam

Peserta seminar, foto: Liputan Islam

LI: Kondisi makamnya bisa diceritakan?

AA: Saya pernah bertanya kepada masyarakat Tusi. “Mengapa makam Imam Ghazali tidak sementereng makam Ferdowsi?”

Mereka menjawab, “Masyarakat yang membangun makam Imam Ghazali, juga makam Ferdowsi, dan pemerintah membantu. Inisiatif awal harus datang dari masyarakat dulu. Jadi mentereng tidaknya, tergantung dari sikap masyarakat di sekitar pemakaman.

LI: Lalu bagaimana dengan gelar Hujjatul Islam? Kabarnya gelar  itu setara S1.

AA : Sepanjang yang saya tahu, gelar Hujatul Islam dan Ayatullah diperuntukkan untuk pelajar hauzah (pesantren). Arti leterleksnya:  pembahasan tingkat lanjut setelah menyelesaikan tahap dasar dan menengah, mungkin setara program doktor. Nah di tahap ini  disebut  Hujjatul Islam wal Muslimin. Ia diuji oleh dewan ulama atau marja, dan jika lulus disebur mujtahid. Ia harus memiliki kemampuan menelurkan pemikiran ijtihad. Ini tidak terlepas cara pandang mazhab Syiah, mereka meyakini pintu ijtihad masih terbuka lebar.

Perlukah ekspansi militer untuk Syiah? KH Alawi Nurul Alam Al Bantani, ulama muda NU yang telah menulis 55 judul buku, mengungkapkan bahwa kerukunan Sunni dan Syiah akan menguatkan Islam. Dan sebaliknya, perpecahan di antara kedua madzhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam. Sehingga, pihak yang memprovokasi konflik Sunni-Syiah, apalagi sampai menyerukan ekspansi militer, sesungguhnya ia sedang merusak Islam.

Tak lama berselang, adzan Ashar berkumandang, seminar usai, dan Liputan Islam pun bergegas pulang. (ah/ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL