Jakarta, LiputanIslam.com–Perang Suriah sesungguhnya bukan berakar dari masalah internal melainkan banyak pihak luar yang memiliki kepentingan masing-masing. Sebelum perang, warga Suriah mendapatkan layanan kesehatan gratis dan pendidikan dinikmati gratis oleh warga hingga universitas. Demikian dijelaskan oleh Mufti Damaskus, Syeikh Dr. M. Adnan al-Afyouni, di Jakarta (1/11).

Syeikh Dr. M. Adnan al-Afyouni lebih lanjut mengatakan bahwa perang di Suriah adalah akibat kepentingan ekonomi dan politik, bukan agama. Dia memberi contoh Qatar yang merupakan salah satu negara pendukung milisi jihad di Suriah.

“Qatar ingin membangun pipa gas dari wilayahnya melewati Suriah,” ungkapnya.

Hal tersebut disampaikan Syeikh Dr. M. Adnan al-Afyouni dalam acara “Seminar Kebangsaan: Jangan Suriahkan Indonesia!” yang diadakan oleh Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami).

Menurut keterangan Alsyami, seminar tersebut bertujuan agar Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang menimpa Timur Tengah. Dan juga, sebagai bentuk antisipasi agar Indonesia tidak mengalami kejadian serupa.

Selain menghadirkan Syeikh Dr. M. Adnan al-Afyouni (Mufti Damaskus dan Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), seminar ini juga diisi oleh penjelasan dari Dubes RI untuk Suriah, Drs. Djoko Harjanto,  Dubes Suriah untuk RI, Dr. Ziyad  Zahrudin, Dr. Ainur Rofiq Al Amin (Dosen UIN Sunan Ampel), dan M. Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah)

Dubes Indonesia di Suriah Djoko Harjanto menceritakan bagaimana mengerikannya hidup di wilayah konflik. Dia setiap hari mendengar dentuman bom dan bunyi tembakan tak henti-henti.

Djoko mengawali cerita dari eksisnya pasukan bersenjata bernama free army pada 2011. Free army adalah orang-orang bersenjata anti-pemerintah dan menjadi cikal bakal gejolak konflik di Suriah.

“Kemudian ada demonstrasi, ada pihak-pihak oposisi yang dapat senjata kemudian bertebaran ke mana-mana. Kemudian berkobar sebegitu kuatnya, para pemberontak itu namanya free army,” kata Djoko.

Djoko menuturkan, setelah free army, kemudian muncul Al Nusro, dan pada 2013 muncul ISIS. Dia merasa heran bagaimana bisa banyak sekali pihak yang terbius untuk ikut ISIS.

“Hingga hampir 2014 akhir ISIS sudah ada itu konflik, luar biasa, saya memasuki perang, tugas utama saya sebagai duta besar, untuk melindungi TKI, mahasiswa, dan staf kedutaan,” tutur Djoko.

“Ketika 2015, saya masuk Aleppo, bukan karena berani, tapi untuk melindungi rakyat kita di sana, banyak juga TKI, mereka butuh perlindungan. Itu tidak semenit pun berhenti itu mortir, senapan, AK47, bahkan bom,” bebernya.

Isu Agama Hanya Ditunggangi

Di bagian lain pemaparannya, Mufti Damaskus, mengatakan bahwa karena segala sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok telah dijamin oleh pemerintah, situasi Suriah sebenarnya aman-aman saja. Ketika tidak ada lagi celah yang  bisa dimainkan untuk memecah-belah Suriah, isu agama pun dimainkan.

“Maka mereka yang berkonflik melakukan fbisaitnah melalui celah agama. Mereka mulai menebar permusuhan bahwa akan ada pembunuhan kepada orang Kristen atau orang Syiah, padahal semua ini tidak ada. Mereka buat ini supaya panas,” ungkap Syekh Adnan.

Mereka ingin Suriah bernasib seperti Tunisia, Mesir, Yaman, hingga Libya di mana konflik diciptakan hingga pemerintahannya yang sah berhasil digulingkan. Namun, upaya menghancurkan Suriah gagal, demikian dikatakan Syekh Adnan.

“Itu semua tidak berhasil karena mayoritas rakyat Suriah tak rela apabila agama dipakai untuk perebutan kekuasaan. Dan tentara Suriah, para pemuda siap mempertahankan Suriah sampai kapan pun,” dia menegaskan.

Syeikh Adnan pun meminta umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk mengutamakan kepentingan agama dibandingkan kepentingan politik atau kelompok tertentu yang ingin memecah belah ukhuwah. Menempatkan agama di atas kepentingan politik itu juga mestinya berlaku di Indonesia, terlebih melihat situasi akhir-akhir ini.

“Kami berharap agar Indonesia dan seluruh komponen saling paham untuk menghindari konflik. Agama harus dijadikan pondasi untuk mempersatukan bangsa,” ujarnya.

Dia lantas mencontohkan masyarakat Suriah yang sesungguhnya santun dan toleran dalam membangun peradaban dunia hingga hari ini. Suriah, kata dia bukan negara homogen, namun punya keberagaman etnik dan agama.

Menurut dia, masyarakat Suriah tidak membedakan satu rumah dan rumah lainnya walau mereka beda keyakinan. Mereka makan, minum, dan hidup bersama. “Agama menyatukan manusia, bukan memecah belah manusia. Agama itu memberikan norma-norma yang baik dan juga mendorong manusia bekerja sama bersatu dalam sebuah negara,” jelasnya.

Syekh Adnan bersyukur, Suriah kini perlahan mulai berbenah dan kondisi jauh lebih baik. Pihaknya membuka lebar pintu rekonsiliasi bagi mereka yang ingin kehidupan bangsa dan negara lebih baik.

“Tiap warga negara ingin rekonsilisiasi. Kita tanyakan ke oposisi, apakah kekacauan ini yang kalian inginkan? Apakah ini yang diajarkan Rasulullah dan agama? Mereka menjawab tidak. Baik mari kita bersama menuju rekonsiliasi. Hari ini kami bersyukur kita berbondong-bondong menuju rekonsiliasi,” tutur dia.

Terkait narasi yang beredar luas di Indonesia, yang menyatakan bahwa konflik di Suriah adalah karena persoalan sektarian antara Sunni dan Syiah, Dubes Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto memberikan klarifikasinya, dia mengatakan bahwa di Suriah ada kelompok Syiah dan Sunni, tetapi mereka tidak berkonflik. Pertikaian saat ini lebih karena persoalan politik.

Dia dengan tegas menyatakan tidak ada konflik agama. Pasalnya, dia yang Sunni biasa saja ketika shalat di masjid Syiah. “Saya shalat di masjid Syiah sana tidak apa-apa. Tidak ada yang dipel lantai atau karpetnya. Intinya saya sampaikan bahwa kehidupan antara Syiah dan Sunni sebenarnya baik-baik saja,” kata dia.

Kemiripan Pola Suriah-Indonesia

Sementara itu, ketua panitia yang juga merupakan Sekretaris Jenderal Alsyami, M. Najih Arromadloni, di laman twitternya menjelaskan pola pergerakan untuk men-Suriah-kan Indonesia.

“(Di antaranya melakukan) politisasi agama, menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah, pembunuhan karakter ulama, meruntuhkan sistem dan pelaksana sistem negara,” ungkap Najih dikutip NU Online, Jumat (2/11).

Dengan menyematkan tagar #JanganSuriahkanIndonesia, alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus ini menyatakan, gerakan pro-kekerasan tersebut sesaat memikat, dibungkus simbol-simbol agama. Kekerasan, mereka sembunyikan dibalik kedok ayat dan hadits, yang ditafsiri dan dipahami sesuai selera mereka.

“Keberhasilan kelompok radikal dalam membabakbelurkan Timur Tengah menginspirasi kelompok radikal di berbagai belahan dunia lain. Berusaha memperluas kekacauan, dengan harapan bisa mewujudkan cita-cita utopis mereka; mendirikan khilafah di seluruh muka bumi,” beber Najih.

Dia melontarkan sebuah pertanyaan, adakah yang pernah menghitung berapa kali Masjid Istiqlal diduduki apel demonstrasi? Pelaksanaannya pun di hari Jumat seusai Jumatan. Didahului dengan hujatan politik di mimbar khotbah, sehingga mengelabui pandangan masyrakat terhadap agama yang sakral dan politik yang profan.

“Jumat hari ibadah, menjadi hari-hari politik dan kecemasan, dengan kekhawatiran terjadinya chaos. Jumat Kemarahan sebagai ajakan meluapkan kemarahan di hari Jumat terjemahan Jumat al-Ghadab yang menjadi slogan politik pemberontak Suriah, diserukan Al-Qardhawi, tokoh IM,” ungkap Najih menjelaskan apa yang terjadi di Suriah. (ra/dari berbagai sumber)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*