Yogyakarta, liputanislam.com—Sejak pagi hari, Selasa (14/1/2014), ribuan warga Yogjakarta berbondong memadati halaman Masjid Kauman dan Alun-alun Utara Keraton untuk mengikuti   Gerebeg Maulid atau Upacara Sekaten.  Sekaten, yang konon berasal dari kata “Syahadatain” merupakan acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diadakan pada setiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabi’ul awal). Acara puncaknya ditandai dengan Grebeg Muludan pada tanggal 12 (bertepatan dengan kelahiran Rasul), yang disimbolisasikan dengan Gunungan sebagai  hajat  dalem  atau sedekah berupa sesajian berbentuk tumpeng besar yang terbuat dari aneka makanan, antara lain beras ketan, telur, dan berbagai  buah serta  sayuran  yang ditata  menyerupai  gunung.

 

sumber: solopos.com

sumber: solopos.com

Tradisi ini sedemikian melestari karena diselenggarakan pihak Keraton, tidak tergerus modernisasi. Pesertanya tidak saja berasal dari Yogjakarta, melainkan juga dari luar daerah. Salah satunya adalah Sri (32) yang datang dari Wonogiri, Jawa Tengah. “Saya memang rutin datang ke Keraton setiap Maulid Nabi, biar dapat berkah,” ujar Sri bersemangat. Mereka meyakini bahwa Gerebeg  mendatangkan berkat sehingga rela memperebutkan Gunungan.

Namun, ada juga yang tidak memiliki tujuan relijius atau ritual  mendapatkan berkah, tetapi sekadar berpartisipasi dalam pelestarian budaya. “Saya datang ke sini karena Gerebeg sudah ada sejak nenek-moyang, jadi janggal jika melewatkannya,” ungkap Paino (54) yang datang dari Purworejo, Jateng. Atau sekadar terlibat dalam festival itu, seperti Edi (27) asal  Indonesia Timur yang sedang menempuh pendidikan pada  salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta . “Saya tidak tahu nilai hakiki atau mengapa Gerebeg Maulid Nabi diselenggarakan, tapi saya bersama teman-teman menikmati acara ini karena seru, terlebih saat memperebutkan Gunungan yang sangat memacu adrenalin,” ungkapnya.  Di situ tidak sedikit yang pingsan karena  terhimpit.  Kendati demikian, tidak menyurutkan masyarakat untuk tetap berjuang mendapatkan secuil Gunungan yang (konon) membawa berkah.

Pada penyelengaraan Grebek Maulud tahun ini terdapat tujuh  gunungan yang  disedekahkan, lima gunungan berupa gunungan Putri, Kakung, Darat, Gepak, dan Pawuhan yang akan dibawa ke Masjid Gede Kauman. Dan  dua gunungan lainnya merupakan gunungan Kakung yang  masing-masing dibawa ke Puro Pakualaman dan Kepatihan.

Grebeg Maulud

***

Gerebeg Maulud merupakan salah satu wujud kecintaan umat Islam di Nusantara  kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. yang termanifestasikan dalam beragam ekspresi budaya lokal. Hal ini beralasan karena para penyebar Islam di negeri ini menempuh langkah damai dan memuliakan budaya lokal. Agaknya hal ini mirip dengan strategi dakwah Rasulullah Muhammad SAW di tengah masyarakat Arab jahiliyah yang tidak secara radikal meminggirkan budaya setempat, karena sesungguhnya kebudayaan adalah hak asasi manusia.  Rasulullah Saw. justru menjadikan Islam menyatu dengan kebudayaan lokal, tanpa mengorbankan nilai-nilai absolut ajaran Islam itu sendiri.

Sayangnya, perayaan Maulid Nabi masih saja menuai pro-kontra. Di Indonesia, misalnya, kalangan takfiri terus mengumandangkan tudingan bahwa perayaan tersebut merupakan  bid’ah.  Padahal, pada tausyiahnya dalam peringatan Maulid tahun lalu di Masjid Raya  at-Taqwa, Cirebon, Minggu (5/2/2013), Wakil Menteri Agama (Wamenag) Prof  Dr Nasaruddin Umar MA mengingatkan umat Islam agar waspada dengan upaya sekelompok orang yang ingin memecah persatuan umat dengan mempropagandakan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad sebagai perbuatan bid’ah.

 

Dr. Nasarudin Umar (foto: Kemenag)

Dr. Nasarudin Umar (foto: Kemenag)

Memang, Nabi Muhammad SAW tidak pernah berpesan untuk merayakan kelahiran beliau, maka tradisi Maulid tidak bisa dikatakan  masyru (disyariatkan). Tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan syariat. Dalam hubungan ini muncul pertanyaan, apakah semua perbuatan baik yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW harus dilarang dan dianggap  bid’ah?  Lalu, bagaimana dengan kodifikasi al-Qur’an yang dilakukan sepeninggal Rasulullah, apakah itu juga bid’ah?

***

Bagaimanapun, peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw setiap 12  Rabi’ul Awwal  di berbagai penjuru Dunia Islam adalah sebagai sebuah gerakan budaya dan sudah merupakan bagian dari hak asasi.  Mereka menyadari tradisi ini  diprakarsai oleh pejuang Islam Shalahuddin al-Ayyubi pada abad ke-11 M sebagai bagian dari penciptaan momentum mobilisasi mujahidin Islam dari berbagai penjuru untuk menghadapi Tentara Salib. Dari sini Shalahuddin berupaya “mengkontekstualisasikan” Hari Kelahiran Nabi Muhammad itu, sehingga kemudian perayaannya bermakna secara sosio-kultural bagi umat Islam di seluruh dunia dari masa ke masa.  Bukankah upaya Shalahuddin merupakan salah satu implementasi konkret untuk memperkokoh persatuan Islam sebagaimana diamanatkan dalam banyak ayat Al-Quran?

Karena sifatnya yang kontekstual, tidak heran bila hingga kini perayaan Maulid di berbagai belahan dunia acap kali berbalut kebudayaan lokal. Tidak terkecuali  tradisi Maulid di Indonesia;  yang salah satunya adalah tradisi Gerebeg Maulid Nabi atau Upacara Sekaten di Yogyakarta itu.

Selain Gerebeg Maulid (Sekaten), masih banyak tradisi perayaan Maulid lainnya di berbagai penjuru Nusantara yang terus melestari dan makin semarak.  Salah satunya  adalah  Maludhu  atau  Haroana Ôputa (Haroana Sultani) di Pulau Buton (dulunya adalah Kesultanan Buton).  Bahkan,  Haroana Ôputa  yang diperkenalkan oleh para Habib atau Sayyid sejak abad ke-16, ini lebih kental dengan dimensi ritual bernuansa syariat-tasawufnya, di mana pusat penyelenggaraannya adalah Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dengan aparaturnya yang masih mempraktikkan tradisi spiritual seperti pada masa awal penyebaran Islam di Buton (Tanah Butûni).

Fenomena Gerebeg Maulid  merupakan salah satu cara masyarakat bersuka cita dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dan menunjukkan bahwa ajaran Islam yang berkembang di Indonesia memiliki ciri khas dibandingkan dengan berbagai negara Muslim lainnya. Islam di Indonesia bersifat  akomodatif, sehingga mudah berkompromi dalam pergumulannya dengan kebudayaan lokal. Irisan antara keduanya (baca: Islam dan Budaya Indonesia) menghasilkan dialektika yang menampilkan wajah Islam yang khas:  “Islam Nusantara”, bukan “Islam Takfiri”.

Bila mau jujur realitas kultural seperti Peringatan Maulid itulah yang antara lain   membuat Islam berkembang pesat di Indonesia dan tampil ramah menyejukkan: rahmatan  lil  ‘alamin. Dalam hubungan ini patut direnungkan ucapan Cak Nun: “Kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. (wz/nf).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL