tablig akbar NU 1Suasana malam 1 Mei 2015 di Pondok Pesantren Atsaqofah Islamiyah An Nahdliyyah, Majalaya Bandung, terasa semarak. Malam itu, dalam acara tabligh akbar, hadir para ulama penyejuk umat, yaitu Drs. Habib Umar bin Husin Assaqqaf (pimpinan pondol pesantren Atsaqofah, yang sering dipanggil Habib Umar Majalaya), Prof. Dr KH Said Agil Siradj (PBNU), dan Habib Abdullah bin Salim Alattas, cicit dr Shohibul Maqom Habib Abdullah bin Muhsin Alattas Kramat Empang Bogor. Juga hadir KH Alawi al Bantani (pengurus PWNU Jabar), Dr. KH Eman Suryaman (ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat), KH Cucun (tokoh PKB), serta para sesepuh pimpinan berbagai pondok pesantren dan ormas-ormas di Bandung.

Acara dimulai usai shalat Maghrib berjamaah, dengan dzikir tahlil dan tawassul serta pembacaan Ratib. Setelah itu, lebih dari 1000 jamaah yang hadir melaksanakan shalat Isya berjamaah yang dilanjutkan dengan pembacaan riwayat Maulid. Usai sambutan dari Bupati Bandung, Dadang Naser, Prof. Dr KH Said Agil Siradj pun memulai tausiayahnya. Di hadapan hadirin  yang berasal dari Bandung, Bogor, Karawang, Bekasi, Garut, Tasikmalaya, yang sebagiannya anggota Banser, GP Ansor, IPNU, LDNU, Pagar Nusa, KH Said antara lain memaparkan tentang bagaimana cara meneladani tuntunan Rasulullah dan nasionalisme.

Jangan Mudah Mem-bid’ah-kan Orang

tablig akbar NU 2Bid’ah adalah istilah yang sering dilontarkan kaum Wahabi terhadap perilaku atau tradisi kaum Muslimin yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW. Tuduhan ini sering memunculkan konflik dalam masyarakat dan memicu perpecahan umat.

KH Said menjelaskan, sunnah Rasulullah SAW ada tiga macam, yaitu sunnah  qawliyah (sabsa Rasulullah), sunnah fi’liyah (perilaku dan sikap Rasulullah), dan sunnah taqririyah (yaitu, sesuatu yang tidak diucapkan atau dilakukan Rasulullah, tetapi dibenarkan oleh Rasulullah; misalnya dulu ada penyair yang memuji-muji Rasulullah. Beliau tidak melarang penyair itu, bahkan memberikan hadiah selimut bagi sang penyair yang bernama Ka’ab bin Zuhair).

“Jadi, membaca syair-syair yang memuji Rasulullah itu sunnah apa bid’ah?” tanya KH Said, yang spontan dijawab hadirin, “Sunnaahhh….”

“Kalau ada orang bilang maulid nabi itu bid’ah, baca barzanji itu bid’ah ini orang ngajinya gak tuntas! Pesantrennya cuma pas liburan 2 minggu sekolah!” kata KH Said.

Salah satu tradisi kaum Muslimin yang sering dituduh bid’ah oleh kaum Wahabi adalah tawasul atau berdoa melalui perantaraan Rasulullah. KH Said mengisahkan kejadian ketika suku Mudhor yang sering mencaci maki Rasul, mengalami paceklik. Mereka pun datang ke Madinah dan memohon agar Rasul mendoakan mereka. Rasul pun berdoa, dan hujan pun turun. Kisah ini salah satu bukti bahwa bertawasul adalah bagian dari sunnah Rasulullah.

“Ada orang bertanya kepada saya, dapat cerita itu dari mana? Ya dari sejarah. Kalau baca sejarah hanya khulashah Nnuril Yaqin, maka nggak akan ketemu. Bacalah kitab-kitab sejarah lainnya yang jumlahnya berjilid-jilid, misalnya Al Kamil atau Tarikh Thabari,” tegas KH Said.
Islam dan Nasionalisme

tablig akbar NU 3Di bagian lain ceramahnya, KH Said menjelaskan bahwa Islam sangat mendukung nasionalisme. Menurut beliau, KH. Hasyim Asy’ari sangat berjasa dalam mengembangkan pemikiran yang mensinergikan Islam dan nasionalisme. Semangat kebangsaan harus diisi dengan nilai-nilai keislaman dan sebaliknya, Islam harus dijalankan bersama dengan spirit kebangsaan.

“Kalau hanya berpegang pada Islam semata, tanpa menyertakan spirit kebangsaan, bangsa kita ini bisa tercerai-berai. Kita tengok negara-negara lain, seperti Afghanistan. Di sana perang terus, nyawa melayang, padahal penduduknya semua muslim Sunni. Syiah-nya hanya satu persen. Tapi kenapa perang terus? Karena mereka tak punya komitmen menjaga keutuhan negaranya. Somalia, 100 persen muslim Sunni, tapi hingga sekarang perang saudara terus, negaranya bangkrut, sebagian dari mereka jadi perompak kapal yang lewat,” urai KH Said.

“Alhamdlillah, KH Hasyim Asy’ari jauh sebelum NU lahir sudah punya cita-cita ingin membangun bangsa yang dibangun dengan spirit Islam. Saya heran kalau ada orang teriak Islam, syariat Islam, hanya nyebut Islam, tapi tak pernah nyebut NKRI? Mereka itu mau berjuang Islam dimana, di atas angin?! Kita ini memperjuangkan Islam di atas tanah, maka tanah air dulu kita perkuat. Apa kita mau seperti Suriah, Yaman, Irak, perang terus, santri sedang belajar dibom, kyai sedang nulis, dibom. Kapan bisa maju?”

Atas dasar visi kebangsaan, dalam Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936, diputuskan bahwa NU bercita-cita  mendirikan negara Darussalam bukan Darul Islam. Negara Darussalam adalah negara yang damai dengan semua komponen yang ada. Suku apa saja, agama apa saja, semuanya berhak hidup berdampingan di bawah undang-undang. Yang benar didukung, yang salah dihukum, yang dizalimi harus dilindungi.

Di masa perjuangan kemerdekaan, KH Hasyim ditanyai soal hukum membela tanah air. Beliau pun mengumpulkan para kyai dan menyatakan bahwa kita wajib membela tanah air, hukumnya fardu ain. Artinya, setiap orang wajib membela tanah air. Saat itu, para kyai pun berada di medan terdepan dalam membela tanah air.

tablig akbar NU 4“Karena itu, di pundak kita ada amanah, amanah agama Islam dan amanah wathaniah atau amanah kebangsaan. Negara Indonesia harus kita jaga kesatuannya, harus kita jaga NKRI. Sayangnya ada warga Indonesia ikut ISIS. Kalau mereka kembali ke Indonesia, bisa bahaya. Ada teroris mengebom masjid Polresta Cirebon. Coba, ngebom orang sedang sholat Jumat, apa itu Islam?!” tegas KH Said.

KH Said mengingatkan bahwa konflik Sunni-Syiah di Indonesia adalah konflik yang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah Indonesia. Mereka itu berpaham impor (membawa ideologi yang datang dari luar, terutama Arab Saudi), dilatih, ada dana dan ada senjata. Mereka mencoba membawa konflik Timur Tengah ke Indonesia.

“NU akan melakukan muktamar di Jombang dengan tema memperkokoh Islam nusantara sebagai peradaban Indonesia. Indonesia kita bangun peradabannya  dengan ruh semangat Islam nusantara yang mencintai perdamaian, saling menghargai. Perbedaan pasti ada, itu sunnatullah tapi perbedaan tidak menjadikan kita bermusuhan. Selama ada NU, maka 4 pilar NKRI akan terjaga!” tegas KH Said. (AH/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL