asap riauLiputanIslam.com — Pagi itu jalanan tampak sepi. Tidak terlihat anak-anak kecil berseragam rapi yang biasanya memenuhi tiap sudut ruas jalan dengan celotehannya. Tidak terlihat lagi pemandangan orang tua paruh baya yang mengenakan pakaian olahraga dan berlari-lari kecil di pinggir jalan. Pagi hari yang biasanya padat merayap, beberapa hari ini tampak sangat lengang dan berkabut. Begitulah kondisi Pekanbaru yang telah terkepung oleh asap tebal, yang sudah lebih dari sebulan.

Sekolah terpaksa diliburkan. Begitu pula halnya dengan universitas dan sekolah tinggi lainnya. Asap tebal menyelimuti kota Pekanbaru dan sekitarnya, yang telah melumpuhkan aktivitas hampir semua warga setempat. Warga lebih memilih berdiam diri di rumahnya untuk menghindari menghirup udara kotor akibat kebakaran hutan dan lahan, kendati di dalam rumah pun tidak terbebas dari polusi asap.

“Saya khawatir dengan kondisi bayi saya. Badannya tumbuh bintik-bintik merah sejak asap mengepung kota ini,” ucap seorang ibu muda, sebut saja namanya Ayu, kepada Liputan Islam.

“Anak teman saya badannya lemas dan harus mendapat penanganan khusus dari dokter, “ kata warga yang lain.

“Jarak pandang hanya sekitar 100 meter, jalanan dipenuhi kabut. Saat menghirup udara, hidung terasa sakit. Dada juga terasa sesak dan kepala pun jadi pusing. Saya sangat menderita akibat asap ini. Apalagi saya tetap harus bekerja dan keluar rumah, beberapa menit saja berada di jalan, mata saya perih,” keluh seorang pekerja kepada Liputan Islam. Masyarakat mengeluhkan lambannya tindakan pemerintah untuk menanggulangi asap ini.

Sebagai warga negara Indonesia, banyak masyarakat Riau yang merasa ‘ditelantarkan’. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu televisi swasta, warga Riau yang dihubungi mengeluhkan kondisi mereka yang sudah lebih dari sebulan menghirup udara bercampur asap. Keluarganya jatuh sakit, aktivitas belajar mengajar dihentikan, dan hal ini sangat merugikan mereka. Di jejaring sosial seperti twitter, banyak yang berkicau mengkritik pemerintah pusat yang tidak segera turun tangan membantu pemerintah daerah menanggulangi musibah. Padahal kasus asap ini sudah lebih dari sebulan. Mereka menanyakan, apakah warga Riau bukan bagian dari Indonesia sehingga tidak ada upaya serius dari pusat membantu mereka?

Bukankah Riau adalah wilayah yang kaya raya, dan kekayaan ini dalam jumlah yang besar ‘disetorkan’ ke Jakarta? Pagi ini, ultimatum Presiden SBY kepada Gubernur Riau menjadi headline di hampir semua media massa Riau. Di akun twitter-nya SBY berkicau:

“Kalau dalam waktu 1-2 hari ini Pemda Riau dan para menteri tidak bisa mengatasi, kepemimpinan dan pengendalian akan saya ambil alih,” tulisnya.

Menurut laporan Riau Pos, salah satu media lokal Riau, Presiden SBY telah menginstruksikan agar para menteri terkait segera melakukan operasi tanggap darurat dengan menggunakan semua alat can cara terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau. Dan jika dalam waktu 1-2 hari Pemprov Riau dan para menteri tidak bisa mengatasi, maka kepemimpinan dan pengendalian akan diambil alih presiden.

Tim Bombing Water Terkendala Cuaca
Proses pemadaman titik api dengan menggunakan bombing water tidak dapat berjalan maksimal. Pasalnya, kondisi cuaca yang tidak bersahabat menyebabkan proses pemadaman dari udara itu tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan.

Informasi itu disampaikan oleh Kolonel Pnb Andyawan kepada Riau Pos, Kamis (13/3) di Pekanbaru. Menurutnya, kendala yang dialami karena jarak pandang di bawah 300 meter. “Memang hari ini tidak dilakukan water bombing dan tekhnik modifikasi cuaca. Kami tidak bisa paksakan, karena cuaca sedang tidak bersahabat,” ungkapnya.

Mengenai rencana pemadaman lanjutan, dijelaskan bahwa hal tersebut tergantung kondisi cuaca. Kendati demikian, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Jumlah titik api di Riau dideteksi sebanyak 137 buah. Enam lima Titik di Bengkalis, 33 titik di Siak, 11 titik di Pelalawan, enam titik di Indragiri Hilir dan lima titik di Dumai. Asap Tebal, Dua Warga Riau Tewas Dekatnya jarak pandang mata di Jalan Sumbar – Riau, mulai berakibat fatal bagi pengemudi lalu lintas.

Hari Kamis (13/3), seorang pengacara asal Batusangkar, Sumbar, yaitu Herman Pribadi yang sedang dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Payakumbuh, tewas di jalan tersebut. Warga yang tinggal di Pekanbaru tersebut dilaporkan tewas lantaran mobil Xenia yang ditumpanginya, masuk ke Sungai Batang Maek di kawasan Sibumbun, Nagari Tanjuangbolik, Limapuluh Kota. Selain Herman, pengemudi mobil naas tersebut yaitu Suryanas (49) juga tewas. Jenazah mereka dievakuasi polisi bersama warga, dengan kondisi terperangkap di bangkai mobil yang tenggelam ke dasar sungai.

Menurut Kapolres Limapuluh Kota AKBP Cucuk Trihono, diperkirakan bahwa kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa Herman dan Suryanas, bukan hanya disebabkan lantaran mobil melaju kencang dan kehilangan kendali, namun diduga terjadi karena kabut asap yang menyelimuti jalan Sumbar- Riau, dengan jarak pandang hanya limabelas meter pada pagi hari.

Penerbangan Lumpuh
Bandara Sutan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru tetap buka seperti biasa, Kamis (13/3). Walau ada informasi tidak adanya penerbangan pada hari Kamis hingga Sabtu besok, ternyata Lion Air tujuan Jakarta memberanikan diri terbang pada pagi hari. Bandara SSK II tampak sepi, baik di parkiran maupun di terminal. Yang terlihat hanyalah para penumpang yang melakukan refund tiket. Di dinding kaca sudah dipasang pengumuman bahwa airlines tidak terbang sampai Sabtu (15/3) dan ada juga airlines yang membatalkan penerbangan hingga Ahad (16/ 3).

Walau bandara lumpuh total, bandara tidak tutup. Otoritas bandara tetap dapat beroperasi seperti biasanya.

Mencari Jejak Pembakar Lahan
Jejak panjang perburuan pelaku pembakaran hutan dan lahan, atau pihak yang dianggap bertanggung jawab dengan musibah ini sudah diupayakan sebulan terakhir. Totalnya, jajaran Polda Riau telah menetapkan 36 tersangka perorangan dan satu perusaaan. PT National Sago Prima (NSP) saat ini tengah diselidiki akibat bukti bukti yang ditemukan pada lokasi kebakaran.

Kapolda Riau, Brigjen Pol Candro Kirono MM Mhum membuat langkah dengan membentuk tim pemburu pembakar hutan dan lahan, yang bertujuan memberikan efek jera. Tim ini dibagi dalam sembilan tim campuran yang terdiri atas 62 orang per timnya. Mereka diberangkatkan untuk memburu pembakar pembakar lahan yang tersisa. Jejak para pembakar hari ini masih gelap. Keberadaannya hanya terlihat dari asap yang mengepul dari lokasi pembakaran.

Berkah Asap Riau
asap riau2Mungkin, di tengah kondisi masyarakat Riau yang memprihatinkan, Liputan Islam menjumpai fenomena menarik. Akibat tebalnya asap, mau tak mau warga harus menggunakan masker saat beraktivitas, dan bisa ditebak, masker merupakan barang yang paling laku untuk dijual di Riau saat ini. Betebaran di sepanjang jalan di pedagang- pedagang dadakan menggelar jualannya. Masker yang bermotif dihargai senilai Rp. 5000, dan yang ada kaitnya sedikit lebih mahal, Rp. 10.000. Meski cukup mahal, masker ini sangat laris. Motifnya lucu dan berwarna warni.

“Asap ini membuat saya mengeluarkan uang lebih. Saya ingin tetap terlihat modis dan menarik kendati menggunakan masker, karena itulah saya sekarang mengoleksi masker, menyesuaikan dengan warna busana yang saya kenakan,” jelas Aira seorang wanita modis kepada Liputan Islam.

Harapan masyarakat Riau hari ini hanya satu: turun hujan lebat yang akan memadamkan api dan membawa asap ini pergi. Jangan sampai “Riau yang hilang” yang sempat menjadi trending topic di twitter benar- benar hilang, tenggelam dalam lautan asap.(af/LiputanIslam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL