song-sparrowThe Song of Sparrows, film karya sineas terkemuka Iran, Majid Majidi, kembali mengangkat cerita orang-orang biasa di negerinya, seperti kebanyakan film yang dibesutnya selama ini.  Film yang dirilis tahun 2008 dengan durasi 96 menit ini berhasil mengantarkan aktor senior Reza Naji sebagai aktor terbaik di ajang Asian Pacific Screen Awards 2008. Pada Kamis, 13 November 2014 lalu, film ini ditayangkan di Lantai 4 Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta Syarif Hidayatullah. Sekitar 200 orang hadirin menyimak film ini untuk kemudian mendiskusikannya.

Film drama yang naturalis ini di tayangan pertama dan terakhirnya menampilkan seekor burung unta, mengisyaratkan kisah yang mengandung misteri juga sebagai simbol keagungan. Sinematografi melalui Tooraj Mansouri melukiskan penggambaran indah pedesaan yang damai dan sejuk di Iran. Karim (Reza Naji) bekerja sepanjang hari di perkebunan burung unta. Ia harus mengurus burung-burung itu dan mengumpulkan telur-telurnya. Hingga suatu hari, seekor burung unta melarikan diri, dan Karim berusaha mencarinya. Majidi berhasil menciptakan adegan pencarian yang begitu mengesankan, antara lain Karim yang menyamar menjadi burung unta. Akan tetapi, si burung tetap hilang dan Karim pun dipecat.

film2Karim pun menghadapi kondisi yang rumit.  Anak tertuanya, Haniyeh (Shabnam Akhlaghi) seorang anak tuna rungu. Sebelum Karim dipecat, alat bantu pendengar Haniyeh rusak. Kini, setelah tak punya pekerjaan, semakin sulit bagi Karim untuk memperbaiki alat itu. Dialog-dialognya dengan anak laki-lakinya yang lugu namun visioner, Hussein (Hamid Aghazi), seolah menambah rumit situasi, namun memperkaya batin penonton. Rencana Hussein untuk beternak ikan di dalam tempat pembuangan air tua yang sudah tak terpakai yang di dalamnya penuh lumpur bahkan ada ular, seolah simbol dari kepolosan anak-anak yang memiliki impian tanpa batas.

Kemudian terjadi perubahan nasib dalam hidup Karim, dengan cara yang tak terpikirkan sebelumnya. Perjalanan Karim ke Teheran untuk memperbaiki alat bantu dengar putrinya dengan menggunakan motornya yang sudah cukup tua itu membawa cerita tersendiri. Pasalnya, Karim disangka tukang ojek oleh seorang bisnismen yang sedang tergesa-gesa menuju suatu tempat rapatnya. Karim pun menjadi ‘orang kota’, mencari penghasilan sebagai tukang ojek. Namun seiring waktu, suasana kota menggerus spiritualitasnya.

film3Hingga suatu hari terjadi kecelakaan saat Karim membereskan gunungan rongsokan yang ada di halaman rumahnya. Dia menyaksikan istrinya Narges (Maryam Akbari) yang tetap giat bekerja dan Hussein yang mulai bekerja untuk meringankan beban keluarganya. Dalam situasi muram itu, Majidi memunculkan adegan-adegan memikat dan penuh makna. Antara lain ketika Karim duduk dikelilingi oleh Hussein dan teman-temanya di atas truk, kemudian bernyanyi dan melempar senyum kepada anak-anak dengan lagu dunia ini penuh dusta, dunia ini adalah mimpi…

Narasumber diskusi adalah Karbelani (mahasiswi Fakultas Ushuluddin semester 7 UIN Jakarta) dan M. Ide Murteza (Mahasiswa STF Driyarkara-Jakarta). Pengantar diskusi adalah Alireza Alatas dan Faisal Jindan bertindak sebagai moderator.

M Ide menilai bahwa dalam film ini, Majid Majidi menggunakan beberapa sisi penting yang ingin disampaikan kepada penonton. Yang pertama, ia membahas sisi kontras secara sosiologis antara masyarakat perkotaan di Teheran dengan masyarakat pedesaan. Film ini memotret realisme Iran, apa adanya. Teheran sebagai ibukota, berfungsi sebagai jantung pemerintahan sekaligus sentral perekonomian negara. Sebagai kota besar, corak kemasyarakatan kota Teheran lebih dinamis dan tingkat mobilitas masyarakatnya sangat tinggi serta terkesan individualistis. Sedangkan wilayah asal Karim, yaitu pedesaan memegang peranan sebagai pengada pangan bagi wilayah perkotaan. Begitu juga masyarakatnya, mereka masih memegang nilai-nilai tradisional yang kolektif dan penuh dengan kebersahajaan. Adapun alat pendengar  Haniyeh adalah media pengantar bagi Karim untuk memasuki kehidupan perkotaan. Menurut M. Ide, fokus film ini adalah bagaimana efek sublimasi dari kehidupan perkotaan dan pedesaan; film ini memberikan gambaran tentang nilai-nilai yang prinsipil beserta berbagai dilemanya kehidupan desa versus kota.

film1Keunikan lain film ini, seperti  halnya film-film karya Majidi lainnya, tokoh anak-anak pun diangkat dengan apiknya. Di dalam the Song of Sparrows, Hussein adalah tokoh yang tak dapat disampingkan begitu saja. Impian Hussein bersama teman-temanya untuk memelihara ikan di tempat penyimpanan air tua tampak sekilas seperti kenaifan sekaligus kepolosan mereka. Si Ayah, yang merupakan tokoh utama dalam film ini adalah perwujudan realitas yang vis-à-vis dengan mimpi mereka, sedangkan anak-anak adalah manifestasi dari mimpi dan fantasi itu sendiri. Dengan segala keterbatasan mereka, layaknya seekor burung gereja (sparrow) mereka terbang walau terpongah-pongah untuk belajar menikmati dan menjalani hidup mereka.

Keringat, sukacita, hasrat yang bebas, dan impian, hakikatnya adalah kebahagiaan hidup. Dengan segala lika-liku kehidupan, hanya manusia yang mampu memaknai arti kebahagiaan itulah yang mampu mencapainya. (Abdul Hakim/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL