Para Pemeteri, foto: Liputan Islam

Para Pemeteri, foto: Liputan Islam

Jakarta, LiputanIslam.com — Siang itu cukup terik, ketika Liputan Islam menjejakkan kaki di Universitas Paramadina, tempat dilangsungkannya diskusi yang bertajuk “Indonesia Dalam Harmoni Kebhinekaan, Menengok Kembali Pancasila Sakti.” Diskusi yang mengangkat isu keberagaman ini, menghadirkan Eros Jarot, Radhar Panca, Debra H Yatim, dan  KH. Alwi Al Bantani. Dari pengamatan Liputan Islam, acara ini dihadiri sekitar 150 orang.

Pembantu Rektor Universitas Paramadina, Bapak  Toto, mengawali acara dengan memberikan sambutan. Ia mengatakan seminar ini bertujuan mencari titik temu kebhinekaan. Sesungguhnya Tuhan bukan pemaksa, padahal  jika Ia berkehendak, niscaya seluruh umat manusia dijadikan satu aliran atau satu agama. Namun kenyataannya, kita dijadikan berbeda agar kita saling mengenal satu sama lain

Eros Jarot: Umat Islam Indonesia Harus Berubah

Pemateri pertama adalah Eros Jarot, seorang budayawan. Ia menyatakan bahwa  dulu tidak pernah ada yang mempermasalahkan  perbedaan seperti Ahmadiyah, maupun Syiah. Menurutnya, kondisi zaman Pak Harto lebih kondusif, walaupun dia mengakui, saat itu Indonesia mundur dari sisi peradaban.Eros juga menyatakan, semakin banyaknya kyai (ulama), membuatnya semakin tidak mengerti.

Para peserta, foto: Liputan Islam

Para peserta, foto: Liputan Islam

Eros turut mengomentari Pilpres. Melihat adanya pendukung capres tertentu yang say no to pluralisme, kita harus melawannya – tapi bukan dengan kekerasan. Beberapa waktu yang lalu, dalam panasnya situasi politik tanah air, beberapa kelompok Takfiri mendeklarasikan gerakan aliansi nasional anti-Syiah di Bandung. Dalam pernyataannya, mereka siap untuk mendukung pasangan capres cawapres yang berani membuat MoU anti aliran sesat.

Kala itu, isu yang berhembus kencang adalah: Jokowi seorang Syiah. Lalu, jika Jokowi menang, maka Jalaludin Rakhmat (tokoh Syiah) akan menjadi menteri agama. Hal ini sudah diklarifikasi oleh IJABI (salah satu organisasi Syiah di Indonesia), bahwasanya Jokowi bukan Syiah. Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum PKB juga menyatakan bahwa jika Jokowi menjadi presiden, maka menteri agama dari kalangan Nahdatul Ulama. Artinya, ajakan anti-perbedaan yang akan merongrong persatuan bangsa tidak boleh dibiarkan berkembang. Karenanya, menurut Eros, umat Islam Indonesia harus melakukan perubahan, dan dimulai dari hal-hal kecil.

KH Alwi al-Bantani: Ada Upaya Membenturkan Sunni-Syiah Pada Pilpres

Pembicara kedua KH. Alwi al-Bantani menjawab kegalauan Eros Jarot, dengan menuturkan  kisah Piagam Madinah, yang merupakan cermin dari  semangat kebhinekaan Rasul Saw yang ingin penduduknya beradab muataddun(mendapat petunjuk)

Kampanye hitam dan negatif pada pilpres

Kampanye hitam dan negatif pada pilpres

KH al-Bantani, membenarkan adanya pencatutan nama-nama tokoh MUI seperti  alm. Dr. KH Sahal Mahfudz,  KH. Ma’ruf Amin  dalam buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di IndonesiaKH al-Bantani menyebutkan, buku tersebut dicetak sebanyak 6 juta eksemplar (tentu biayanya sangat fantastis)  dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Pertanyaannya adalah, darimana mereka mendapatkan dana sebesar itu?

KH. al-Bantani yang kini aktif  Lembaga Ta’mir Masjid (LTM)  NU, memiliki misi mengambil kembali Masjid Ahlussunnah wal Jamaah dari cengkraman kelompok Wahabi. Saling rebut masjid memang cukup marak akhir-akhir ini antara kelompok Aswaja dan Wahabi. Contohnya adalah Masjid Muhammad Ramadhan Galaxy di Bekasi.

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi juga mengimbau supaya masjid-masjid yang didirikan dan dikelola Nahdliyin segera dilabeli atribut-atribut NU.La dharar wa la dhirar, begitu prinsipnya. Jangan merugikan orang lain dan jangan membiarkan orang lain merugikan kita. Artinya, jangan sampai masjid-masjid NU yang berpaham moderat, santun, dan menghargai perbedaan dikuasai kelompok-kelompok Wahabi yang cenderung ekslusif.

KH Al-Bantani, foto: Liputan Islam

KH Al-Bantani, foto: Liputan Islam

KH al-Bantani menandaskan, bahwa multikultur dalam masyarakat adalah sebuah keniscayaan. “Saya tidak peduli Syiah, Hindu, ataupun Budha, yang saya bela adalah kemanusiaan,” tegasnya.

Akhir-akhir ini kita sering menjumpai kelompok yang gemar menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadits sesuai dengan pemahamannya sendiri. Akibatnya, mereka mudah untuk memberikan label syirik, bid’ah, sesat, kafir kepada pihak lain yang tidak sesuai dengan pemahamannya. Menyikapi fenomena ini, KH al-Bantani memberikan solusi, yaitu kita harus belajar pada guru yang sanadnya tidak terputus, dengan kata lain kita belajar pada ahlinya.

“Makanya harus dibedakan antara ulama kompeten dengan ulama yang impoten, ” ujarnya, yang disambut tawa para hadirin.

Dan menyikapi Pilpres yang sepertinya sengaja membenturkan Sunni-Syiah, kita harus menyadari kembali bahwa perbedaan adalah sesuatu yang niscaya dan  akan selalu ada hingga hari Kiamat. Karenanya, kita harus menjaga nilai tasamuh, tawasuth dan tawazun.

Debra Yatim: Keseimbangan Dalam Perbedaan

Pembicara selanjutnya adalah Debra Yatim, seorang tokoh pemerhati perempuan. Debra berpendapat bahwa kebhinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan wacana. Sikap memaksa agar orang lain agar sama dengan kita bukan sikap yang benar. Ia mengutip buku Anis Baswedan, “Jika kita merobek tenun kebangsaan, berarti kita berarti kita merobek-robek diri kita sendiri.”

Dalam paparannya, Debra mengangkat isu kebhinekaan dalam paradigma tokoh perempuan. Ia merujuk pada konsep Yin Yang, keseimbangan dalam perbedaan. Laki-laki dan perempuan, atas dan bawah, kiri dan kanan, kaya dan miskin, hidup dan mati – semuanya itu adalah contoh perbedaan – sekaligus akar keseimbangan.

Rhadar Panca: Kebhinekaan Merupakan Warisan Budaya.

Rhadar selaku pemateri terakhir mengungkapkan bahwa upaya pembenturan  sesama umat Islam adalah hal yang mengada-ada. Dalam kultur Indonesia yang mengacu pada budaya maritim/pesisir, sesungguhnya kita tidak mengenal perbedaan.

Pembacaan Pernyataan Sikap Terhadap Kebhinekaan, foto: Liputan Islam

Pembacaan Pernyataan Sikap Terhadap Kebhinekaan, foto: Liputan Islam

Di bandar/ pelabuhan merupakan tempat berbaurnya masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berinteraksi, dan dalam sunia maritim – multikutural dan pluralisme adalah keniscayaan. Contohnya masyarakat Betawi, yang merupakan dari bangsa Cina, Arab, Melayu. Penyebaran agama Islam juga tidak luput dipengaruhi oleh interaksi maritim. Menurut Rhadar, seluruh rakyat Indonesia  berhak untuk hidup di negara ini, apapun latar belakang agama maupun etnisnya.

Pembacaan Kesepakatan Persamaan Sikap

Acara terakhir  adalah dibacakannya deklarasi kesepakatan kebhinekaan, yang memuat  7 butir kebersamaan sikap, menghidupkan kembali pendar-pendar kesetaraan Indonesia.

  1. Indonesia tidak dirajut oleh kesamaan identitas, melainkan oleh koalisi untuk hidup bersama dalam kemerdekaan dan kemuliaan.
  2. Indonesia bukanlah mesin yang di rakit oleh kekuatan besi, akan tetapi dia adalah sebuah tenunan alami yang mewarisi nilai-nilai ketenunan dan kebersamaan.
  3. Indonesia tidaklah dibangun atas dasar dominasi dan pemaksaan sepihak kelompok tertentu melainkan dibentuk oleh nilai gotong royong diantara kelompok-kelompok.
  4. Saatnya kita merekatkan kembali antara relasi dan kelompok-kelompok identitas keagamaan, kesukuan dan politik dan dengan mmelupakan kesadaran primordial, kesetaraan yang dialegorikan oleh kekuatan air, dan maritim yang dapat menyatukan daratan dan pulau-pulau.
  5. Kesadaran kenusantaraan adalah kesadaran yang mencairkan pulau-pulau, identitas, kelompok dan menyatukan mereka dalam anyaman sebuah identitas kepulauan yaitu Republik Indonesia.
  6. Menjadi wargan Negara RI adalah sebuah proses menjadi menusia yang menuhankan Tuhan YME yang Maha Pengasih, memanusiakan manusia yang adil dan beradab, dan mencintai persatuan Bangsa.
  7. Sikap-sikap memaksakan kehendak merugikan kekuatan dari kelompok identitas manapun merupakan musuh utama bagi seluruh warga Negara RI. Karena sikap itu tidak hanya mengoyak dasar falsafah bernegara dan berbangsa, melainkan juga menyulut api perpecahan dan permusuhan antara anak bangsa. (ah/ba/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL