Para peserta

Para Peserta, Foto: LI

Yogyakarta, LiputanIslam.com – Yogyakarta masih selalu ramah, ketika Liputan Islam menjejakkan kaki di Kota Gudeg tersebut —  untuk mengikuti acara yang digelar oleh Jaringan Gusdurian yang bertajuk Social Change Management.

Seminar  ini digelar di selama 3 hari pada tgl 13-16 Agustus 2014 yang bertempat di Hotel Wisma Batik Jl. Dr. Soetomo 13A Yogyakarta. Para peserta merupakan undangan khusus para aktivis Gusdurian se-Indonesia, mulai dari Jakarta, Depok, Bandung, Garut, Indramayu, Jawa Tengah, Madura, NTB, Makassar, Samarinda, dan perwakilan dari Sumatera.

Jaringan Gusdurian (JGD), adalah wadah bagi murid dan pecinta Gus Dur, yang mengikuti nilai, pemikiran, dan keteladanan Gus Dur. Saat ini, Jaringan Gusdurian  mengelola puluhan komunitas lokal dan menghubungkan ribuan aktivis yang tersebar di seluruh Indonesia. Terlibat aktif dalam dinamika sosial masyarakat sekitarnya, utamanya di dalam tema-tema pemberdayaan masyarakat, pembelaan kelompok tertindas (mustadh’afin), gerakan kebhinnekaan, penguatan demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Khusus bagi para Gusdurian Muslim, juga berfokus pada isu-isu penguatan pesantren dan Islam Indonesia.

Alisa Wahid

Alissa Wahid, foto: LI

Alissa Wahid: Kemanusiaan Lebih Penting Daripada Politik

Koordinator Umum JGD Indonesia, Alissa Wahid, tampil sebagai pembuka acara pelatihan. Ia meyorot persoalan yang mendera bangsa akhir-akhir ini, terkait dengan menjamurnya berbagai kelompok anti-perbedaan.

“Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang damai, tetapi belakangan ini situasi mulai berubah dengan menjamurnya kelompok-kelompok intoleran di masyarakat,” paparnya.

Sementara kita menyaksikan bagaimana sepak terjang Gus Dur, yang semasa hidupnya senantiasa memposisikan dirinya yang selalu melawan arus. Ketika sentimen anti-China menguar, Gus Dur mengambil kebijakan kontroversial: menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Bahkan saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)  berkampanye untuk menjadi Bupati Belitung Timur, Gus Dur juga sempat turun ke lapangan memberinya dukungan. (Baca: Sejuta Hati untuk Sang Wali)

“Saya tidak mengikuti arus, melainkan, saya menciptakan arus,” ujar Alissa menirukan pernyataan Gus Dur.

Foto: LI

Foto: LI

Beberapa waktu yang lalu saat diselenggarakan Pilpres, masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua kubu yang saling menyerang satu sama lain, dengan menggunakan kampanye hitam dan mengangkat isu-isu SARA. Pilpres dianggap sebagai pertarungan hidup mati. Padahal itu semua murni kepentingan politik, dan Gus Dur pernah menasehati, bahwa ada yang lebih penting daripada politik, yaitu kemanusiaan.

Tentu, para Gusdurian pun diharapkan bisa menjadi ujung tombak perubahan – untuk mengembalikan bangsa Indonesia ini kembali kepada khittahnya, bangsa yang toleran dalam kemajemukan.

Noer Fauzi Rachman: Indonesia Target Kaum Kapitalis

Pembicara berikutnya, yaitu Noer Fauzi Rachman, mengetengahkan materi sambil berdiskusi. Ia menyoal kondisi Indonesia yang menjadi target kaum kapitalis. Saat ini, Indonesia menjadi pasar empuk bagi negara-negara luar untuk memasarkan produknya.

Bagaimana tidak miris, Indonesia memiliki tanah yang subur makmur, disebut sebagai negara agraris, tetapi aneka kebutuhan bahan pokok masih harus mengimpor dari luar.

Foto: LI

Foto: LI

Dari data yang dikeluarkan BPS, Indonesia mengimpor sayur mayur kepada Tiongkok, senilai US$ 52,19 juta sepanjang Januari-Februari 2014. Bukan hanya dari Tiongkok, bahkan ironisnya, Indonesia juga mengimpor sayuran dari Ethiopia, yakni salah satu negara termiskin di dunia.

Indonesia juga mengimpor buah-buahan, dari Tiongkok  dengan nilai impor US$ 81,97 juta. Selanjutnya disusul Amerika Serikat senilai US$ 10,55 juta dan Thailand US$ 6,57 juta selama Januari-Februari 2014. (Baca: Tanah Subur, Indonesia Impor Singkong )

Hairus Salim H S: Belajar Dari Revolusi Islam Iran

Hairus Salim H.S, Gusdurian asal Yogyakarta sekaligus Direktur LKIS, menyoroti momentum gerakan perubahan yang terjadi dalam Revolusi Islam Iran. Pasca jatuhnya Rezim Syah Reza, dilakukan referendum yang diawasi oleh PBB, dan hasilnya, 98,2% rakyat Iran menghendaki berdirinya Negara Islam Iran.

Menurut Hairus, Revolusi Iran membawa perubahan yang sangat penting tentang gaya hidup Islami. Kultur Islam masyarakatnya kuat, dan salah satu perubahan fenomenal adalah kewajiban untuk menutup aurat bagi wanita yang berada di Iran, tanpa kecuali. Apapun agamanya dan statusnya, baik itu pendatang (turis) ataupun penduduk Iran, wajib mengenakan jilbab. Dengan kata lain, di Iran jilbab merupakan salah satu alat guna berevolusi. Seperti halnya di Perancis, jilbab dianggap sebagai simbol perlawanan. Lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Iran setelah dan sebelum“Di Indonesia,  jilbab menjadi simbol korupsi,” sesal Hairus.

Memetakan Masalah di Daerah.

Peserta seminar membuat pemetaan terkait permasalahan yang terjadi di daerahnya masing-masing. Seperti peserta dari Kalimantan, ia mengangkat konflik agraria atau perebutan lahan. Disebutkan, bahwa Gusdurian telah mencoba turut andil, sehingga terbentuklah Gerakan Samarinda Menggugat yang berjuang untuk membela kepentingan masyarakat.

Peserta dari Sampang, menyorot konflik sekterian yang masih hangat dibicarakan. Memanasnya isu Sunni-Syiah, berujung pada pengusiran ratusan penduduk Syiah Sampang dari tanah kelahirannya sendiri. Mereka hidup memprihatinkan di pengungsian hingga hari ini, dan pemerintah seolah tak berdaya.

Massa membakar pemukiman kaum Syiah, saat terjadi kerusuhan, di Desa Karanggayam, Omben Sampang, Jatim, Minggu (26/8). ANTARA/Saiful Bahri

Massa membakar pemukiman kaum Syiah, saat terjadi kerusuhan, di Desa Karanggayam, Omben Sampang, Jatim, Minggu (26/8). ANTARA/Saiful Bahri

Yang kerap menjadi pertanyaan adalah, para penduduk baik yang bermazhab Sunni maupun Syiah, telah sepakat melakukan islah, pada 24 September 2013. Pihak yang berseteru, sepakat untuk berdamai dan hidup berdampingan.  Namun tak lama berselang, para penanda tangan perdamaian ini justru diinterogasi oleh pihak kepolisian Sampang.

Pun saat Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berkunjung kepada pemuka agama di Sampang, Ali Karrar, ia  mengaku setuju dengan rencana pemerintah untuk memulangkan warga Syiah ke kampung halamannya dengan syarat, yakni mereka keluar dari aliran Syiah dan kembali kepada ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah.  (Baca: Pengungsi Syiah Boleh Pulang, Asal…)

Semakin maraknya isu terkait toleransi, merupakan prioritas pembahasan pada acara ini. Apalagi, Indonesia dihadapkan pada ancaman perpecahan akibat munculnya pendukung teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang terang-terangan membaia’at Abu Bakar Al-Baghdadi, pemimpin ISIS. Bai’at ini dilakukan di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Ciputat, Solo, Makassar, dan Malang.

Muhammad Amrullah, dari PCINU Mesir mengungkapkan bahwa akar terorisme dan radikalisme adalah ideologi dan doktrin keliru yang telah mencuci otak, sehingga hal keliru dianggap  benar. Contohnya, ideologi yang mengkafirkan kelompok lain/ Takfiri. (Nu Online, 30 Maret 2014).

IRAQ-UNREST-ARMY-EXECUTIONSehingga, bisa disimpulkan bahwa paham Takfiri dan tiadanya toleransi terhadap pihak lain yang memiliki keyakinan berbeda, merupakan cikap bakal berkembangnya terorisme. Yang berbahaya bukan hanya teroris, namun juga pihak-pihak yang dengan sengaja menyulut perpecahan dengan menggoreng isu-isu SARA, ataupun yang melakukan propaganda dan fitnah dengan mengatas-namakan agama.

Untuk itulah, akhirnya dikeluarkan kesepakatan yang akan menjadi rujukan bagi para JGD di tanah air, yaitu:

  1. Menjunjung tinggi kebhinekaan.
  2. Bertanggung jawab atas Keutuhan NKRI.
  3. Melihat perbedaan sebagai rahmat Allah Yang Maha Esa.
  4. Menjunjung tinggi asas kemanusiaan
  5. Menolak segala bentuk diskriminasi  dan radikalisasi

Tak terasa, acara pun usai. Benar, NKRI adalah harga mati. Semoga Indonesia Raya semakin jaya. Aamiin. (ah/ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL