Habib LutfiLiputanIslam.com — Siapa yang tidak mengenal Habib Lutfi bin Yahya? Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah ini telah menghabiskan hidupnya untuk berdakwah di jalan Allah. Sosoknya begitu melekat dengan nasionalisme, persatuan dan toleransi. Ia senantiasa menyerukan agar putra-putri bangsa ini bersatu padu merawat kebhinekaan NKRI. Terkait jargon-jargon khilafah atau negara Islam yang marak dipropagandakan akhir-akhir ini, ia berpendapat bahwa hal itu hanyalah suatu ilusi.

“Kita perlu melihat sejarah, formalisasi syariat dalam sebuah negara – entah apapun namanya, itu tidak efektif. Negara Islam itu hanyalah ilusi, bagaimana mungkin kita menghilangkan batas-batas teritorial dan menggantinya dengan Khilafah? Sedangkan memperebutkan satu pulau saja butuh waktu berpuluh-puluh tahun,” jelasnya.

Bagi Habib Lutfi, toh umat Islam saat ini di Indonesia bebas melakukan aktifitas keagamaan, UUD menjamin dan negara melindungi. Sehingga, jika ada yang kurang, ia mengajak untuk sama-sama memperbaiki. “Jangan beri kesempatan adanya perpecahan sekecil apapun. Jaga NKRI. Sekali mereka tumbuh, maka akan menambah daftar (dari negara-negara yang chaos akibat terorisme) seperti: Afghanistan, Irak, Suriah dan Mesir.

Atas sikapnya yang arif tersebut, tak heran, jika Habib Lutfi senantiasa dikelilingi jamaah yang merindukan tausiah-tausiahnya yang menyejukkan, sebagaimana yang terjadi pada Jumat Kliwon, 20 Februari 2015 di Pekalongan. Pengajiannya, dihadiri oleh ribuan jamaah.

Habib lutfi 3Mengenang Pahlawan, Dzikir dan Nderes

Ada yang berbeda dari pengajian rutin Jumat Kliwon Habib Lutfi bin Yahya di Pekalongan. Tapi justru perbedaannya mengundang keunikan tersendiri. Pada saat yang sama daya tarik pengajian itu terletak pada keunikannya.

Pengajian dimulai pukul tujuh pagi dipimpin langsung oleh Habib Lutfi. Para hadirin pun sudah menanti. Bahkan satu jam sebelum acara dimulai, jamaah sudah berkumpul padat dan berebut di tempat biasa Habib Lutfi memimpin pengajian. Tak lama kemudian Habib Lutfi muncul dan langsung menuju tempat yang sudah disediakan.

Habib Lutfi duduk sama rata di tengah hadirin dan langsung memulai pengajian dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada para guru, kyai, habib, pahlawan dan tokoh-tokoh Islam, baik di level nasional maupun internasional yang jasa-jasanya senantiasa dikenang hingga saat ini.

Acara dilanjutkan dengan dzikir yang dibaca secara serempak dan syahdu yang diikuti oleh ribuan hadirin. Tidak sedikit yang tampak ekstasi. Tidak hanya mulut yang berdzikir tapi tubuh mereka pun bergetar, getaran yang berubah menjadi tarian Ilahi yang begitu eksotis.

Setelah dzikir yang dipimpin Habib Lutfi selesai, acara nderes yang merupakan tradisi pesantren-pesantren tradisional pun disuguhkan kepada para hadirin. Nderes itu menyimak kitab kuning yang kemudian diterjemahkan dengan bahasa Jawa. Bagi yang memahami bahasa Jawa, maka nderes ini merupakan daya tarik tersendiri. Tapi tentu saja, hal ini akan membosankan bagi yang tidak mengerti bahasa Jawa. Sepertinya hal itu disadari Habib Lutfi, kerena setelahnya, ia pun menjelaskan kembali isi kitab tersebut dengan bahasa Indonesia. Saat itu, Habib Lutfi memilih duduk di kursi sehingga jamaah yang telah membludak ke jalan dapat melihatnya.

Habib Lutfi 2Antri untuk Mencium Tangan Sang Ulama

Mencium tangan para ulama merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Dari Zari ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud)

Atas dasar hadits ini, para ulama mensunnahkan mencium tangan guru, ulama, orang shalih serta orang-orang yang kita hormati. Kata Imam Nawawi dalam salah satu kitab karangannya menjelaskan bahwa mencium tangan orang shalih dan ulama yang utama itu disunnahkan. Sedangkan mencium tangan selain orang-orang itu hukumnya makruh. (Fatawi al-Imam an-Nawawi, Hal 79).

Seperti diketahui, saat ini beredar berbagai fatwa-fatwa dari kelompok Wahhabi yang menganggap ‘cium tangan’ ini sebagai perbuatan yang merendahkan diri kepada selain Allah, sehingga menurut Wahhabi, lebih baik ditinggalkan. Namun meski doktrin ini telah disebarluaskan secara masif, jamaah Habib Lutfi sepertinya tidak terpengaruh. Seusai melakukan nderes, Habib Lutfi memberi kesempatan kepada ribuan para hadirin untuk menyalaminya. Jamaah, baik tua, muda maupun anak-anak, mengantri dengan sabar untuk bisa menyalami Habib Lutfi dengan wajah kerinduan dan ketulusan yang luar biasa. Sungguh, sebuah pemandangan yang sangat eksotis. (Alireza/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL