rasil1

Habib Husain Alattas (di mimbar), KH Saifudin (duduk)

Di tengah upaya gencar kaum takfiri untuk memecah belah umat, Radio Rasil menyelenggarakan acara tabligh akbar yang bertujuan mempererat ukhuwah Islamiyah. Dalam acara yang diselenggarakan di Masjid At-Tin Jakarta ini, dihadirkan dua ulama penyejuk umat, yaitu Habib Husain Alattas dan KH Saifuddin Amsir. Dalam pembukaan tabligh akbar yang dihadiri lebih dari 1000 jamaah ini, wakil DKM Masjid At-Tin, H. Wahyudi menegaskan bahwa tujuan acara ini adalah demi persatuan umat.

Dengan dipandu moderator M. Krisna, penyiar radio Rasil, kedua narasumber pun menyampaikan betapa ajaran Islam hanya akan berkembang dengan pesat di tengah masyarakat yang cerdas. Sayangnya, hari ini masyarakat justru banyak dijerumuskan dalam kebodohan oleh orang-orang yang mengaku juru dakwah dan memelintir ayat-ayat dengan tujuan memecah-belah umat.

rasil3Berpeganglah Pada Tali Allah

Habib Husain menegaskan, Islam mengajak kita agar tidak menerima sesuatu tanpa dasar ilmu. Nabi Muhammad datang menaburkan rahmat, mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju dunia ilmu yang terang benderang. Namun, kini banyak orang yang sedemikian senang menaburkan kebencian dan menyebut-nyebut orang lain bakal masuk ke dalam api neraka. Mereka ini tengah menaburkan fitnah, bukannya rahmat.

Padahal, tegas Habib Husain, Al Quran mengajak kita bersatu pada tali Allah, untuk berserah diri dalam keadaan muslimin.

“Eh, tahu-tahu mereka malah mengajak kita bergolong -golongan, bermusuh-musuhan. Lalu, apa kita mau ikuti dakwah mereka yang berpecah belah? Apa begini dakwah Quran dan Rasul?!” tanya Habib Husain.

Beliau lalu mengutip firman Allah, “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali ( agama ) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai..” (QS.Ali Imran[3]:103).

Habib Husain menjelaskan, berpegang kepada tali Allah artinya, satu-satunya yang dapat mengikat kita adalah ikatan Allah. Bekerja, berjuang, dan hidup semata-mata hanya mengharap ridha Allah. Kalau ini tidak dilakukan, kita akan masuk dalam berbagai golongan dan kelompok-kelompok kecil hingga setan dapat memecah-belah kita.

“Oleh karena itu, radio silaturahim (Rasil) bukan mengajak agar kita masuk pada golongan dan mencelupkan pada sekte tertentu, tapi kita mengajak umat agar kembali kepad samudra islam dan berpegang pada tali Allah, dan berjuang dengan bersatu. Dengan inilah kita akan kuat, tidak bisa dimanfaatkan oleh para agen dan musuh. Musuh-musuh Islam hari ini, tanpa mengerahkan pasukan, tanpa meneteskan darah, hanya dengan mengadu domba umat Islam, berhasil mengeruk kekayaan alam kita. Umat dipecah belah hingga terjadi pertumpahan darah, hasilnya mereka yang ambil,” kata Habib Husain.

rasil4Selanjutnya, Habib Husain memberikan tausiyah bahwa kita harus menjaga diri untuk tetap menjadi individu dan masyarakat muslim, dengan tidak menggunakan embel-embel lain. Dengan kata lain, jangan mengedepankan embel-embel kelompok dan golongan; yang penting adalah Islam dan persatuan. Karena bukankah Allah berfirman, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku- ridhai Islam jadi agama bagimu..( QS.Al-Maidah[5]:3).

“Kalau Allah telah menyempurnakan, kira-kira perlu gak menambahkan sesuatu, Islam NU, Islam Muhammdiyah, Islam Persis, Syiah, Sunnah, dan sebagainya? Bukankah seharusnya cukup dengan kata ‘muslim’, yang artinya amat indah, yaitu mengajak kita berserah diri secara total kepada Allah, agar kita tak mudah dipecah belah, diadu domba oleh setan. Karena, kalau hati kita tidak tulus, kita akan mudah dipecah belah,” tegas Habib Husain.

Karamah Para Habib

Sementara itu, KH. Saifuddin Amsir, MA, yang menjabat Rois Syuriah PBNU, menyebut-nyebut karamah (kemuliaan) yang dimiliki para Habib. Antara lain, dia menceritakan tentang ayahanda Habib Husain Alattas, yaitu al-Ustad Habib Hamid yang dikenal sebagai ulama yang sangat alim (berilmu tinggi).

rasil2

KH Saifuddin (foto: LI)

“Saya masih ingat kata mutiara yang beliau sampaikan dan itu masih bergema di telinga saya. Beliau berkata, alangkah bagusnya perbuatan baik itu dilakukan oleh seorang muslim dan akan jadi lebih baik lagi bila itu dilakukan oleh habaib, dzuriyah Nabi,” kata KH Saifuddin.

Selanjutnya KH Saifuddin menyatakan kesetujuannya atas isi ceramah Habib Husain. Menurutnya, munculnya golongan-golongan dan mazhab-mazhab adalah pasca wafatnya Rasulullah. Dan bila kita lihat perilaku ulama zaman dulu, mereka sangat tawadhu’ dan sama sekali tidak saling mengkafirkan sesama ulama. Misalnya, Imam Syafii dengan tawadhu’ menuntut ilmu kepada Imam Malik. Saat menuntut ilmu, sikapnya pun sangat rendah hati, misalnya tidak menggunakan alas kaki, demi penghormatan.

KH Saifuddin mengkritik sebagian orang yang gemar menggunakan isu Sunni-Syiah untuk memfitnah dan menjatuhkan orang lain. Menurutnya ini adalah perilaku buruk yang hanya akan menyebarkan kebencian dan merusak persatuan umat Islam. (AH/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL