kh-said-aqilKetua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA pada hari Sabtu (29/11) dikukuhkan sebagai guru besar bidang tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Ulama kelahiran Cirebon 3 Juli 1953 ini menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien (Cirebon), Pesantren Lirboyo (Kediri), Pesantren Al-Munawwir (Yogyakarta). Kemudian beliau melanjutkan studi S1 di Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah (lulus 1982). Program S2 dan S3 ditempuhnya di Universitas Umm al-Qura, Arab Saudi. 

Di hadapan sekitar 1000 tamu undangan, termasuk di antaranya mantan Mendikbud Mohammad Nuh, Menristek Prof Muhammad Nasir, Mensos Khofifah, Menteri Desa Marwan Jafar, Rais Aam Syuriah PBNU KH Mustofa Bisri, Wagub Jatim H Saifullah Yusuf, dan sejumlah ulama,KH Said membacakan orasi ilmiahnya yang berjudul “Tasawuf Sebagai RevolusiSpiritual Dalam Kehidupan Masyarakat Modern”.

Dalam kesempatan itu, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Abdul Ala mengatakan pihaknya sudah mengkaji kontribusi KH Said Aqil Siroj dalam bidang keilmuan dan ternyata memenuhi syarat sebagai guru besar ke-47 di UINSA.

(foto:suara-islam.com)

(foto:suara-islam.com)

“UINSA (UIN Sunan Ampel) juga menilai guru besar bidang tasawuf itu langka dan Kiai Said Aqil merupakan guru besar bidang tasawuf satu-satunya di UINSA, jadi komitmen UINSA pada aspek keilmuan dan kecerdasan spiritual itu tidak main-main,” katanya.

Berikut ini kami rangkumkan isi orasi ilmiah Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA, yang aslinya berjumlah 41 halaman itu.

Pentingnya Tasawuf di Masa Modern

Di masa modern ini, manusia justru terkepung dalam situasi degradasi tata nilai,moral, sosial, politik dan segala hal yang menjurus pada penurunan martabat manusia sehingga menyebabkan pengaburan  nilai-nilai hakiki kehidupan. Banyak orang kemudian merasakan adanya kegersangan dan kekeringan hidup akibat pendangkalan nilai itu.

Situasi ini mendorong manusia untuk mencari kembali aspek spiritualitas. Ekses negatif dari modernisme telah menjadi salah satu pemicu bagi memekarnya hasrat pada spiritualitas. Sayangnya, oleh sebagian kalangan, tasawuf malah dituduh sebagai ‘virus’ yang menghambat kemajuan dan menyebabkan ketertinggalan dunia muslim dalam kancah peradaban modern. Ajaran dan doktrin-doktrin tasawuf dianggap tidak relevan dengan spirit era global dan modernisme.

(foto: Antara)

(foto: Antara)

Begitupun, kelompok-kelompok Islam puritan menganggap tasawuf sebagai bid’ah dan khurafat yang menyesatkan, seperti kita lihat akhir-akhir ini dengan kemunculan kelompok Islam radikal-puritan/salafi-wahabi. Padahal bila kita baca dalam sejarah, banyak para sufi yang justru memajukan peradaban Islam. Para sufi dikenal dengan keilmuannya yang ensiklopedis. Di antaranya, Syekh Sahl At-Tasturi, sufi yang ahli tafsir. Syekh Ibnu Arabi, sufi yang mengedepankan tasawuf-falsafi, dan dikenal pula sebagai ahli tafsir dan hadits.

Apakah Tasawuf Itu?

Berikut ini beberapa definisi tasawuf. Syekh Abu Mahfuz Ma’ruf al Kharkhi berkata, “Tasawuf adalah berusaha meraih hakekat dan meninggalkan segala apa yang berada di tangan para makhluk.”

Syekh Dzunun Al Misri berkata, “Sufi adalah orang yang mendahulukan Allah dan mengalahkan selain-Nya, maka Allah akan mendahulukan dia mengalahkan selainnya.”

Imam Abu Al Husain An Nauri mengatakan, “Tasawuf adalah meninggalkan segala keinginan hawa nafsu.”

Ada yang mengatakan bahwa tasawuf adalah etika Islam. Menurut Prof Said Aqil, tasawuf bukan sekedar etika, tapi lebih penting dari itu. Tasawuf tidak lagi bicara soal baik buruk, tetapi tentang sesuatu yang indah, selalu mengaitkan jiwa, roh, dan intuisi. Ia tidak hanya membangun dunia yang bermoral, tapi juga dunia yang indah dan penuh makna.

Tasawuf bukan pula spiritualitas yang sekedar menjadi tempat pengasingan diri. Tasawuf berusaha menampilkan visi keagamaan yang otentik yang mengarahkan diri untuk melampaui diri. Sebuah visi yang tepat dalam menafsirkan dunia, dunia lain di luar dunia ini yang mungkin ada dan melingkupi seluruh realitas.

Tasawuf terdiri dari 2 asas: pertama, pelatihan batin, yaitu berusaha membangun hubungan langsung antara hamba dan Allah melalui latihan spiritual yang intensif dan mendalam. Kedua, imkan al ittihad, yaitu kemungkinan kebersatuan antara sufi dan Allah secara rasa (dzauq). Di sini sufi memperkuat wujud yang mutlak yang mencakup semua wujud, sehingga sampai pada perasaan tiada yang ‘ada’ kecuali hanyalah Allah.

Tasawuf Menyiratkan Penglihatan Hati

Tasawuf menyiratkan penglihatan hati, yaitu sebuah kemampuan penglihatan yang dikenal hanya oleh “para pemilik hati”, yakni mereka yang selalu menjauhkan diri dari wilayah ego dan kepribadian temporal berkat cinta Ilahi dan merenungkan Tuhan melalui “penglihatan Tuhan”.

Penglihatan seperti ini didasarkan pada cinta dan dipraktikkan oleh mereka yang bebas dari kepentingan pribadi. Ini membawa implikasi praktis, yaitu keyakinan sufistik akan memunculkan sikap pelayanan pada masyarakat, memberi panutan kemuliaan manusia, meneladankan semangat kerja, kedermawanan, kesopanan, kasih sayang dan toleransi yang tinggi pada agama lain.

Dalam QS Al Hadid 16, Allah bertanya kepada orang yang sudah masuk kategori ‘mukmin’. Orang mukmin itu sudah beribadah dan menjauhi larangan-Nya, serta telah berbuat segala bentuk kebaikan. Tetapi, nyatanya Allah masih mempertanyakan, “sampai kapankah orang-orang mukmin ini memiliki hati yang tidak khusyuk?” Allah justru tidak menanyakan soal banyaknya beribadah atau banyaknya perbuatan baiknya.

(foto: LiputanIslam.com)

(foto: LiputanIslam.com)

Lalu, apakah hati yang khusyuk itu?

Hati (qalb) mengandung lima pengertian. Pertama, hati berfungsi sebagai bashirah , yaitu untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Setiap orang memiliki fitrah kemampuan membedakan mana yang baik dan yang buruk. Kedua, hati berfungsi sebagai dhamir atau moral, yaitu yang memotivasi manusia untuk berbuat kebajikan. Ketiga, hati sebagai fuad, yaitu sebagai hakim yang menentukan apakah perbuatannya baik atau buruk. Sebagaimana firman Allah dalam QS An Najm 11: hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Keempat, hati sebagai sirr, yaitu penyingkap rahasia. Kelima, hati sebagai lattifah, yaitu kelembutan batin yang mampu mengakses langsung Lauh Mahfudz.

Untuk memiliki hati yang seperti itu, diperlukan upaya “pensucian diri” (tazkiyatu an-nafs) secara kontinyu. Hal ini memerlukan upaya spiritual, antara lain melalui dzikir.

Tasawuf sebagai amunisi bagi revolusi mental

Tasawuf sangat dibutuhkan menjadi semangat era global dan modernisme yang gersang darinilai-nilai spiritualitas. Sejarah kejumudan dan kemunduran umat Islam bukan disebabkan doktrin dan ajaran tasawuf, melainkan justru akibat umat Islam meninggalkan nilai-nilai tasawuf dan terjebak dalam kubangan fitnah duniawi.

Bangsa Indonesia hari ini merasakan pudarnya nilai kemanusiaan, persatuan, solidaritas, yang akarnya adalah kejatuhan mental. Akibatnya bangsa ini mudah dimasuki oleh pengaruh asing, seperti kapitalisme, liberalisme, radikalisme, dan terorisme. Maka sangat jelas diperlukan revolusi mental yang membutuhkan ‘amunisi’ yang lebih mendalam dan mendasar dalam mendongkrak dan membangun mentalitas bangsa yang paripurna, yaitu melalui’revolusi spiritual’ yang berbasiskan pada tasawuf. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL