Musyawarah Anak Muda NU

Musyawarah Anak Muda NU

Istilah “Islam Nusantara” akhir-akhir menjadi polemik, dan bahkan dikecam sebagian pihak. Menurut M. Sulton Fatoni (Wasekjen PBNU), Islam Nusantara adalah wajah keislaman yang ada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia di dalamnya; yaitu ajaran Islam yang terimplementasi di tengah masyarakat yang mental dan karakternya dipengaruhi struktur wilayah kepulauan.

Praktik keislaman ini tecermin dalam perilaku sosial budaya Muslim Indonesia yang moderat (tawassuth), menjaga keseimbangan (tawazun), dan toleran (tasamuh). Ketiga sikap ini pijakan masyarakat pesantren untuk mencari solusi problem sosial akibat liberalisme, kapitalisme, sosialisme, termasuk radikalisme agama-agama.

Upaya NU mengaktualisasikan kembali konsep Islam Nusantara bukanlah langkah yang tiba-tiba. NU adalah organisasi yang berbasis sejarah sangat panjang dan memiliki pengaruh besar di tengah kaum Muslim Indonesia. Kelahiran NU merupakan buah pertanda kelahiran perjuangan panjang yang diakui berbagai kalangan eksternal. Makna kelahirannya, menurut KH HM Dachlan (feilladr: 1999: 15), berakar pada perjuangan antikolonial. KH Saifudin Zuhri (A Ghaffar Karim, 1995: 5) mengatakan bahwa dorongan yang melahirkan konsolidasi NU adalah kesadaran bertanggung jawab kepada Islam, umat Islam, dan tanah air. Peneliti Zerman, Manfred Ziemek (1986: 64-65), menyimpulkan bahwa NU mewakili tradisi perlawanan ratusan tahun terhadap kekuasaan kolonial Belanda, dengan kedudukan mandiri, bebas, dan terdesentralisasi pada masyarakat pedesaan yang para kyainya orang-orang paling berpengaruh dan tak diperintah siapapun. Yang dimaksud Manfred adalah tradisi perlawanan terhadap kolonial yang dipimpin oleh para ulama sejak 1500-an, yakni sejak Untung Suropati mengangkat senjata, menyusun barisan, dan mengorganisasi perlawanan terhadap penjajah.

Sesuai dengan kondisi zaman yang selalu naik-turun dan turun-naik, NU perlu melakukan transformasi. NU perlu melakukan revitalisasi-dinamisasi dan kembali merangkul jamaah untuk kemaslahatan bersama-sama membela agama dan bangsa. Berbagai problem kemasyarakatan, kebangsaan, dan dunia global membutuhkan kontribusi, solidaritas, dan kepedulian NU. Dalam konteks strategi inilah, diselenggarakan Musyawarah anak Muda NU 2015 di Pondok Pesantren Mlangi Jatim, bulan Mei lalu. Diharapkan anak muda NU yang tidak terlalu memikul beban sejarah atau limpahan kompleksitas problem internal NU, dapat menyambungkan pemikiran-pemikiran strategi untuk kebangkitan NU.

Musyawarah Kubro Anak Muda NU 2015 membahas 8 tema yang menjadi titik strategi pengembangan NU ke depan, yaitu Strategi Gerakan Kegamaan NU, Strategi Kebudayaan NU, Strategi Gerakan Pendidikan NU, Strategi Gerakan Politik NU, Strategi Gerakan Ekonomi NU, Strategi Gerakan Kesehatan NU, Strategi Gerakan Advokasi Kerakyatan NU (sektoral), dan Strategi Gerakan Media NU.

Melalui Musyawarah Kubro Anak Muda NU ini, diharapkan kesatuan langkah- langkah di antara kaum muda NU di seluruh Indonesia dalam menghadapi tantangan yang ada. Seperti diketahui, pertumbuhan kelompok -kelompok Islam berbasis Wahabisme dengan jubah Salafi, HTI, dan PKS semakin merasuk ke desa-desa dengan membangun pesantren dan jaringan transnasionalnya. Akibatnya, diberbagai tempat terjadi kontestasi dan benturan keras dengan tradisi dan warga NU yang menganut Ahluasunah Wal Jamaah.

Acara sidang pleno pertama yang dibuka di Masjid Jami’ Pathok Negara oleh beberapa Kyai dan salah satu ketua PBNU KH. Imam Aziz, juga dihadiriAlissa Wahid (putri almarhum Gusdur-sekaligus ketua jaringan Gusdurian Nasional), serta tentunya ketua penyelenggara, Kyai Muhammad Mustafied S.Fil. (pengasuh ponpes Mahasiswa ASWAJA Nusantara Mlangi).

Hal menarik yang menjadi rekomendasi musyawarah ini adalah perlunya NU merawat serius pondok pesantren sebagai basis kader dan sumber pembibitan ulama. Termasuk melakukan advokasi terhadap pesantren kecil, dan melakukan affirmative action mendorong santri ber-tafaqquh fid-din. Inilah langkah yang sangat penting untuk menghindarkan kaum muda Indonesia dari paham-paham radikal Salafi-Wahabi yang sangat jauh dari konsep Islam Nusantara, Islam yang rahmatan lil alamin. (AH/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL