gus dur kemajemukanLiputanIslam.com — Ribuan pecinta KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur, memadati kediamannya yang terletak di Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 27 Desember 2014. Mereka hadir, untuk memperingati 5 tahun wafatnya Gus Dur (haul) yang bertajuk ‘Kepemimpinan Etis dan Tawadlu Kepada Kepentingan Bangsa’.

Serangkaian acara seperti khotaman Qur’an, dilakukan ba’da Ashar sampai menjelang Maghrib. Istimewanya, haul ini tidak hanya dihadiri oleh ummat Islam saja, melainkan juga dari pemuka agama Katolik, Hindu, Budha. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansah, politisi Partai Golkar Akbar Tandjung, mantan Menteri Perekonomian  Rizal Ramli, Bondan Gunawan, penyanyi Elvi Sukaesih, KH. Zawawi Imron, dan mantan Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y. Tohari.

Inayah Wulandari Wahid

Inayah Wulandari Wahid

Gus Dur Sering Blusukan

Acara puncak dimulai sekitar pukul 7.00 malam, dengan pembacaan dzikir tahlil oleh KH. Azis Masyhuri. Setelahnya, Inayah Wulandari Wahid, putri Gus Dur memberikan sambutan. Ia menuturkan Gus Dur yang sering blusukan semasa hidupnya.

“Kalau dulu kan belum ada istilah blusukan ya…nah Gus Dur itu sering blusukan, dan blusukan beliau berakhir khusnul khotimah. Gus Dur telah memberikan teladan kepemimpinan yang baik,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, Gus Dur juga merupakan sosok pemimpin yang siap mendengarkan keluh kesah masyarakat secara langsung.

“Bapak juga tidak jarang datang ke masjid depan rumah khusus untuk masyarakat agar semua bisa mengakses Gus Dur, jadi sangat terjangkau. Gus Dur itu selalu menyempatkan dan mau bertemu serta mendatangi siapa saja,” kata Inayah.

Hajriyanto Y Tohari

Hajriyanto Y Tohari

“Beliau mendengarkan keluhan masyarakat untuk bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Gusdur Pemilik Jenang, Jeneng, Jenat

Sambutan Hajriyanto Y. Tohari lain lagi. Ia menyatakan, bahwa Gus Dur memiliki 3 hal yang menjadi tujuan hidup orang Jawa tradisional, yaitu 3J (Jenang, Jeneng, Jenat).

“Nama (jeneng) Gus Dur harum tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar. Beliau mendapatkan nama yang besar. Saya Muhammadiyah, tetapi mengagumi Gus Dur. Bahkan ketika beliau telah tiada, jeneng-nya masih besar. Saya berharap model kepemimpinan Gus Dur bisa diteladani oleh pemimpin di negeri ini,” harapnya.

Masyarakat Jawa memiliki sebuah pandangan filosofis 3J. Jeneng artinya adalah citra atau nama baik. Semua orang, pastinya memiliki keinginan untuk memiliki nama atau jeneng yang baik. Untuk menggapainya, maka seseorang harus memiliki sikap atau akhlak yang baik.

pecinta Gus Dur memadati lokasi acara

pecinta Gus Dur memadati lokasi acara

Lalu jenang, adalah nama sebuah makanan, yang dianggap sebagai simbol harta kekayaan. Pada umumnya, manusia tidak cukup hanya dengan memiliki citra yang baik, tetapi ia juga membutuhkan harta. Kadangkala demi harta, seseorang tega melakukan kejahatan. Hal ini bisa dilihat dari maraknya para pejabat di lembaga legislatif, eksekutif, atau yudikatif, yang terlibat kasus korupsi.

Sedangkan jenat, adalah sebuah nama yang disandang saat manusia telah tiada. Lazimnya di Indonesia, orang yang telah meninggal disebut almarhum. Namun dari sudut pandang filosofis, jenat merupakan penggambaran tentang kehidupan setelah kematian, yang tentunya, sangat berkaitan dengan apa yang telah kita perbuat di dunia saat masih hidup.

Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat toleran dan welas asih. Semasa kepemimpinannya yang singkat, ia telah melakukan berbagai terobosan dalam menghapus sekat-sekat berbangsa seperti perbedaan suku, agama, budaya maupun etnis. Ia merangkul semua golongan, kendati atas sikapnya tersebut, ia kerap mendapat tudingan miring.

Khofifah Indar Parawansa

Khofifah Indar Parawansa

Khofihah Sampaikan Amanat Gus Dur

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, menuturkan amanat yang pernah disampaikan oleh Gus Dur kepadanya. Selama ini, amanat tersebut ia pendam.

“Ada amanat Gus Dur yang mudah-mudahan malam ini, saya punya keberanian menyampaikan kepada keluarga beliau. Sejak 2 tahun sebelum beliau wafat, ia meminta agar di batu nisannya ditulis sebuah kalimat yaitu, ‘The Humanist Died Here‘,” kenangnya.

“Saya merasa bahwa saat Gus Dur memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme,  yang mendorongnya adalah sisi kemanusiaannya beliau,” tambah dia.

Khofifah mengaku bahwa ia sempat beberapa kali menanyakan kepada sejumlah rekannya, apakah ada yang mendapatkan amanat serupa, dan ternyata hasilnya nihil. Hingga 5 tahun Gus Dur berpulang, barulah Khofifah menyampaikan pesan itu kepada keluarga almarhum.

haul gus dur 1“Saya pernah tanya kepada beberapa teman…adakah yang pernah diberi pesan seperti saya? Tapi saya belum menemukan orang yang juga dititipi pesan serupa,” pungkasnya.

Puisi untuk The Humanist

Haul kali ini begitu istimewa, terlebih, saat KH Husein Muhammad membacakan puisi yang diiringi lagu oleh seorang pendeta, yang seolah-olah hendak menggambarkan sebuah kerukunan, kerjasama dan toleransi. Berikut ini, adalah bait-bait puisi yang dilantunkan dengan indah;

Oleh : KH. Husein Muhammad

فِى يَومِ وَفَاةِ غُوسْ دُورْ قُلْتُ لَهُمْ :
كَيْفَ لَا يَطِيرُ البُلْبُلْ
وَيُمَزِّقُ اَلْفَ حِجَابٍ
عِنْدَمَا نَادَاهُ الْحَبِيْبُ : إِرْجِعِى

Pada hari Gus Dur wafat, aku katakan kepada mereka :
“Mana mungkin Bulbul tak terbang pulang,
Merobek seribu tirai penghalang
Ketika diseru sang Kekasih: “Irji’i”.
Pulanglah ke dalam dekapan-Ku

يَا مَنْ أَنْتَ فِى سَاعَةِ الْاَلَمِ رَاحَةٌ فِى نَفْسِى
يَا مَنْ أَنْتَ فِى مَرَارَةِ الْفَقْرِ كَنْزٌ لِرُوحِى
يَا مَنْ أَنْتَ فِى ظُلْمَةِ الْجَهْلِ نُورٌ فِى عَقْلِى

Duhai dikau, yang ketika aku dirundung duka-nestapa
Adalah Pelipur jiwaku
Duhai, dikau, yang ketika aku dihimpit pahitnya kepapaan
Adalah perbendaharaan ruhku
Duhai dikau, yang ketika aku ditelikung kegelapan
Adalah Cahaya akalku

مَا مَضَى فَاتَ وَالْمُؤَمَّلُ غَيْبٌ
وَلَكَ السَّاعَةُ الَّتِى أَنْتَ فِيهَا
وَلَنْ نَسْمَع الْبُلْبُل تُغَرِّدُ حُلْواً
يَحْكِىى سِيرَتَهُ وَغَرَابَتَهُ

Kemarin telah lewat
Dan harapan adalah kegaiban
Engkau kini sudah di sana
Dan aku tak kan lagi mendengar
Kicau merdu Bulbul
Bercerita pengembaraan dan keasingannya

هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ
لَا يَأْتِى الزَّمَانُ بِمِثْلِهِ
إِنَّ الزَّمَانَ بِمِثْلِهِ لَبَخِيلُ

Alangkah jauhnya, O, alangkah jauhnya
Hari ini tak lagi seperti kemarin
Betapa pelitnya zaman
Memberi hari ini seperti hari kemarin

مَضَى الزَّمَانُ فَكُلُّ فَانٍ ذَاهِبٌ
إِلَّا جَمِيلَ الذِّكْرِ فَهُو الْبَاقِى

Zaman telah pergi
segala yang tak abadi hilang lenyap
Hanya sebutan yang indahlah
yang terus mengalir abadi

طُوبَى لِلْمُخْلِصِيْنَ الَّذِيْنَ إِذَا حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا وَإذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا
أُولَئِكَ مَصَابِيْحُ الْهُدَى تَنْجَلِى بِهِمْ كُلُّ فِتْنَةٍ ظَلْمَآء (حديث)
وانت يا حبيبى غوس دور منهم

Aduhai, betapa damai jiwa-jiwa yang tulus.
ketika hadir tak dikenal,
ketika pergi dicari-cari
mereka kandil-kandil yang bersinar cemerlang
berkat mereka
wajah-wajah buram-kusam-masam
tampak benderang
Dan engkau, O. Kekasihku, Gus Dur,
Adalah mereka

يَا حَبِيبَ الرُّوح
قُلُوبُ وِدَادِكُمْ تَشْتَاُق
وَاِلَى لَذِيذِ لِقَآءِكُمْ تَرْتَاحُ
يُبَلَّغُونَ السَّلَامَ عَلَيكُمُ
وَيَرْجُونَ رَحْمَةَ رَبِّكُمُ

Duhai kekasih ruhku
Para pencintamu merinduimu
Kelezatan berjumpamu
Menitipkan rasa damai
Mereka menyampaikan salam untukmu
Dan mengharap rengkuhan Kasih Tuhan bagimu
Gus Dur menjawab :

يَا مَنْ تَبْحَثُ عَنْ مَرْقَدِنَا
قَبْرُنَا هَذَا فِى صُدُورِ العَارِفِينَ
وَقُلُوبِ الْمَجْرُوحِين

Duhai kalian yang mencari tempat tidurku
O, lihatlah, aku di dalam palung jiwa para bijak bestari
Dan mereka yang hatinya terluka. (Abdul Hakim Hasan/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL