ki-ka: Dimas, Ust. Abdullah, Ust Nurdin, Dina YS

ki-ka: Dimas, Ust. Abdullah, Ust Nurdin, Dina YS

LiputanIslam.com–Meski telah berlangsung selama 5 tahun, konflik Suriah tak kunjung mereda. Biarpun Suriah jauh dari Indonesia, efek konflik di sana menjalar hingga ke Indonesia. Sejak awal konflik hingga kini, ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan persatuan-kesatuan Indonesia dengan menggunakan berita-berita bohong mengenai Suriah. Propaganda yang mereka gunakan adalah bahwa di Suriah orang-orang Syiah membantai Sunni, karena itu kaum Syiah di Indonesia harus diberangus. Sejalan dengan itu, berbagai fitnah tentang Syiah disebarluaskan secara masif dan terstruktur. Meskipun jumlah penganut Syiah di Indonesia sangat sedikit, propaganda ini mengancam seluruh Indonesia karena pihak-pihak tak bertanggung jawab itu dengan mudah memberi label Syiah kepada siapa saja yang berseberangan dengan mereka.

Untuk mengatasai situasi ini, tak pelak lagi, pengetahuan umum tentang geopolitik perlu diperdalam. Definisi geopolitik adalah studi tentang efek geografi terhadap politik internasional. Mengapa Timur Tengah selalu berkonflik, dan mengapa Indonesia perlu waspada? Jawabannya ada di geopolitik. Timur Tengah adalah kawasan yang sangat kaya sumber daya alam, menjadi pusat pertarungan kepentingan kapitalis dunia. Indonesia pun merupakan pusat Asia Tenggara, dengan segala potensi sumber daya dan posisinya yang menjadi jalur lalu-lintas perdagangan dunia. Tak heran bila kedua kawasan ini terus digoyang agar saling berseteru dan berkonflik, sementara kaum kapitalis global leluasa mengeruk kekayaan alam di sana.

peserta seminar Geopolitik Timteng Uniba

peserta seminar Geopolitik Timteng Uniba

Demikianlah antara lain kesimpulan dari para pembicara Seminar Geopolitik Timur Tengah yang digelar pada hari Ahad, 10 April 2016 di Universitas Balikpapan (Uniba). Seminar yang merupakan hasil kerjasama IKMAL (Ikatan Alumni Jamiah Al Mustafa atau alumnus Iran) bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Uniba ini bertajuk “Geopolitik Timur Tengah: Membaca Konflik Timur Tengah Secara Adil, Mengungkap Fakta Atas Realita”.

Seminar ini menghadirkan dua pembicara anggota IKMAL, yaitu Dina Y. Sulaeman selaku pengamat Timur Tengah dan Ustadz Abdullah Beik, MA, sebagai wakil dari Tim Kajian Ikmal. Hadir pula sebagai pembanding, Ustadz Nurdin Ismail, MA, anggota MUI Balikpapan dan anggota KAHMI (Korps Alumni HMI). Acara dibuka oleh Ketua HMI Balikpapan Muhammad Ikbal dan dimoderatori kader HMI Uniba Dimas Adhitama.

Dina Y. Sulaeman

Dina Y. Sulaeman

Dalam paparannya, Dina menjelaskan mengenai situasi geografis, sejarah, dan politik Timur Tengah. Pada masa Perang Dunia I, Inggris menjalin perjanjian dengan Gubernur Mekah saat itu, Sharif Husein, agar melakukan pemberontakan kepada Imperium Ottoman. Sebagai imbalan, bila Ottoman runtuh, Sharif Husein akan diberi wilayah kekuasaan di Semenanjung Arab dan Irak. Setelah akhirnya tentara Sekutu memenangkan perang, wilayah Timur Tengah yang semula di bawah kekuasaan Ottoman dibagi-bagi menjadi negara-negara yang kecil dengan tujuan agar mudah dikontrol.  Selanjutnya, dimulailah upaya pendirian Israel di kawasan Palestina yang sejak awal dimaksudkan sebagai pencangkokan “organ asing” di kawasan agar Timteng tak pernah bisa bersatu.

Dina juga memperlihatkan berbagai bukti foto dan film bahwa segala konflik di Timteng diawali dengan manipulasi informasi. Misalnya, Perang Melawan Terorisme diawali dengan peledakan gedung WTC pada 9 September 2001, yang ternyata sangat mencurigakan. Kemudian, alasan yang dipakai untuk menyerbu Irak pada 2003 adalah karena Saddam memiliki senjata pembunuh massal, dan akhirnya pada 2011, elit AS mengaku bahwa tidak ada senjata tersebut. Demikian pula perang Suriah, isu yang disebarkan adalah “kaum Syiah di Suriah membantai kaum Sunni” dengan menyebarkan berbagai foto dan video mengerikan. Akibatnya, ratusan ribu jihadis berdatangan ke Suriah dan mengakibatkan banyak kehancuran di negeri tersebut. Namun, seperti ditayangkan dalam seminar ini, berkat teknologi digital, foto-foto dan video itu bisa dilacak dan terbukti palsu.

buku karya Tim Kajian Ikmal

buku karya Tim Kajian Ikmal

Sayangnya, pengungkapan kebohongan dalam Perang Suriah ini belum banyak diketahui publik. Yang tersebar luas di Indonesia justru berbagai fitnah mengenai mazhab Syiah. Isu Sunni-Syiah akhir-akhir ini dijadikan alat untuk mengadu domba umat. Untuk itulah, IKMAL menerbitkan buku “Syiah antara Fitnah dan Fakta” yang isinya mengklarifikasi berbagai tuduhan dan fitnah terhadap Syiah, dengan harapan masyarakat Muslim Indonesia tidak terpengaruh oleh upaya adu domba. Demikian antara lain yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Beik.

Sementara itu, Ustadz Nurdin Ismail mendorong mahasiswa anggota HMI untuk ambil bagian dalam upaya pelurusan informasi agar ukhuwah umat dan persatuan NKRI tetap terjaga. Dalam paparannya, Ustadz Nurdin menyatakan bahwa kader HMI memiliki 3 tugas penting. Pertama, mencegah agar jangan sampai konflik Timteng merembet ke Indonesia. Kedua. HMI dikader sebagai agen pemersatu bangsa yang mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Karena itu, di tengah situasi panas yang dihasilkan oleh propaganda kaum takfiri, kader HMI harus menjadi penengah dan mendorong agar umat saling memahami dan mengamalkan Islam yang rahmatan lil alamin. Ketiga, kader HMI perlu aktif melakukan pelurusan informasi yang berpotensi memecah belah umat. (fa/dw)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL