Bandung, LiputanIslam.com–Pakar kebencanaan ITB, Irwan Meilano, Ph.D menyatakan bahwa pada dasarnya, gempa adalah sunnatullah atau sesuatu yang alami terjadi. Namun, bisa mendatangkan bencana kepada manusia ketika manusia tidak bersiap siaga atau lalai dalam mempersiapkan diri.

Menurut Irwan, gempa selalu berulang secara berkala, bisa puluhan atau ratusan tahun sekali. Para ilmuwan kebencanaan telah menemukan sejarah titik-titik gempa dan durasi waktu perkiraan berulangnya gempa. Karena itu, siap atau tidak siapnya manusia dalam menghadapi gempa, adalah pilihan manusia itu sendiri. Ketika tidak siap, terjadilah bencana yang merenggut nyawa dan harta.

Persiapan yang dimaksud Irwan misalnya adalah pembangunan gedung yang tahan gempa, tidak membangun bangunan di jalur robekan gempa, dan kemampuan mitigasi bencana.

“Yang tak kalah penting, memperkuat mental dan kesadaran sosial masyarakat. Penjarahan [yang terjadi pasca gempa di beberapa daerah -red] adalah masalah mental. Karena itu, bicara gempa bukan hanya urusan ilmuwan gempa, tetapi juga budayawan, ahli fiqih, pendidik, dan semua pihak yang mampu menjawab mengapa secara mental bangsa kita belum tangguh,” kata Irwan.

Hal ini disampaikan Irwan dalam acara bertajuk Malam Renungan, Doa, dan Kepedulian yang berlangsung di amfiteater Celah-Celah Langit, Ledeng, Bandung (19/10). Acara yang diselenggarakan oleh berbagai komunitas dan organisasi masyarakat ini diisi pula oleh  pembacaan puisi oleh budayawan Iman Soleh dan Anjar, serta lantunan musik beberapa musisi Bandung, seperti Adew Habtsa, Trisnoyuwono, dll.

Pembicara lainnya dalam acara ini, Otong Sulaeman, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, mengupas bencana dari perspektif teologis. Otong mengatakan bahwa kematian adalah proses terpisahnya ruh dari raga; dan kematian tersebut bisa terjadi dengan cara yang beragam, termasuk lewat bencana.

Otong juga mengupas relasi bencana dengan maksiat dalam pandangan Islam. Menurutnya, banyak orang serta-merta mengaitkan peristiwa bencana dengan kemaksiatan di daerah tersebut. “Bila bencana selalu dikaitkan dengan maksiat, bukankah ada banyak orang-orang baik di kawasan itu?” kata Otong. Memang betul ada ayat Quran yang menyatakan bahwa ada bencana yang disebabkan oleh kemaksiatan, dan sebaliknya juga, rahmat Allah akan diturunkan kepada penduduk negeri yang bertakwa. Hanya saja, di dalam ayat Al-Quran juga dikatakan bahwa orang-orang baik sekelas para nabi pun tak luput dari ujian berupa bencana. Al-Quran juga menyatakan ada orang-orang kafir yang hidup bergelimangan kemewahan dan luput dari ujian bencana.”

Pembicara ketiga, Miftah F. Rakhmat, seorang intelektual muda dan aktivis sosial-agama, mengingatkan hadirin bahwa dalam hidup manusia selalu saja ada hak-hak orang lain yang luput ditunaikan.

“Karena itulah di hari akhir nanti, di antara sesama manusia akan terjadi saling penuntutan. Orang-orang yang pernah kita langgar haknya akan menuntut kita, dan akibatnya amalan kita terpaksa diberikan kepada mereka. Jangan sampai, saking banyaknya hak orang lain yang kita langgar, kita merugi di akhirat karena bekal amalan yang kita bawa habis. Kelak di hari kiamat, setiap orang akan saling menuntut,” kata Miftah dengan mengutip ayat Quran surah Az-Zumar ayat 30 dan 31

Selanjutnya, menurut Miftah, orang-orang yang terkena bencana, musibah, atau perang, adalah orang-orang yang menderita dan berhak mendapatkan bantuan dari kita. Menyumbang atau memberikan sebagian rezeki kita kepada mereka adalah bagian dari upaya kita menunaikan hak agar kelak di akhirat amalan kita berkurang.

Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta yang sedianya akan menjadi salah seorang pembicara dalam acara ini, ternyata batal hadir. Dedi kemudian ikut menyumbang puisi dan juga dana bagi korban bencana

Penggalangan dana yang dilakukan panitia telah dimulai sejak beberapa waktu sebelum acara. Acara ini terselenggara atas kolaborasi Celah-Celah Langit (CCL) dengan berbagai ormas antara lain Ahlulbait Indonesia (ABI), Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Komite Solidaritas Palestina dan Yaman (KOSPY), KURBA, dan Bintul Huda. Selain itu, dalam acara juga diadakan penggalangan dana spontan.

Berdasarkan keterangan panitia, total sumbangan yang terkumpul adalah 56 juta rupiah, yang akan diserahkan kepada korban gempa di Palu, Donggala, dan Sigi. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*