kuliah umum abu jibril-2Bekasi, LiputanIslam.com—Suasana masjid terlihat sepi. Padahal, di pamflet yang disebarkan, acara ‘kuliah umum’ di masjid ini akan dimulai 8.30. Liputan Islam melangkahkan kaki ke dekat pintu masjid. Terlihat seseorang menjaga meja pendaftaran. Ada tumpukan makalah di meja itu. Namun ternyata, makalah itu tidak dibagikan gratis. Ada uang ganti fotokopi sebesar Rp10.000.

Di dalam masjid, baru ada beberapa orang yang hadir. Tak lama kemudian acara dimulai dan seiring waktu, pengunjung tambah banyak, namun tak lebih dari 100 orang. Ruang masjid yang luas tetap terasa sepi.

Kuliah Umum dengan judul “Mewaspadai Ancaman Ekspansi Ideologi Syi’ah Iran terhadap Eksistensi NKRI” ini diselenggarakan di masjid Muhammad Ramadhan, Taman Galaxi, Bekasi, Jawa Barat. Materi yang diulas sebagian besar diambil dari proposal penelitian disertasi pemateri dengan judul “Membangun Politik Hukum Sistem Ketahanan Nasional Terhadap Ancaman Ekspansi Ideologi Transnasional Syiah Iran”, Abdul Chair Ramadhan.

Beberapa waktu yang lalu, Liputan Islam di rubrik Tabayun pernah mengkritisi tulisan Abdul Chair Ramadhan di Arrahmah.com yang juga memberikan tesis serupa: bahwa Iran berencana ekspansi ideologi; sebagai bukti yang disodorkan oleh penulis adalah dirayakannya Peringatan Hari Kemerdekaan Iran di Jakarta. (Selengkapnya bisa dibaca di sini). Juga, Liputan Islam pernah mengkritisi rujukan pustaka yang dipakai sang kandidat doktor, yaitu buku karya pendukung Israel, Robert Dreyfuus (selengkapnya bisa dibaca di sini)

Abdul Chair: Imam Khomeini Bathil

kuliah umum abu jibrilModerator membuka acara dengan menginfokan kedatangan Menlu Iran ke Indonesia dan menyebut bahwa kunjungan itu tak lain dari agenda ekspansi pemerintah Iran dalam mendirikan Negara Syiah Indonesia. Sambil menyebut pemerintah Indonesia sebagai ‘pemerintahan thogut’, moderator menyampaikan berbagai tuduhan kepada Iran.

Abdul Chair Ramadhan, yang konon adalah kandidat doktor (dan memiliki tiga title di belakang namanya: SH, MH, MM) memulai presentasi yang rasanya jauh dari apa yang biasa disebut ‘kuliah umum’. Dia menampilkan foto rekayasa photoshop, gambar Imam Khomeini yang berlumuran darah dan terlihat ganas.

Umpatan ‘Syiah Kafir’ berulang-ulang disampaikan sang kandidat doktor ini. Dia mengklaim, “Saya siap dialog dengan logika, karena karena asumsi saya diatas, bahwa semua syiah yang berada di Indonesia itu adalah Syiah Rafidhah, yang semuanya mengarah ke Iran.”

Meskipun dalam Deklarasi Amman (yang ditandatangani 500 lebih ulama terkemuka sedunia) disebutkan “Barang siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali, dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), serta mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim, sang kandidat doktor mengklaim bahwa semua syiah adalah Rafidhah.

“Baik yang Iran, juga Indonesia seperti Istna Asyariah, Imamiah, Zaidiyah, Ja’fariyah, keseluruhan mereka yang syi’1ah adalah Rafidhah. Artinya mereka semua itu kafir!” katanya.

Sang kandidat doktor yang berencana meneliti Iran ini selanjutnya bagaikan kurang data, karena menyebut bahwa Konsep Wilayatul Faqih adalah bumbu ekspansi (Imam) Khomeini untuk mencapai Internasionalisasi Syiah. “Khomeini adalah manusia paling bathil karena doktrin Imamah yang diusung saat ini diubah menjadi istilah Wilayatul Faqih,” katanya.

Umumnya dalam penulisan disertasi, peneliti diwajibkan untuk membaca karya-karya disertasi sebelumnya, supaya datanya lebih akurat. Misalnya, dalam disertasi pakar Politik Islam, Muhammad Anis di UIN Syarif Hidayatullah disebutkan bahwa sistem Wilayatul Faqih adalah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh faqih atau ulama yang memahami agama Islam secara mendalam, termasuk di dalamnya hukum-hukum syariat. Di halaman 120 disertasi itu disebutkan:

“Fakih adalah orang yang mengetahui fungsi pengambilan keputusan hukum karena fakih adalah seseorang yang tidak hanya mempelajari hukum-hukum dan prosedur yuridis Islam, melainkan juga, akidah, pengaturan, dan akhlak. …Dengan demikian, seorang fakih yang adil menduduki posisi pembimbing dan pemimpin.”

Ketua Himpunan Pelajar Indonesia di Iran, Ali Shahab, dalam mengomentari tuduhan ekspansi Iran atau tuduhan akan dibentuknya Negara Syiah Indonesia, mengatakan,

Konsep dasar wilayatul faqih (WF) adalah sistem pemerintahan yang dipimpin ulama dengan kualifikasi faqahah (keilmuan yang mendalam di bidang agama), ‘adalah (integritas moral dan kenegarawanan), dan kafa’ah (kapabilitas kecakapan dalam mengelola pemerintahan). Proses penetapan ulama yang memerintah pun dilalui lewat sistem demokrasi. WF adalah demokrasi plus. Rakyat tetap sebagai pihak yang paling berdaulat, karena merekalah yang memilih lewat pemilu. Hanya saja, pilihannya dibatasi pada mereka yang betul-betul teruji memiliki tiga kualifikasi di atas.

Perlu diketahui juga, pemerintahan Wilayatul Faqih Iran berdiri lewat referendum yang sangat transparan di bawah pengawasan ketat PBB dan unsur-unsur internasional. Dalam referendum di Iran tahun 1979, 98,2% rakyat setuju dibentuknya  Republik Islam Iran.

Kalaulah ada orang yang ingin mendirikan sistem WF di Indonesia, kan artinya musti lewat demokrasi juga? Ketika mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut Ahlussunnah, tentu rasanya tidak mungkin disetujui.

Ali menambahkan, “Tidak ada bukti dan data sedikitpun yang menunjukkan adanya  keinginan mendirikan Negara Syiah oleh alumnus Iran atau kaum Syiah Indonesia. Jadi,  Ini adalah isu murahan yang sama sekali tidak ada nilai validitasnya.”

Abu Jibril: Syiah Kafir Lebih Jahat dari Yahudi (?)

abujibrilPembicara kedua sekaligus penutup kuliah umum ini adalah Abu Jibril. Dia memulai paparannya dengan muqoddimah yang sangat bagus yaitu “Alhamdulillahi Wahdah wa shodaqo Wa’dah…..” namun kalimat-kalimat berikutnya malah penuh hujatan kebencian (hate speech). Selain menyampaikan berbagai tuduhan tentang Syiah dan menyebut bahwa misi besar Syiah Indonesia adalah kudeta terhadap NKRI, Abu Jibril menyampaikan pernyataan “menarik”: Syiah lebih berbahaya dari Yahudi. Ini senada dengan tulisan seorang wartawan terkenal di Republika, Ikhwanul Kiram, yang mengatakan “Apakah Musuh itu Hanya Zionis Israel”? Yang disasar oleh wartawan itu adalah agar umat Islam beramai-ramai memerangi rezim Assad di Suriah yang dituduhnya Syiah.

Karena Abu Jibril juga berada dalam barisan yang sama dengan para penyeru Jihad ke Suriah, pernyataan Abu Jibril ini bisa disimpulkan sebagai bagian dari propaganda perang Sunni-Syiah yang merebak sejak meletusnya konflik di Suriah. Jika ditanya, mengapa mereka gencar jihad ke Suriah, tapi tak pernah kirim pasukan jihad ke Israel, mereka ini biasa melempar argument: “Kita tidak akan bisa membebaskan Palestina selama pemerintahan Syiah Rafidhah di Iran masih ada.”

Fanpage Berita Harian Suriah pernah menjawab argumen mereka ini,

Pertama, mengapa tidak  menyerang Suriah dari dulu? Palestina sudah  terjajah 60 tahun lebih  lamanya. Mengapa harus menunggu Bashar Asad membantai rakyatnya yang sunni dulu (sebagaimana klaim mereka) untuk jadi alasan menyerang Suriah?

Hari Nakba, umumnya diperingati pada tanggal 15 Mei, yang merupakan hari bencana bagi bangsa Arab Palestina, sehari setelah bangsa Yahudi mendeklarasikan negara illegal  Israel. Terhitung dari Nakba 1948, dan awal munculnya konflik Suriah pada tahun 2011, rentang waktu keduanya adalah 63 tahun. Jika benar harus menguasai Suriah dulu untuk membebaskan Palestina, maka kemana saja para mujahidin ini selama 63 tahun? Apakah baru terjaga dari tidur yang panjang?

Kedua, apa Suriah selama  ini menunjukkan keberpihakan pada Israel? Justru sebaliknya, Suriah berkali-kali berperang dengan Israel. Tercatat oleh sejarah, dalam perang Arab-Israel, Suriah tidak pernah absen.

1.Perang Arab-Israel 1948, atau disebut juga sebagai “Perang Kemerdekaan adalah konflik bersenjata pertama dari serangkaian konflik yang terjadi antara Israel dan tetangga-tetangga Arabnya dalam konflik Arab-Israel. Israel diproklamasikan pada tanggal 14 Mei 1948 dan sehari kemudian langsung diserbu oleh tentara dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnya.

2. Perang Enam Hari juga dikenali sebagai Perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan antara Israel menghadapi gabungan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dan ketiganya juga mendapatkan bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang tersebut berlangsung selama 132 jam 30 menit (kurang dari enam hari), hanya di front Suriah saja perang berlangsung enam hari penuh.

3. Perang Yom Kippur, dikenal juga dengan nama Perang Ramadan atau Perang Oktober adalah perang yang terjadi pada tanggal 6 – 26 Oktober 1973 antara negara Israel yang dikeroyok oleh koalisi negara-negara arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah

kuliah umum abu jibril-4Ada sedikit kelucuan dalam presentasi Abu Jibril. Dia berusaha menyebutkan nama-nama putra-putri Rasul tapi tidak hafal, malah mencolek sang moderator di sampingnya untuk meneruskan urutan nama-namanya itu. Bahkan saat menyebutkan nama mereka pun, Abu tidak menunjukkan adanya ikhtirom (penghormatan) dalam menyebutkan nama-nama istri-istri dan putra-putri Nabi tanpa dengan sebutan Sayyidina atau Sayyidah, langsung namanya saja.

Acara ditutup dengan tanya-jawab, tapi hanya satu penanya, yang menanyakan “Bagaimana sikap ormas-ormas Islam di Indonesia mengenai Syiah?” Abu menjawab dengan cara menuduh Ketua MUI tak paham Islam. Sungguh senada dengan perkataan salah satu media takfiri yang menuduh Din Syamsudin kekasih Yahudi.(ah/dw/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL