ayah ediSaat ini sedang beredar ramai di sosial media foto anak perempuan yang payudaranya sedang di pengang-pegang oleh anak laki-laki sebayanya yang kira-kira usianya baru SD.

Bagi anda yang masih tertarik untuk melihat testimoni seperti apa gambar PORNOGRAFI ANAK USIA DINI yang beredar di media bisa klik di sini.

Foto ini mungkin saja hanya salah satu dari puluhan atau ratusan foto lainnya yang tidak sempat diketahui, atau belum sempat tersiar di media sosial.

Ketika ditanya fenomena apakah ini ?
Jawaban saya adalah sederhana saja “Darurat Pendidikan Seks Usia Dini”
atau seandainya ingin lebih di perkuat adalah PENGHANCURAN GENERASI BANGSA MELALUI SEKS BEBAS SEJAK USIA DINI.

Mengapa menggunakan metodologi Seks Bebas ?

Karena seks itu adalah perkara perdata yang hanya bisa diproses secara hukum apa bila ada pengaduan dari korban, berbeda dengan penghancuran GENERASI BANGSA melalui Narkoba, yang langsung masuk kasus PIDANA tanpa perlu ada pengaduan dari korban. Jadi kasus seks bebas sangat sulit sekali di proses secara hukum.

Jadi jauh lebih efektif dan mudah serta murah, cepat dan masif efeknya…

Mengapa ? karena anak-anak yang sudah terpapar dan ketagihan seks bebas di usia dini, akan bisa di pastikan masa depannya tidak jelas dan bahkan sebagian besar cita-citanya hancur ditengah jalan. apa lagi jika terlanjur hamil di usia yang masih amas sangat dini.

Lantas apa yang jadi penyebab ini terjadi ?

Selama 14 tahun saya mengamati fenomena sosial ini; penyebabnya sederhana.

Anak itu adalah mahluk PENIRU YANG ULUNG

Seorang anak tidak pernah akan melakukan tindak apapun tanpa ada CONTOH YANG DILIHATNYA.

Jadi mari kita telusuri satu persatu siapa dan apa saja yang telah di contoh oleh anak tersebut;

1. Kemungkinan terbesar datang dari kedua orang tuanya, beberapa laporan menunjukkan banyak orang tua yang suka menyaksikan film2 porno dirumah dan ketika mereka pergi anaknya gantian yang menyaksikannya, atau bahkan saat ini amat sangat banyak orang tua yang menggandrungi dangdut Koplo (Dandut kental nuansa seks dan pornografi dengan joget yang seronok), Kebanyakan orang tua memutar video tersebut dirumah disaksikan bersama oleh anak-anaknya.

Sy pernah bertemu seorang anak balita di salah satu MART yang ada di Pantai Kuta Bali, dia bernyanyi lagu dangdut koplo sambil bergoyang-goyang ngebor. Sy kaget luar biasa anak usia 4 tahun sudah luwes sekali melakukan ini, banyak orang yang menganggap ini sebuah kelucuan, tapi saya lebih suka menyebutnya ini sebuah kehancuran generasi bangsa.

Sy coba dekati anak ini saya tanyai dari mana dia tahu ini dan belajar. Jawabnya singkat dari ibu tiap hari puter ini dirumah.

2. Masih dari rumah, berdasarkan laporan masih banyak orang tua yang tidak perduli akan perilaku anaknya, atau kemungkinan peduli tapi tidak tahu bagaimana mendidik anaknya secara tepat, hingga akhirnya lebih banyak terbangun konflik antara anak dan orang tua dan anaknya tidak bisa di kendalikan lagi dan lebih suka mengikuti trend pergaulan. Masih banyak orang tua yang enggan belajar memperbaiki diri dan pola asuhnya dengan berbagai macam dalih dan alasan.

3. Sekolah; Ya SEKOLAH ! saya ingat ketika Kak Seto menarik seluruh anaknya yang bersekolah, lalu menghomschoolingkannya; alasannya sederhana; apa bila sekolah tidak lagi peduli pada berbagai perilaku dan akhlak muridnya maka sekolah justru hanya akan menjadi pusat penyebaran penyakit sosial.

Dan Kak Seto Benar!

Masih ingatkah kita zaman sekolah dulu ? dari mana pertama kali kita membaca cerita pornografi dalam bentuk Stensilan, darimana pertama kali kita melihat gambar porno di majalah, menyaksikan blue film ? Pertama kali merokok, sampai ngelinting, kapan kita pernah ikut tawuran ? Ketika ini saya tanyakan pada orang tua yang mengikuti di setiap seminar saya; jawabanya selalu sama; dari TEMAN-TEMAN DI SEKOLAH.

Dan tentu saja jika sistem sekolah tidak segera di ubah menjadi lebih peduli AKHLAK KETIMBANG ANGKA RAPORT pasti hasilnya akan sama atau bahkan malah lebih parah lagi. Itulah mengapa saat ini saya memilihkan HOME SCHOOLING sebagai jalur pendidikan yang sehat bagi kedua anak-anak kami dirumah.

Dan sungguh selama 6 tahun anak-anak kami sehat secara fisik dan mental. Dan menjadi anak-anak yang berperilaku sangat baik pada orang tua dan siapapun.

4. Gadget salah sasaran
Seperti juga obat yang memiliki dosis pakai, gadget itu dibuat untuk tujuan yang berbeda-beda dengan berbagai kemampuan berbeda berdasarkan tujuan penggunanya dan berdasarkan tipe dan jenisnya masing-masing. Ada gadget yang di rancang untuk para desainer yang dilengkapi dengan berbagai fitur cerdas kirim gambar dan film, tapi ada gadget sederhana yang diperuntukkan anak-anak dan pelajar dengan tujuan hanya untuk kirim SMS dan telpon.

Namun kita sering tidak tahu tentang hal ini dan membelikan GADGET SUPER CANGGIH untuk kebutuhan yang sangat dasar yakni komunikasi suara dan sms. Hingga akhirnya terjadilah penyalahgunaan besar-besaran dari GADGET2 yang super canggih tersebut, menjadi ajang saling berkirim gambar-gambar/film porno atau untuk mengakses situs-situs Porno. Waspadalah dan pahamilah !!

5. Media Televisi dan tontonan lainnya.
Saya selalu mengatakan bahwa MEDIA ITU NETRAL tapi kontennyalah yang tidak netral bisa negatif atau positif.

Tapi cobalah perhatikan siaran TV lokal kita pada umumnya apa saja yang disiarkan mulai dari jam 5 pagi hingga jam 10 malam.

Hayo coba catat pagi sekali apa yang di siarkan ? Berita kriminal ? lalu lanjut berita Gosip Selebriti ? lanjut lagi ? sinetron yang penuh dengan kekerasan, pacaran, perselingkuhan, balas dendam dsb. sisanya silahkan anda lanjutkan sendiri….

Dan yang menariknya adalah masih banyak orang tua yang sengaja membelikan TV untuk anaknya agar anaknya bisa duduk tenang di depan tv berjam-jam. Atau bahkan justru orang tuanya sendiri yang ketagihan siaran-siaran yang justru merusak diri dana anknya. Banyak orang tua merusak mental anak tanpa disadarinya.

Lalu ada yang berkata kitakan bisa memilih tayangan ?

Setuju, dan dulu kamipun memberikan tontonan dengan pilihan tayangan, hasilnya anak-anak kami jadi pasif, mati kreatifitas, hanya duduk bengong saja menunggu acara favoritnya. Maka jadilah generasi BENGONG. Dan belum lagi iklan-iklan yang tidak mendidik yang menyusup masuk dalam tayangan2 anak. Coba perhatikan saja. Isi iklan dan cara menyajikan iklan yang sering disusupi unsur2 pacaran atau suka-sukaan anak usia dini.

Dan ketika kami hentikan semua tayangan tv, lalu kami ganti dengan DVD Edukasi semiasal Barneys, Magic School Bus, Pesona Edu Game, dan sejenisnya. Anak-anak kami menjadi seperti fitrahnya; aktif kreatif tak pernah kehabisan akal untuk membuat berbagai aktivitas selama seharian penuh. Dan tidak lagi menjadi anak yang BENGONG terus di depan tv.

Saya bersyukur telah menjadi orang tua yang selalu peka terhadap fenomena sosial dan selalu belajar dan belajar terus. Hingga alhamdullilah ketika berita-berita negatif di luar datang silih berganti, kami dan terutama anak-anak kami masih terhindar dari semua hal-hal negatif tersebut.

Ketika saya ditanya; Jadi apa yang harusnya kita lakukan menghadapi fenomena DARURAT SEKS ANAK USIA DINI INI ?

Jawaban saya singkat saja; “Mari kita mulai dari keluarga kita sendiri.”
Tidak usahlah berharap pada orang lain, pihak lain nanti kita akan kecewa dan kecewa lagi.

Mari kita mulai perbaiki diri kita sendiri selaku orang tua, belajar untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik dalam mendidik anak. Karena kita adalah CONTOH UTAMA MEREKA, kalau kita BENAR INSYAALLAH ANAK-ANAK KITA AKAN BENAR.

Tidak perlu pusing-pusing memikirkan anak orang lain, selamatkanlah anak kita terlebih dahulu, nanti jika kita sudah berhasil membuat anak kita baik insyaAllah kita akan menjadi contoh bagi para kerabat kita, sahabat kita, tetangga kita dan lebih banyak orang lainnya.

Saya selalu ingat pesan Tuhan, agar kita tidak terlalu muluk-muluk berpikir menyelamatkan dunia, melainkan SELAMATKANLAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA.

Sangat sederhana, masuk akal, mudah, murah dan sangat pas sekali dengan semboyan gerakan kami MARI KITA BANGUN INDONESIA YANG KUAT DARI KELUARGA

Let’s Make Indonesian Strong from Home !!

Kalau bukan kita siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang kapan lagi ?

(sumber: FP Komunitas Ayah Edi)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL