Jakarta, LiputanIslam.com–Apakah Anda merasakan belakangan ini media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram bahkan grup-grup yang Anda ikuti di WhatsApp dipenuhi oleh berbagai macam kehebohan yang membuat tidak nyaman? Jika memang Anda merasakan hal ini, maka Anda harus waspada atas gangguan jiwa karena media sosial.

Belakangan ini banyak masalah yang dialami orang-orang terkait oleh berita tidak nyaman yang mereka baca di media sosial.

Beberapa di antaranya sangat begitu terpengaruh oleh arus informasi yang sering membingungkan dan simpang siur tentang apa yang didapat dari media sosial. Beberapa contoh kasus ada di bawah ini.

 

Psikotik akibat medsos

Ada seorang pasien dr Andri, SpKJ, FAPM yang berusia 40-an. Pasien ini dibawa oleh keluarganya karena belakangan ini tampak kebingungan dan mulai berbicara kacau tentang situasi yang dia bayangkan akan terjadi. Kondisi ini terpicu oleh berita yang dilihat pasien berkaitan dengan demo-demo besar belakangan ini.

Arus informasi yang dia dapat dari media sosial memperparah apa yang dia dapat sebelumnya dari berita di televisi. Simpang siur pendapat di media sosial ditambah berita tidak benar (hoax) yang dia baca membuat dia semakin kebingungan.

Sampai suatu ketika dia mengatakan kepada keluarga suatu teori tentang penyelamatan negara di mana dia yang akan memimpin usaha penyelamatan tersebut. Dia meyakini hanya dia yang mampu melakukan hal tersebut dan sangat yakin akan usaha-usahanya.

Latar belakang sebagai pedagang kelontong biasa membuat orang yang mendengar ceritanya menjadi khawatir pasien sudah mengalami masalah kejiwaan. Saat diperiksa pasien diketahui mengalami masalah delusi/waham kebesaran.

Saat wawancara pasien secara menggebu-gebu mengatakan bahwa dirinya yang bisa menyelamatkan negara dari kehancuran akibat perang saudara. Diagnosis mengarah ke suatu kondisi psikotik akut yang semoga tidak menjadi skizofrenia paranoid ke depannya (pasien baru mengalami hal ini selama kurang dari sebulan).

 

Gangguan stres pasca trauma yang muncul kembali

Pasien lain adalah perempuan usia paruh baya. Ia  datang dengan ketakutan yang luar biasa. Berita dari media sosial yang dia baca berkaitan dengan gejolak demo belakangan ini dan berta hoax yang dia baca tentang etnis Tionghoa membuat bayangan traumatik di masa tahun 1998 kembali teringat.

Pasien mengatakan saat 1998 dia di jalan hampir mengalami dampak dari keberingasan massa. Saat itu setelah peristiwa 1998 dia menjalani perawatan psikiatrik karena masalah yang terkait dengan traumatik yang dia alami.

Ketidakstabilan situasi saat ini dan banyaknya berita-berita yang simpang siur dan hoax berkaitan dengan kondisi sekarang seperti menjadi pemicu buat dirinya. Di satu pihak dia tidak mau untuk membaca hal tersebut, namun di lain pihak dia merasa susah menghindari informasi tersebut yang sangat masif dan berlebihan di media sosial bahkan group WhatssApp keluarga yang dia ikuti.

Gejala-gejala kecemasan yang menyerupai kepanikan timbul kembali dan sering datang.

 

Bijak memakai media sosial

Arus informasi saat ini sangat berlebihan dan kadang kita sendiri tidak mampu untuk mengatasi derasnya arus informasi tersebut. Begitu banyaknya informasi membuat kita sulit memilah mana yang benar mana yang salah. Mana yang benar terjadi mana yang merupakan informasi bikinan yang memang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu.

Sayangnya semua orang seolah merasa ingin untuk ikutan menyebarkan berita dan informasi yang belum tentu benar tersebut. Kadang mungkin hanya karena ingin dikatakan update berita.

Tidak heran juga kita mulai melihat adanya konflik-konflik di kolom komentar Facebook dan mention Twitter. Bahkan di WhatssApp group yang kita miliki saja banyak yang akhirnya ribut karena saling bersilang pendapat tentang topik yang diposting.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk bisa lebih bijak menggunakan media sosial

  1. Gunakan media sosial untuk menjalin persahabatan, memberikan berita yang positif dan menjalin silahturahim dengan sesama.
  2. Jika mendapatkan broadcast berita jangan terlalu mudah percaya dan langsung meneruskan, cek dulu atau cukupkan broadcast itu berhenti sampai anda saja. Jangan merasa tidak update atau ketinggalan berita dengan tidak meneruskan berita tersebut. Kadang tidak semua informasi harus disebarkan bukan?
  3. Beberapa berita yang mengandung unsur SARA dan sekiranya bisa menimbulkan konflik pertentangan antara sesama teman atau saudara lebih baik disaring terlebih dahulu. Bijaklah dalam menyebarkan berita seperti ini karena mungkin tidak semua orang punya pikiran yang sama dengan kita.
  4. Jika bermedia sosial di Facebook dan Twitter mungkin tidak selalu harus memberikan komentar. Jaga diri kita untuk lebih bijak dalam memberikan komentar dan menjaga jari kita meneruskan berita yang sepertinya malah bisa menimbulkan konflik di kemudian hari.
  5. Salah satu definisi Sehat Jiwa adalah kemampuan kita untuk berpikir positif tentang diri kita dan orang lain. Biasakanlah berpikir demikian maka kita akan bisa menjadi lebih baik dalam hidup ini. (ra/kompas)
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL