Ternyata-Anak-anak-Tetap-Lebih-Suka-Bermain-di-Mesin-Game-Daripada-TabletLiputanIslam.com — Kita sering melihat pemandangan ini: anak kecil anteng duduk memainkan iPad atau tablet, atau smartphone ibunya. Si ibu mungkin merasa tenang melihat anaknya anteng, atau bahkan bangga, “Anakku sudah pinter menggunakan iPad!” Tapi waspada, anak yang kecanduan main iPad ternyata berkorelasi dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktivitas berlebihan, dan suka membuat keributan.

Para pakar menemukan satu hal penting: anak-anak dan orang dewasa yang terlalu banyak menonton TV dan main games, hampir dua kali lipat menderita ADHD.

“Saat ini, ADHD 10 kali lebih marak daripada 20 tahun yang lalu. Pada dasarnya, ADHD merupakan pembawaan genetik. Sehingga, seharusnya gen tersebut tidak meningkat secara signifikan dalam rentang waktu yang  yang hanya dua dekade. Artinya, ada kemungkinan faktor-faktor lain yang mempengaruhi lonjakan ini,“ jelas Dimitri Christakis, profesor dari University of Washington. Dengan kata lain, disamping ada faktor genetik, gadget juga memiliki dampak atas lonjakan penderita ADHD.

“Menurut Kaiser Family Foundation, saat ini anak-anak menghabiskan hampir tujuh setengah jam setiap hari untuk menatap benda-benda yang kecil, naik 20 persen dari lima tahun lalu. Sehingga para ahli percaya bahwa kenaikan diagnosis ADHD bertepatan dengan meroketnya penggunaan perangkat mobile,” demikian laporan dari New York Times.

Hubungan antara ADHD Dan iPad (dan sejenisnya) bukanlah sebab-akibat, tapi  saling berkaitan. Untuk memahaminya hubungan antara keduanya, mari kita kuti penjelasan bagaimana gadget mempengaruhi perkembangan otak anak-anak:

Josh memainkan game  Minecraft. Kepalanya menunduk, perhatiannya tercurah pada game. Matanya terpaku pada layar.  Dia terlihat seperti anak lainnya yang seumuran, tetapi karena dia bermain dengan menggunakan  tablet, pikirannya memproses informasi dengan cara yang jauh berbeda dari anak-anak lainnya.

Jika kita bisa memindai otaknya, kita akan melihat bahwa pikirannya bekerja lebih keras untuk menyerap rentetan sensasi, dan akan terlihat bahwa peningkatan aktivitas saraf membuatnya lebih sulit baginya untuk fokus pada satu tugas. Dan kebiasaannya untuk berkonsentrasi hanya pada satu titik, tanpa menghiraukan yang lainnya, adalah tanda-tanda anak hiperaktif.

Mungkin, ada yang menilai bahwa terpaku pada iPad merupakan latihan berkonsentrasi, namun Christopher Lucas, profesor psikiatri  anak dari New York University School of Medicine, menyatakan bahwa konsentrasi Josh terhadap video game ataupun televisi, tidaklah sama dengan konsentrasi yang ia butuhkan untuk berkembang di sekolah dan kehidupannya.

Ketika anak memainkan sebuah game, mereka mendapatkan poin dan bergerak menuju tingkat permainan yang lebih tinggi. Dan otak mereka, mendapatkan imbalan, yaitu dopamin( neurokimia yang dihasilkan setiap kali merasakan kemenangan). Akhirnya mereka mencintai produk elektronik dan beberapa ahli percaya bahwa mereka menggunakan gadget lantaran memiliki masalah dengan sistem alami dopaminnya.

Dan pengobatan untuk masalah tersebut,  seperti menggunakan  ritalin, adalah proses mengendalikan ADHD dengan meningkatkan aktivitas dopamin. Nah, ketika Josh memainkan Minecraft,  ia seolah-olah mengobati dirinya sendiri dengan memberikan ekstra kenikmatan yang tidak bisa dihasilkan secara alami oleh otaknya.

Itulah penyebab sulitnya  memisahkan Josh dari penggunaan iPad-nya yang berlebihan. Dan keadaan lebih buruk saat anak-anak pengidap ADHD, diejek dan dikucilkan, yang mau-tak mau, akan menjerumuskan mereka kembali kepada gadget. Akhirnya, mereka pun memiliki ketergantungan emosional terhadap “sahabat elektroniknya” yang secara konsisten memberikan mereka dopamin.

Ketika Josh benar-benar difokuskan pada iPad, ia terus menerus melakukan kontak mata dengan layar. Dan tanpa gadget, atau komputer, atau game portabel-nya, ia merasa “kecil”. Ia jauh lebih mudah menemukan pelipur lara di depan layar. Sahabat-sahabat elektroniknya tidak pernah menghindar, dan memberikan kesempatan bagi Josh untuk menjadi orang yang berbeda (pemenang, hebat –red).

“Bukan hanya itu, anak-anak pencinta gadget pun punya kecenderungan untuk melebih-lebihkan sosoknya di hadapan teman-teman virtual online-nya. Mereka menampilkan dirinya melampaui realitas, dan menganggap sahabat mayanya jauh lebih baik daripada orang-orang disekitarnya,” jelas Russell Barkley, seorang profesor klinis psikiatri dan pediatri di Medical University of South Carolina.

Jadi, berhati-hatilah Ayah-Bunda. Jangan biarkan anak Anda bergaul terlalu banyak dengan iPad dan sejenisnya. Beri batasan waktu, misalnya, hanya sepekan sekali, dengan durasi 1 jam. (dw/ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL