kantorJakarta, LiputanIslam.com—Bekerja di belakang meja memang tampak aman. Para pekerja terlindung dari panas dan hujan, tidak ada suara bising kendaraan, polusi, atau alat-alat berat.

Meski begitu, keamanan fisik dan kondisi kesehatan ternyata tidak sama. Duduk bekerja di belakang meja diam-diam menggerogoti kesehatan kita.
Nyeri sindrom karpal
Walau namanya asing, tetapi sebenarnya ini adalah penyakit yang diderita orang modern, terutama yang pekerjaannya banyak menggunakan tangan. Gejalanya adalah baal, nyeri pada tangan, dan kelemahan.

Pemicunya adalah postur tubuh yang salah saat bekerja dan penggunaan papan ketik yang menekan saraf. Kondisi ini lama kelamaan menimbulkan peradangan.

Nyeri leher
Tanpa sadar mungkin kita sering mencondongkan badan ke arah layar komputer saat bekerja, atau menjepit telepon di antara bahu dan telinga. Kebiasaan buruk lainnya adalah berlama-lama menunduk menatap gawai.
Kebiasaan itu lama kelamaan akan menyebabkan otot leher menjadi tegang dan ketidakseimbangan permanen di tulang leher, sehingga menyebabkan rasa nyeri dan pegal.

Pembekuan darah
Duduk diam dalam periode yang lama, misalnya bekerja di kantor atau dalam penerbangan jarak jauh, bisa memicu pembekuan darah di bagian vena kaki. Terkadang, bekuan darah itu terlepas dan terbawa aliran darah sampai ke bagian paru dan menyebabkan embolisme paru yang mengancam nyawa.

“Jika Anda duduk selama 90 menit atau lebih di belakang meja, aliran darah di belakang lutut akan turun sampai 50 persen. Ini dapat memicu pembekuan darah,” kata Beverly Hunt, konsultan ahli darah dari London.

Punggung merana
Duduk lama juga bisa membuat berbagai bagian tulang belakang menjadi tegang. Diskus di antara tulang punggung bisa melebar dan berkontraksi seperti spons yang akan menyerap darah. Namun, jika bagian tubuh ini lama tidak digerakkan akibat duduk diam berjam-jam, bagian-bagian di sekitarnya menjadi kaku. Tak heran jika nyeri punggung adalah keluhan utama akibat duduk lama.

Tulang lemah
Kurang aktivitas fisik karena kita sehari-hari jarang bergerak bisa membuat tulang lemah dan memicu kerapuhan tulang (osteoporosis). Masalahnya, penyakit tulang pada umumnya sulit terdeteksi, sehingga penderitanya tidak menyadarinya sampai timbul gejala. Hal-hal sederhana seperti sering berjalan kaki, naik tangga, atau berdansa, bisa menguatkan tulang.

Kurang bugar
Para ahli sepakat bahwa duduk lama merupakan “merokok baru” karena dampaknya yang sama merusak kesehatan. Bukan hanya tubuh menjadi kurang bugar, duduk diam dalam waktu lama memicu obesitas dan gangguan metabolik seperti kadar gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan hipertensi.

“Aktivitas yang menggunakan otot, seperti berdiri, berjalan, dan gerakan lainnya, memicu proses penting yang terkait dengan pemecahan lemak dan gula dalam tubuh. Saat kita justru duduk lama, proses itu berhenti dan risiko kesehatan meningkat,” tulis para ahli dari Mayo Clinic. (ra/kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL