foto: mebk12.meb.gov.tr

foto: mebk12.meb.gov.tr

LiputanIslam.com — Orangtua mana yang tidak senang melihat bayi mungilnya begitu cantik dan menggemaskan, kemudian tumbuh besar, mulai bersekolah dan menjadi juara kelas, memenangkan berbagai lomba, dan meraih segudang presasi? Atau bila anak memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan termasuk anak yang spesial? Anak memang merupakan kebanggaan orangtua, bahkan melebihi diri sendiri. Membicarakan tentang anak menjadi lebih menyenangkan dari pada membicarakan diri sendiri. Apalagi di era sosial media ini, kita bisa berbagi cerita dengan banyak orang dalam waktu singkat. Eits, tapi hati-hati, membicarakan anak di sosial media juga harus mengingat etika, seperti layaknya orang dewasa anak juga punya privasi yang harus dihormati.

Orangtua semestinya memang orang yang paling mengetahui berbagai hal tentang anaknya. Bahkan mungkin orangtua lebih mengerti dari anak itu sendiri karena sifat polosnya yang belum dapat memahami segala sesuatu secara utuh. Meskipun begitu, bukan berarti orangtua berhak melakukan apapun atau membicarakan apapun tentang anak pada orang lain, apalagi di depan umum.

Seperti yang telah kita ketahui, sosial media (sosmed) adalah wadah untuk berbagi, oleh setiap orang, untuk setiap orang. Apa yang dibagi melalui sosmed dapat dibaca oleh banyak orang, bahkan yang tidak kita kenal. Akibatnya dapat menjadi positif, namun bisa juga negatif. Bayangkan saja bila berbagai sisi kehidupan kita dapat diketahui oleh banyak orang, termasuk orang yang tidak kita kenal. Mungkin saja diantara orang-orang itu ada juga yang bermaksud buruk dengan memanfaatkan informasi yang kita bagi. Alasan itulah yang melatarbelakangi kebijakan privasi yang dibangun setiap penyedia layanan sosmed. Ada keleluasaan pribadi atau privasi yang tidak dapat dibagi dengan semua orang. Informasi tentang diri pribadi yang diumumkan terlalu terbuka di sosmed dapat mengundang bahaya. Bukan hanya untuk orang dewasa, namun lebih berbahaya lagi bagi anak-anak yang belum dapat melindungi diri sendiri. Apa saja bahaya yang dapat mengancam anak di sosmed?

Bahaya Fisik di Dunia Maya

Foto bayi kecil dan mungil memang menggemaskan. Melihatnya dapat membuat banyak orang merasa gemas. Tak heran kalau banyak orangtua yang mengambil gambar anaknya dan membagikannya di media sosial sebagai pembawa kabar untuk sanak kerabat. Hanya saja terkadang orangtua sering kurang berhati-hati dan menjadi berlebihan, karena menganggap bayi masih kecil, belum memiliki rasa malu, dan belum dapat menimbulkan hasrat seksual. Maka foto bayi telanjang pun diunggah di sosmed.

Melihat foto bayi kecil itu memang pada umumya rasa gemas lah yang muncul, namun orangtua juga harus ingat bahwa ada sebagian orang yang memiliki kecenderungan tidak wajar. Orientasi seksual pada anak di bawah umur atau pedofilia adalah bahaya yang mengancam anak-anak. Tindakan pelecehan seksual itu tidak hanya dapat terjadi di dunia nyata. Foto anak di bawah umur kerap dijadikan koleksi dan digunakan secara tidak wajar oleh para pelakunya. Mungkin dampaknya tidak terasa secara langsung, namun orangtua mana yang rela anaknya dijadikan korban perilaku menyimpang?

Bahaya lain yang mungkin terjadi adalah melalui status yang menginformasikan kondisi anak, lokasi, dan rutinitas dalam keseharian. Informasi seperti ini dapat mengundang perbuatan kriminal yang dilakukan secara langsung atau dalam dunia nyata, seperti penculikan.

Bahaya eksploitasi anak

Kemampuan anak yang menonjol dari rata-rata atau prestasi yang diperoleh memang membuat orang tua bangga. Kebanggaan ini kerap kali mengundang orangtua untuk menceritakannya pada orang lain. Sekilas memang tidak ada salahnya menceritakan prestasi yang diperoleh anak, tapi kalau sampai berlebihan bisa saja perilaku ini mengundang bahaya yang tak terduga. Apa yang dibagi melalui sosmed dapat dikonsumsi oleh banyak orang, dan kita tidak dapat mengetahui satu per satu diantaranya, termasuk bila ada yang bermaksud buruk atau dapat menimbulkan hal yang buruk. Kemampuan menonjol dari anak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri tanpa memikirkan dampak yang terjadi pada anak.

Contoh kasus yang paling jelas dapat kita temukan pada berita yang sempat menghebohkan beberapa tahun lalu, ketika ada seorang anak yang tiba-tiba mendapat kemampuan mengobati orang lain hanya dengan batu dan air. Banyak orang berbondong-bondong mendatangi dan meminta pertolongan pada si anak. Akibat untuk orang yang tertolong mungkin baik, tapi saking banyaknya yang harus dilakukan, anak di bawah umur ini kelelahan, kehilangan waktu bermain dan kegiatan lain yang seharusnya dilakukan dalam keseharian. Bahkan kini ketika berita tentang anak ajaib ini telah dilupakan orang, mungkin tak banyak yang mengetahui bahwa kejadian tersebut masih menyisakan dampak yang tidak baik baginya. Keadaan anak-anak kita mungkin tidak seekstrim kisah anak ajaib, tapi lebih berhati-hati tampaknya tidak ada salahnya. Tidak ada orangtua yang senang melihat anaknya tidak dapat menikmati hidup, bukan?

Kemungkinan Bahaya Bullying

Bulliying yang merupakan gangguan atau ancaman kekerasan baik secara fisik maupun mental dapat terjadi di mana saja, termasuk di sosial media. Sebabnya mungkin saja dari hal kecil yang tidak disangka-sangka. Sekedar menceritakan tentang apa yang dilakukan, apa yang dipikirkan, atau mengungkapkan emosi di sosial media bisa saja mengundang tidakan bullying. Berbagai tanggapan yang tidak diperkirakan bisa saja timbul dari banyak orang yang membacanya. Diantaranya mungkin saja ada tanggapan yang tidak menyenangkan, hingga yang mengintimidasi.

Terkadang orangtua membagi apa yang dialami anak melalui sosial media. Entah pengalaman yang bernilai positif atau negatif. Mungkin orangtua lupa bahwa anak bisa saja merasa tidak nyaman bila terlalu banyak hal yang diketahui orang lain tentang dirinya, apalagi bila mendapat tanggapan yang bersifat bulliying dari orang lain. Mungkin ada diantara cerita yang dibagi membuat anak merasa malu. Akibatnya anak menjadi tidak percaya diri, bahkan pada kasus yang terlalu berat dapat menimbulkan depresi.

Ternyata menceritakan berbagai hal tentang anak dapat menimbulkan bahaya fisik maupun psikis yang sebelumnya tidak disangka. Meskipun begitu bukan berarti orangtua harus bersikap antipati, karena tidak dapat dipungkiri ada alasan tertentu yang membuat orangtua membagi hal tersebut melalui sosial media. Lalu apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir dampak negatifnya?

  1. Saat mengupdate status, gunakan pilihan pengaturan privasi agar dapat membatasi siapa yang dapat membaca status di sosial media.
  2. Gunakan fasilitas email atau privat message untuk membagi foto atau menceritakan hal privasi lainnya bila hanya ingin disampaikan pada salah satu kerabat atau saudara.
  3. Jangan pernah menggunakan layanan yang menginformasikan lokasi terkini secara detail, terutama pada anak bila sedang tidak bersama orangtua atau di lokasi yang berpotensi besar terpisah dari orangtua.
  4. Jangan pernah membagikan foto anak dalam kondisi telanjang atau tidak berpakaian lengkap kepada umum.
  5. Hindari menceritakan hal yang terlalu pribadi tentang anak, pertimabangkan bila kelak anak membaca apa yang kita bagi, apakah akan menimbulkan rasa malu atau rendah diri padanya.
  6. Hindari menceritakan kelebihan atau kekurangan anak yang terlalu menonjol dari kebanyakan.
  7. Selalu cek informasi tentang orang yang mengajukan permintaan pertemanan / friend request untuk menghindari kejahatan yang memanfaatkan informasi dari dunia maya.

Menjadi orangtua bukan berarti bebas membagikan segala hal tentang anak pada khalayak umum. Meskipun belum mengerti apa-apa, anak juga memiliki privasi yang patut dihormati dan dijaga. Justru karena anak belum mampu, maka orangtua lah yang wajib melindungi privasi anak. Orangtua harus berhati-hati saat berbagi informasi tentang anak di dunia maya. Bahaya dapat mengintai berupa kekerasan fisik maupun psikis, secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun begitu, bukan berarti orangtua harus bersikap terlalu keras dan antipati, karena tidak dipungkiri sosial media pun memiliki manfaat tersendiri yang tidak kalah penting. Orangtua hanya perlu berhati-hati dan berfikir lebih panjang sebelum bertindak. Tentu orangtua tidak ingin menjadi pengundang bahaya bagi anak, bukan?

Disalin dari tulisan Sayidah Rohmah di http://kesehatan.kompasiana.com (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL