Gaya berbanding lurus dengan tekanan dan berbanding terbalik dengan area (gambar : anggavantyo.wordpress.com)

Gaya berbanding lurus dengan tekanan dan berbanding terbalik dengan area (gambar : anggavantyo.wordpress.com)

LiputanIslam.com — Tadi saya bercanda dengan teman FB saya, kami se-almamater, tapi angkatannya jauh di bawah saya, alias dia masih junior banget. Tapi meski saya jauh lebih tua, tak berarti saya gak bisa belajar dari dia. Teman saya itu menulis di statusnya kenapa netter sekarang mudah sekali emosi, apakah stress karena kebanyakan beban, sehingga mudah nyolot. Kami saling berbalas komentar guyonan, akhirnya teman saya memberikan kata-kata yang pernah saya terima melalui gambar broadcast BBM : “Menurut hukum Fisika : tekanan berbanding lurus dengan gaya. Kalo hidupmu penuh tekanan, berarti kamu kebanyakan gaya.” Saya ngakak membaca kalimat itu, sekaligus membenarkannya.

Sudah lama saya berpikir, para tersangka koruptor yang sudah mengenakan jaket putih (dulu) atau rompi orange, dibawa keluar masuk dari rutan KPK ke Gedung KPK untuk dimintai keterangan, biasanya tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangan kepada para pencari warta. Ada juga yang lebay, suka memacing perhatian insan pers dengan pernyataannya, seperti Nazaruddin dan seterunya Anas Urbaningrum. Banyak orang merasa eneg dengan perilaku koruptor yang justru cengengesan dan melambai-lambaikan tangan. Awalnya saya ikut muak, tapi lama-lama saya pikir, apakah mereka berpura-pura enjoy, bergaya santai bahkan cenderung lebay, apa bukan karena justru sedang berupaya menetralisir tekanan dalam dirinya? Bu Miranda Goeltom yang bergaya dengan jaket putih bertuliskan KPK segede gaban, yang beliau kenakan bersama asesories berupa ikat pinggang lebar dan krah baju yang dibuat berdiri, apakah gayanya itu juga untuk menampik kesan dirinya sedang tertekan? “I am fine, meski berbaju tahanan saya bisa tetap modis, kok,” seolah itu pesan yang hendak disampaikannya ke publik.

Mumpung sedang ngomongin ilmu fisika yang dipelesetkan, sekalian saja saya teruskan. Dalam ilmu fisika ada yang namanya gaya sentrifugal dan gaya sentripetal. Ketika kita naik bis yang menikung sangat tajam dan kecepatan bis cukup tinggi, maka akan ada gaya yang membuat tubuh kita seakan terlempar. Maka, otomatis kita pun ada memiringkan badan ke arah sebaliknya untuk menetralisir tekanan itu. Begitupun para pembalap yang memiringkan motornya ke dalam orbit lintasan balap, untuk mengimbangi gaya sentrifugal. Artinya : segala sesuatu di dunia ini sebetulnya berusaha mencari titik kesetimbangannya. Tekanan kuat yang menimpa akan dilawan dengan gaya yang berlawanan. Tanpa disadari, itulah yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Artis/selebritis yang rumah tangganya dikabarkan goncang, biasanya justru akan pamer kemesraan yang berlebihan. Tapi tak lama, keduanya tampak sedang menghadapi sidang perceraian. Politisi mungkin lebih sering menunjukkan paradoks. Ketika 1-2 hari yang lalu berkata tak akan begini, hari ini justru begini; kalau hari ini bilang tak mungkin begitu, besok bisa saja begitu yang dilakukannya. Ini berlaku baik ketika mereka berbicara sebagai individu maupun kelompok. Sebab, hidup menjadi selebriti dunia hiburan maupun tokoh dunia politik, keduanya sama-sama jadi bintang panggung yang sarat dengan beban dan tekanan. Maka, banyak “gaya” justru adalah bagian dari upaya meredakan ketegangan dan mengurai tekanan.

Tekanan berbanding lurus dengan gaya, tapi berbanding terbalik dengan area. Makin kecil (sempit) area, akan makin besar tekanan. Itu kalau gaya diasumsikan tetap (konstan). Tapi kalau tekanannya yang konstan, sementara area makin sempit, maka gayanya akan semakin besar.

Beberapa hari lalu Bung Pebriano Bagindo menuliskan pengalamannya antri tiket kereta api, persis di loket sebelahnya, seseorang dengan gayanya yang sok kuasa mengancam penjual tiket untuk memastikan ia mendapat tempat, sambil menyebut nama profesinya : “awas kalau tidak, akan saya tulis nanti. Saya ini wartawan! Paham?!” Cerita lucu yang sebenarnya kerap kita jumpai. Ada oknum berseragam atau oknum pejabat yang suka sok kuasa membentak bahkan berlaku kasar. Semisal penumpang pesawat yang diminta mematikan ponselnya – yang tak lain pejabat daerah – lalu setelah turun dari pesawat ia menampar si pramugari. Kedua contoh oknum itu sebenarnya mewakili hukum “tekanan, gaya dan area” di atas. Lho, kok bisa?!

Ya, kalau saja si wartawan itu memang benar wartawan senior dari sebuah media besar yang populer, dia mungkin tak perlu main ancam. Cukup amati saja, begitu ternyata tiket yang dijual tak sesuai kondisi tempat duduk, tinggal tulis di medianya, tak perlu mengancam. Toh ketika medianya dirilis, dampaknya akan langsung dirasakan PT. KAI. Atau si pejabat daerah yang mungkin hanya ngetop di seputaran instansinya di kota tempat kerjanya saja, maka ia perlu menunjukkan “power” yang dimilikinya ketika pesawat sudah mendarat di daerahnya, dengan menghadiahi tamparan. Seolah ia hendak berkata “kamu belum tahu siapa saya, hah?!”

Kedua orang itu area kekuasaannya sempit, jadi gayanya luar biasa. Coba kalau orang yang sudah ngetop se-antero tanah air, dia tak perlu mengumumkan siapa dirinya atau menunjukkan betapa berkuasanya dia. Bob Sadino mungkin saja datang memakai sandal jepit dan celana pendek, rambut awut-awutan, naik sepeda, lalu masuk ke hotel bintang lima, tapi mulai dari penjaga pintu sampai resepsionis tergopoh-gopoh menyambutnya. Meski tampil apa adanya, semua orang tahu “siapa” dia. Tak perlu Bob Sadino berteriak “Hey! Kalian gak tau siapa saya?! Saya ini pengusaha sukses yang kaya raya, paham?!”

Semakin seseorang populer, semakin luas pengaruhnya, semakin hebat pencapaiannya (achievement) otomatis akan semakin besar pengakuan, pengenalan, penghargaan (recognition) orang lain terhadapnya. Sehingga ia tak perlu lagi membuat pengakuan sendiri atau membesarkan pengakuan tentang dirinya melalui ucapan maupun tindakan, seperti oknum wartawan dan oknum pejabat daerah tadi. Semakin seseorang merasa perlu membuat pengakuan hebat tentang dirinya, berusaha memberi kesan agar orang lain tahu bahwa dirinya hebat, justru sebenarnya menunjukan bahwa area aktualisasi dirinya semakin sempit. Sehingga gayanya makin belagu. Atau tekanan hidup yang dialaminya makin besar. (Tekanan = gaya/area, jika area kecil, maka gaya dan tekanan besar).

Karena itu dalam hierakhi kebutuhan hidup manusia seperti diteorikan oleh pakar psikologi humanistik asal Amerika, Abraham Maslow, pada level ke-4 kebutuhan manusia adalah esteem need (kebutuhan akan harga diri). Kebutuhan harga diri ini ada 2 macam, pertama : kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian; kedua : kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain (Wikipedia). Pencapaiannya pun ada 2 tingkatan kategori, yaitu kategori eksternal, berupa pujian, piala dan piagam penghargaan, tanda/bintang jasa, hadiah dan lain-lain yang bersifat materi dan datang dari luar dirinya. Sedangkan yang telah berhasil melampaui semua itu akan masuk pada kategori internal yang sudah lebih tinggi lagi. Pribadi yang sudah mencapai tingkatan ini tak lagi memerlukan pujian atau penghargaan dari orang lain untuk bisa merasakan kepuasan dalam hidupnya.

Nah, kalau diseret ke hukum fisika tadi, maka seseorang yang area aktualisasi dirinya sudah luas, hatinya sudah lapang menerima keberadaan dirinya sendiri apa adanya, mampu bersahabat dengan takdirnya, maka ia akan bisa meminimalisir tekanan dalam hidupnya sehingga tak perlu lagi bergaya selangit, hanya untuk mendapatkan pengakuan dari eksternal. Orang seperti ini bahkan tak merasa perlu hirau lagi orang akan mengiranya seperti apa. Meski orang memandang rendah dirinya dari sisi atribut duniawi, dia tak akan merasa rendah atau kecil, tidak pula merasa perlu untuk memamerkan pada orang lain atribut duniawi yang disandangnya. Seperti pepatah kuno : padi semakin berisi akan makin merunduk. Jadi kalau kelihatan berisi tapi tak juga merunduk, mungkin isinya dimakan wereng, padinya ‘kopong’ alias tak berisi.

Makin besar pengingkaran diri seseorang atas kondisi diri yang sebenarnya, semakin besar tekanan yang dia alami, setidaknya tekanan dalam diri sendiri, sebab membohongi diri sendiri itu justru paling berat. Dan seperti kalimat bijak yang pernah saya dapatkan “Kamu bisa saja membohongi seseorang selamanya. Atau membohongi banyak orang pada suatu ketika (satu saat). Tapi kamu tak akan bisa membohongi banyak orang selamanya”. Itu sebabnya, semakin banyak kita berbohong, makin sering berbohong, makin banyak yang dibohongi, sebenarnya beban hidup kita makin berat. Beban berat berarti tekanan makin berat. Karena tak mungkin kita mengijinkan orang lain tahu kebohongan kita, maka akan makin sempit sebenarnya area hidup kita karena terlalu banyak yang harus ditutupi dari orang lain. Nah, tekanan makin besar, area makin sempit, maka yang muncul ke permukaan adalah gaya yang selangit. (ba/LiputanIslam.com)

Disalin dari tulisan Ira Oemar di http://kesehatan.kompasiana.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL