Tokoh Sandy Cheeks. Gambar dibawah adalah yang ditayangkan di stasiun TV Pooya Iran

Tokoh Sandy Cheeks. Gambar dibawah adalah yang ditayangkan di stasiun TV Pooya. Foto: Ismail Amin

LiputanIslam.com — Ayah dan Bunda tahu Sandy Cheeks, tupai betina dalam kartun Spongebob Squarepants? Iya benar, ia adalah seekor tupai yang lincah dan cekatan dan tinggal di dalam laut. Karena Sandy merupakan binatang darat, kesehariannya di Bikini Bottom mengharuskannya memakai baju astronot yang berisi udara pada helmnya sehingga ia bisa bernapas.

Tempat tinggalnya adalah sebuah kubah akuarium kedap air dan berisi udara, dan saat Sandy sedang berada di dalam akuarium, maka ia akan mengenakan busana minim seperti bikini two piece. Wow, seksi ya? Ah tapi sepertinya tidak masalah, Sandy kan hanya tupai betina, hanya kartun semata, dan hal itu tidak berbahaya bukan?

Mungkin kita akan menjawab iya, namun tidak demikian halnya dengan di Republik Islam Iran. Di Negeri Mullah tersebut, penampakan Sandy diubah sedemikian rupa menjadi tupai betina yang sopan. Ia tampil dengan menggunakan baju longgar berwarna biru cerah, dan memanjang ke bagian bawah tubuhnya.

Seperti diketahui, Lembaga Sensor Iran memang menerapkan aturan super ketat agar bisa memberikan tontonan yang lebih sehat kepada masyarakat. Apalagi untuk acara televisi yang ditonton oleh anak-anak. Anak-anak memiliki daya ingat yang sangat bagus, sehingga mudah ‘merekam’ berbagai peristiwa di dalam memorinya. Lantas, apa yang akan terjadi manakala yang terekam adalah hal-hal yang berbau pornografi, seperti tubuh yang hanya berbalut bikini?

Dari laporan kompas.com, Randall F Hyde PhD dari Department of Clinical Psychology, Brigham Young University, Amerika, mengatakan, terdapat perubahan-perubahan pada anak yang mengalami masalah dengan pornografi, seperti depresi, mudah tersinggung, menarik diri, dalam berbahasa menjadi lebih mengarah pada seks, dan mengisolasi diri.

Parahnya lagi, menurut Randall jika si anak menjadi pecandu pornografi, hal tersebut akan menjadi faktor yang menentukan untuk membentuk kehidupannya. Adiksi (ketergantungan) terjadi jika kebutuhan itu harus dipenuhi secara reguler dan pengurangan tak lagi dapat ditoleransi. Pengidap adiksi tak dapat merasakan kesenangan normal dan harus mendapatkan ”candu”-nya agar dapat senang kembali.

”Saat itu, seseorang ingin berhenti, tetapi tidak bisa,” ujarnya.

Namun, menurut Randall, kecanduan pornografi dan keseimbangan fungsi otak dapat dipulihkan melalui berbagai terapi dan biasanya tidak dibutuhkan obat-obatan.

Guna menangkal pornografi, pendidikan dan pola asuh juga sangat berpengaruh untuk melatih sistem direktori anak agar memahami kesehatan seksual, batasan-batasan, akuntabilitas, dan keamanan. Dan sepertinya, kebijakan Iran untuk memberikan batasan-batasan ‘aurat’ dalam tayangan di televisi adalah sebuah langkah yang tepat. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL