pengasuhan

Pola pengasuhan dan pendidikan anak

Dari kacamata psikologi perkembangan, yang dimaksud dengan anak-anak adalah di bawah usia dua belas tahun. Pada usia dua belas tahun ke bawah, umumnya pengetahuan anak masih terbatas pada hal-hal yang konkrit. Dalam kondisi seperti ini, seringkali fitrah anak tidak dikembangkan bahkan malah ditekan, karena sekolah dalam mendidik, lebih didasarkan atas kepentingannya daripada kebutuhan peserta didik. Padahal kita menyadari, fitrah bisa melemah dikarenakan kebiasaan buruk, sikap yang salah, atau tekanan kebudayaan. Selain itu, di sekolah guru lebih cenderung ‘mengobrol’ daripada mendidik, dalam artian, guru sekedar menyampaikan (menghabiskan) materi tanpa lebih jauh terlibat membantu siswa untuk menginternalisasikan sekaligus mengeksternalisasikan nilai-nilai yang telah dipelajarinya. Padahal tanpa dimensi tersebut pendidikan akan menghampa tanpa makna.

Psikologi humanis menegaskan bahwa dalam pendidikan, perspektif anak akan terkait langsung dengan proses belajar dalam dua hal. Pertama, diperolehnya informasi baru, dan kedua, personalisasi informasi tersebut. Jadi, adalah keliru menurut kalangan humanis, kalau guru atau orang tua beranggapan bahwa anaknya sudah belajar jika bahan pelajarannya disusun dengan rapi dan disampaikan dengan bagus, sebabnya adalah karena arti dan maknanya tidak melekat pada bahan pelajaran tersebut ke dalam dirinya. Yang menjadi masalah dalam belajar ialah bukan bagaimana bahan pelajaran itu disampaikan, tetapi bagaimana membantu murid memetik arti dan makna yang terkandung di dalam bahan pelajaran tersebut pada kehidupan mereka.

Kritik tersebut dirasakan tepat disebabkan pendidikan kita cenderung menempatkan siswa sebagai gelas kosong yang terbuka dan siap diisi oleh apapun tanpa ada kesempatan untuk menyaring apalagi mempertanyakan bahannya. Dan keberhasilan dianggap tercapai bila siswa mampu mereproduksi ingatannya dalam kertas-kertas ujian yang menjadi standard evaluasi pendidikan, walaupun seringkali tidak dengan kejujuran alias ‘ngopek’ atau ‘nyontek’.

Bukankah kita menyepakati bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan tiga aspek kemanusiaan yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun kelihatannya, dua aspek belakangan kurang mendapatkan perhatian yang serius. Dominasi aspek kognitif dalam pendidikan sangatlah terasa, seperti misalnya hapalan yang sangat melelahkan dan menyita waktu tanpa sama sekali memahami apa yang dihapalkan, dan hukuman bagi yang tidak mampu menghapalkannya.

Bagi anak-anak yang tahap pemikirannya masih tergantung pada hal-hal konkrit, membutuhkan kejelian dalam proses pembelajaran, terlebih lagi, sifat ingin tahu anak-anak sangat tinggi sehingga sering timbul berbagai pertanyaan yang tidak disadari akan membawa konsekuensi fatal jika pendidik gagal dalam memberi jawabannya, sebab anak selalu mengikuti apa yang diterimanya dari lingkungan sekitar.

Memang sifat “membeo” anak-anak sudah menjadi suatu yang lumrah dalam proses pembelajaran. Anak selalu meniru berbagai ekspresi yang ada di sekitarnya, baik perkataan atau tindakan, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Hal ini berarti, jika suatu hal diajukan kepada anak-anak, maka ia akan melakukan sesuai dengan apa yang telah diterimanya tanpa menyadari baik dan buruk, tanggapan lingkungannya, manfaat dan hikmahnya, serta konsekuensi lainnya. Dengan demikian pengaruh lingkungan sebenarnya sangat memberikan dampak bagi anak-anak yang selalu terkondisikan dengan citra dari luar dirinya.

Melihat fenomena di atas, maka pendidikan bagi anak-anak perlu diformat sedemikian rupa agar apa yang diterimanya dapat sesuai dengan realitas sebenarnya. Dalam pengajaran, formulasi sistem pendidikan perlu secara terpadu diberikan agar tidak ada penyimpangan makna yang berakibat fatal bagi pembentukan kepribadian anak. Hal ini berarti, pengajaran mestilah mampu menyesuaikan antara materi pelajaran dengan fase-fase perkembangan jiwa anak serta kekhususan menurut minat mereka. Karenanya, penting sekali diketahui metodologi pendidikan yang sesuai bagi perkembangan jiwa dan minat anak, sehingga pola pengajaran lebih bisa ditentukan dan diarahkan menuju pada tahap-tahap perkembangan yang lebih matang.

Pada dasarnya, anak-anak memiliki daya imajinasi yang tinggi serta menyimpan pengetahuan-pengetahuan yang diyakini sekaligus dipertanyakannya di dalam benaknya. Namun karena keterbatasan informasi dan komunikasinya, anak mengalami kesulitan mengemukakannya secara verbal. Sebab itu, anak-anak lebih cenderung bertanya dengan lugu dan lucu segala imajinasi yang hadir dalam struktur psikologisnya yang unik. Saat anak mendapatkan penjelasan dan informasi dari alam sekitarnya, pikiran dan imajinasi anak menerawang tanpa limit (batas) yang dapat dipastikan. Akan tetapi, saat keyakinan yang terbentuk dibenak anak dikonfrontasikan dengan informasi-informasi baru, tidak jarang menghasilkan kebingungan anak disamping pemberontakan diri.

Dalam beberapa penelitian, ditemukan adanya tiga sikap anak saat menghadapi perbedaan antara keyakinan dan informasi baru yang diperoleh dari keluarga (orang tua) dan guru :

  1. Anak mengambil sikap kompromi yang acuh yaitu mengalah dan mendiamkan tanpa mempersoalkannya, karena takut adanya tekanan sosial yang nyata atau yang dibayangkan akan diterimanya. Misalnya, anak cenderung takut dimarahi, dihina, atau mendapatkan nilai rendah jika mempersoalkannya.
  2. Anak mengambil sikap complaince yaitu mengalah pada saat itu, tetapi tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh guru atau orang tuanya.
  3. Anak mengambil pilihan sikap memberontak yakni anak memilih untuk memperdebatkan keyakinan yang ada di benaknya dengan keterangan-keterangan berbeda yang diterimanya.

Jean Piaget, salah seorang psikolog yang meneliti perkembangan intelektual anak,[1] mengemukakan satu tesis penting, yaitu bahwa proses perkembangan kognitif ini terjadi secara gradual dan bercampur antara tahap sebelumnya dengan tahap berikutnya yang mencerminkan apa yang disebut Piaget dengan tendensi adaptasi (adaptation)[2] melalui dua mekanisme yaitu assimilation[3] dan accomodation.[4]Assimilation (asimilasi) dan accomodation (akomodasi) ini memberikan perpaduan yang harmonis dan penyesuaian diri disaat anak menyerap pengalaman-pengalaman baru untuk diintegrasikan dalam struktur psikologisnya yang pada dasarnya telah memiliki pemahaman dalam benaknya sehingga terjadinya perubahan pemahaman dan terbentuknya skema baru. Namun, menariknya, dari beberapa penelitian, ditemukan pada anak-anak, cenderung mudah menerima informasi-informasi yang baru, namun pada sisi lain tidak mudah baginya untuk meninggalkan keyakinan-keyakinan lama yang telah tertanam dalam benaknya.

Pola Pengasuhan Anak

Seorang anak ingin dihormati, ingin diajak bercanda, senda gurau, ikut dalam pertemuan-pertemuan, dan diperkenankan untuk mengemukakan pendapat dan argumentasinya. Namun, ini hal yang nyaris tidak dilakukan. Kebanyakan anak-anak tidak mendapatkan kesempatan yang cukup untuk berkomunikasi dengan keluarga (orang tuanya) atau gurunya. Ada empat pola pengasuhan keluarga, yaitu : pola otoriter, pola permisif (bersikap tidak acuh), uninvolved, dan pola pengasuhan yang otoritatif. 

Tabel 

Pola Pengasuhan Anak dalam Keluarga

 

POLA PENGASUHAN

CIRI-CIRI

Otoriter

–  Menekankan kepatuhan mutlak

–  Banyak aturan yang mengekang anak

–  Kontrol keluarga yang ketat

–  Anak nyaris tidak memiliki kebebasan

Permisif

–  Tidak ada kontrol yang ketat

–  Anak diberikan kebebasan untuk menentukan pendangannya sendiri

–  Minim dengan aturan-aturan baku

Uninvolved

–  Tidak peduli pada perkembangan pendidikan anak

–  Orang tua sibuk dengan kegiatan

–  Sangat jarang membantu anak dalam mengatasi kesulitannya

Otoritatif

–  Bersikap tegas, adil, dan logis

–  Senantiasa membantu anak dalam mengatasi kesulitan

–  Anak diberikan arahan dalam kebebasannya

Metode manakut-nakuti dan hukuman masih menjadi primadona keluarga dan sekolah dalam mendisiplinkan anak. Hal ini memang efektif digunakan untuk menghambat anak dari tindakan dan perilaku menyimpang, namun metode ini memberikan dampak mengekang kreatifitas anak dan menghambat perkembangan potensinya. Bahkan dalam beberapa kasus terlihat memberikan gangguan mental pada anak, seperti menciptakan rasa takut, traumatik, hingga kecemasan. Karena, penelitian mengungkapkan bahwa anak menganggap sebagian perilaku salah sebagai sebuah kewajaran, tanpa mengetahui sejauh mana dampak keburukan perilakunya akan berakibat fatal. Untuk itu keluarga dan sekolah mesti jeli dan teliti dalam menilai kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak sehingga bisa menentukan antara memberi hukuman atau hanya sekedar nasehat.

Pernah seorang ibu sedang mengajarkan bersepeda kepada anaknya yang berusia 4 tahun di halaman rumahnya. Setelah pintar menaikinya, ibunya berkata kepadanya, “Kamu boleh bersepeda di jalan di depan rumah, tapi tidak boleh melewati tikungan”. Bocah kecil itu keluar dari pintu rumah untuk bermain dan seperti yang dilihat ibunya, langsung mengendarai sepeda roda tiganya ke jalan, lalu menuju tikungan. Sang ibu berlari mengejar dan memarahinya karena bersepeda sampai ke tikungan. Sekali lagi sang ibu mengingatkan, “Kamu tidak boleh bersepeda sampai ke tikungan, kalau kamu melakukannya lagi, kamu harus masuk ke dalam rumah.”. Kali ini si bocah kecil mengendarai sepeda roda tiganya di depan rumah selama beberapa menit; setelah itu, sekali lagi, si anak mengarahkan sepedanya ke jalan dan menuju tikungan. Ibunya kemudian berlari mengejarnya lagi dan dengan marah berteriak, “Kenapa kamu tak mematuhi ibu? Ibu sudah bilang, tak boleh bersepeda ke tikungan.” Si bocah kecil memandang ibunya dengan mata terbelalak dan bibir bergetar, lalu bertanya, “Tapi mom… apa itu tikungan?” Sang ibu yang menghukum anaknya tak pernah menyangka bahwa kata yang diucapkannya berkali-kali tak memiliki arti bagi si anak.(CR/liputanislam.com)


[1] Jean Piaget menyebutkan bahwa anak usia sekolah 6/7 tahun sampai 11 tahun, secara kognitif memasuki tahap perkembangan operasional konkret (konkret operasional). Selama tahap ini anak-anak memperoleh pemikiran-pemikiran baru dalam menghadapi kenyataan-kenyataan yang ada. Pada tahap ini juga bercirikan prinsip reversibilitas yaitu anak mulai mampu berpikir secara terbalik (menghitung mundur), sekaligus mampu memperhitungkan sekian aspek dari suatu kejadian sehingga bisa memperkirakan kemungkinan dan mengantisipasi kejadian. Dalam memecahkan masalah, anak-anak cenderung mengandalkan coba-coba (trial and error) daripada memikirkannya secara sistematis dan menyeluruh. Di usia 11/12 tahun anak mulai memasuki tahap operasional formal dan kemampuan berpikir logis mengenai konsep-konsep abstrak. Lihat Jean Piaget, Antara Tindakan dan Pikiran(Jakarta : Gramedia, 1988), hlm.68-69.

[2] Adaptation (adaptasi) adalah kemampuan kognitif dari organisme untuk mencocokkan pengalaman pribadinya dengan lingkungan sekitar yang mempengaruhinya.

[3] Assimilation (asimilasi) adalah proses biologis dan psikologis di mana unsur-unsur ekstern, data-data lingkungan sekitar dan pengalaman baru diterima dan dimasukkan (inkorporasi) oleh organisme ke dalam seluruh dirinya sedemikian rupa, sehingga hal baru yang dimasukkan itu disesuaikan dengan skema-skema aksi atau struktur-struktur mental yang telah ada dalam diri individu atau organisme. Dengan mengasimilasi dunia luar, mak organisme hidup dapat mengembangkan diri.

[4] Accomodation (akomodasi) adalah perubahan adaftif dari skema-skema tindakan atau struktur-struktur kognitif yang telah ada dari suatu organisme hidup sebagai hasil pengalaman baru untuk menyesuaikan diri kembali kepada tuntutan-tuntutan baru dari unsur-unsur ekstern (kenyataan baru, situasi baru, dan sebagainya). Akomodasi adalah perubahan dari informasi dan tindakan yang baru untuk membentuk skema atau pola mental baru.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL